To Love

To Love
Burung Merpati



Ternyata Hideakou hanya ingin menggantikan Headset yang telah rusak karenanya.


"Aku terpaksa membelinya!. Kirei memaksaku untuk menggantinya. Aku tidak ingin kau berterima kasih padaku." Ujarnya dengan raut wajah sombong.


Aku yang mendengar ucapannya seketika mengerutkan dahiku.


"Apa?, terima kasih? Tentu saja tidak akan. Untuk apa aku berterima kasih padamu." Ujarku.


Tanpa aba-aba aku langsung mengambil Headset yang berada di atas telapak tangannya sembari memberikan raut wajah kesal.


"Headsetnya aku ambil. Katakan terima kasihku pada Kirei. Aku ingin pulang." Ujarku.


"Baguslah, jika kau pulang. Rasanya tidak ada gadis sepertimu lagi di kelas." Ujarnya dengan santai.


Perkataannya langsung membuatku menoleh ke depan kembali dengan raut wajah pasrah dengan sikapnya.


"Terserahmu!." Ujarku.


Aku pun telah berada di halaman sekolah. Hideakou ternyata masih sempat berteriak padaku. Walaupun begitu aku tidak sama sekali ingin menoleh ke arahnya.


"Kau ini sama sekali tidak mengerti perkataanku!." Ujarnya.


Kakiku terus melangkah hingga aku menemukan taman yang biasanya menjadi tempat untuk bersantaiku.


"Akhirnya." Ujarku.


Aku mendudukkan diriku atas ayunan yang tidak bergoyang. Headset yang diberikan Hideakou langsung aku kenakan.


"Untung saja dia lebih cepat mengganti milikku," gumamku.


Tiba-tiba angin berubah menjadi sangat kencang namun juga lembut tersentuh. Dedaunan seperti terhempas ke atas tanah, dan tanah seperti bergertak mengeluarkan serpihan pasir yang akan terbang. Tanganku langsung merenspons untuk menutupi wajahku.


"Akhh. Kencang sekali anginnya."


Ternyata gerombolan gadis seumurku melangkah begitu saja di seberang jalan. Hal yang mengejutkan bagiku ketika melihat salah satu siswa yang merupakan siswa di kelasku. Ia selalu terlihat diam, dingin, dan tidak ingin berusaha dekat dengan lainnya. Aku juga tidak mengetahui namanya


"Sepertinya kemarin aku melihatnya. apakah dia bolos? Sepertinya aku yang terlihat bolos." Ujarku.


Mereka terlihat gembira. Aku bisa menebak gerombolan gadis seumurku itu hanya ingin bersenang-senang seperti berbelanja, ataupun melakukan hal yang diinginkan mereka.


"Memang seharusnya aku tidak ikut campur." Ujarku.


Entah mengapa dengan melihat mereka perasaanku seperti sedih. Aku mulai menundukkan kepalaku, dan berusaha tidak melihat mereka.


"Begini saja lebih baik," gumamku.


Aku merasakan tanah menerbangkan pasirnya. Dunia ini sangat terasa sepi bagiku ketika diriku sendiri bisa mendengarkan tiupan angin melewati daun telingaku.


"Hei!. Sepertinya kau bolos juga ya!" Ujar salah satu dari mereka.


Wajahku spontans untuk menoleh ke arah suara yang sangat dekat denganku. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku kembali. Seketika aku pun melepaskan Headset yang melekat di daun telingaku.


"Maaf!, apa saya mengenal kalian?" Ujarku.


"Kalau dilihat dari seragam sekolah, kau dan Mitsuko satu sekolah!." Ujarnya.


"Mitsuko? Aku tidak mengenalnya. Aku hanya tahu, jika rupa wajahnya terlihat di kelas kemarin. Jadi namanya Mitsuko." Ujarku dengan tersenyum.


Aku berpikir, jika berpura-pura tersenyum dan berbalas dengan nada lembut akan diperlakulan selayaknya.


"Aku tidak terlalu peduli. Apa kau benar-benar bolos?" Ujar Mitsuko.


Tiba-tiba aku merasakan, jika ayunan yang aku duduki sedikit bergoyang. Pikiranku terus mencoba berpikir postif tentang mereka.


"Tentu saja tidak!. Aku mengambil surat izin sakit. Sepertinya Mitsuko berhubungan baik ya dengan sekolah lain " Ujarku.


"Wah!,dia terlihat seperti ingin akrab dengan kita Haruka!." Ujar salah satu yang lain dari mereka.


"Ouh. Terserah dia!. Apa kau punya uang lebih untuk disumbangkan ke kami?." Ujar Haruka.


"Benarkah kalian akan menyumbangkan uang kalian?Tenyata kalian kelompok yang baik ya." Ujarku dengan tersenyum.


Suara decitan tawa mulai kelar dari mereka. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku. Ayunan yang aku duduki juga terasa semakin bergoyang.


"Pfft. Dia bilang kita kelompok baik." Ujar Mitsuko sembari tertawa.


Aku mulai menoleh ke arah belakangku, agar dapat mengetahui seseorang yang telah menggoyangkannya.


"Hei!, hentikan!." Teriakku.


"Berikan sumbangan dulu untuk kami!." Ujar Haruka.


"Apa? Untuk kalian? Kalau begitu aku tidak ingin memberikan uangku pada kalian." Ujarku dengan raut wajah kesal.


Seketika ayunan itu didorong dengan kencang. Sungguh saat itu aku merasakan tubuhku yang akan jatuh ke depan karena laju yang sangat cepat.


