To Love

To Love
Lembab



Aku pun langsung beranjak bangkit. Tiba-tiba saja Kou menarik tanganku, dan membuatku kembali terbaring diatas hamparan salju.


"Dengarkan aku dulu!." Ujarnya tegas.


Ucapannya yang dibumbui perasaan tegas itu membuatku menoleh kearahnya. Dan benar saja, alisnya turun seperti dalam perasaaan yang sedang kecewa, gelisah. Raut wajahnya benar-benar tidak dapat aku mengerti.


"Kenapa?. Gitarku jadinya gimana nanti. Kenapa sekarang?." Ujarku dengan wajah yang gelisah.


Tiba-tiba saja Kou melekatkan kedua tangannya di lenganku dengan tegas. Kou mulai mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Maaf, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu mau bagaimana lagi." Ujarnya dengan tegas.


Sesaat suara dari balik bibirnya keluar. Aku mulai sadar, jika percikkan warna-warni yang indah telah muncul dari sekujur pandangan yang