"Hentikan!. Aku bisa jatuh nanti!" Teriakku.


Mereka tidak memperdulikannya. Namun penyakitku kambuh kembali. Penyakit itu terkadang bisa menjadi keuntungan bagiku.


Angin kembali seperti bersiul padaku. Aku mencoba tidak fokus ke arah mereka, dan melihat langit yang biru di pertengahan hari itu.


"Sepertinya ini terlihat lebih baik. Aku memang harus tidak perlu memperdulikan mereka," gumamku.


Tiba-tiba saja aku melihat sepasang burung merpati seakan sedang bermabuk ria dengan kasih sayang yang mereka tunjukkan padaku.


"Ouh astaga. Apa yang dilakukan kedua  burung itu?," gumamku dengan tersenyum.


"Tunggu dulu!. Kenapa dia tersenyum begitu. Seharusnya dia itu menunjukkan wajah kesal atau marah!." Ujar Haruka.


"Memang gadis aneh!. Tidak ada bedanya dengan di kelas." Ujar Mitsuko.


Perkataan mereka seperti hilang terbawa angin. Aku seakan dibawa ke dunia lain, walaupun begitu aku masih bisa melihat kenyataan atau tidak.


"Sepertinya sebentar lagi mereka akan berhenti," gumamku.


Kedua burung itu tiba-tiba terbang ke arahku. Lebih tepatnya mereka terbang di atas kepalaku. Akhirnya kedua burung itu tidak memutariku kembali.


"Ouh apa yang akan dilakukan burung ini?," gumamku.


Sebaliknya mereka terbang di atas kepala gadis-gadis seumuranku itu. Terkadang saat aku melihat kedua burung itu mereka seperti tersenyum dengan penuh rasa kasih sayang.


"Apa burung itu memang sedang tersenyum padaku?," gumamku dengan tersenyum.


"Astaga!. Itu adalah kotoran burung. Sangat menjijikkan. Haruka! Diatas kepalamu ada kotoran burung!." Ujar Mitsuko.


Seketika saat mendengar suara berisk mereka, aku mulai sadar. Ternyata burung-burung itu bukanlah hasil penyakitku melainkan memang nyata. Tanpa aku sadar, jika aku telah berdecit dengan tawaku pada mereka.


"Pfft. Sepertinya ada karma untuk kalian!." Ujarku.


Anggota lainnya yang melihat Haruka pun panik. Mereka segera pergi untuk membersihkan kotoran yang berada di atas kepala Haruka.


"Kembali!. Ini memalukan!." Ujar Haruka.


Aku pikir mereka akan melepaskanku dengan tawa milikku. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka merampas Headset milikku yang berada di atas Rokku.


"Sebagai gantinya, kami akan mengambil Headset ini!." Ujar salah satu dari mereka.


"Apa?. Jangan lagi! Itu Headset terakhirku yang aku punya. Tolonglah berikan padaku." Ujarku.


"Tidak akan!. Bye!." Ujar Haruka


Mereka pun pergi tanpa lupa menunjukkan raut wajah kesal padaku.


"Apa itu juga salahku? Kenapa sebagai gantinya harus Headset? Orang-orang seperti itu memang tidak ingin kalah." Ujarku.


Tepat saja saat itu, aku melihat Arnius yang sedang ingin menuju ke taman. Arnius terlihat mengerutkan wajahnya ketika melihat beberapa gadis yang sedang dilanda kekesalan.


"Ada apa ini?," gumamnya.


"Hei! Kak Arnius!." Teriakku.


"Apa ada sesuatu hal yang terjadi? Kau juga terlihat sedih." Ujar Arnius.


"Tidak apa-apa kak!. Mereka hanya mengambil Headset milikku." Ujarku.


Arnius seketika memberikan raut wajah kesal. Namun itu semua bukanlah untukku melainkan karena Ia sendiri tidak dapat membantuku saat itu.


"Kenapa kau tidak berteriak padaku?. Aku bisa menghentikan mereka saat itu!. Tunggulah!, aku akan lakukan sekarang ini juga." Ujar Arnius.


Aku tidak ingin mencari masalah, dan menambah buruk situasi. Melihat Arnius yang Antusias membuatku tidak menginginkan Ia membantuku.


"Kak. Aku bilang jangan!. Reputasi kelasku bakal hancur!. Aku hanya ingin berteman dengan semua orang!. Ujarku


"Tenang saja." Ujarnya


Arnius tetap saja mencoba melangkah ke arah mereka yang sudah hampir jauh. Namun tepat saat Arnius mulai melangkah, tanganku langsung merensponnya untuk menarik tangan Arnius.


"Jangan!." Teriakku.


Sesaat memegang tangannya, rasanya jantungku berdetak kencang dikarenakan lembutnya tangan milik Arnius.


"Astaga," gumamku.


Arnius yang menyadarinya langsung menoleh ke arahku. seketika aku yang terkejut hanya bisa menatap matanya.


"Ya sudahlah." Ujar Arnius.


Matanya berwarna biru tua membuatku seakan melihat pancaran lautan pada sore hari. Lembunya kulitnya benar-benar membuatku mengira, jika Ia tersalin oleh bantal yang super lembut.


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa!." Ujarku.


Aku yang baru sadar langsung menepis tangannya dan tatapan wajahnya. Seketika Arnius pun hanya bisa terkejut melihat sikapku.


"Kau ini benar-benar lucu." Ujarnya.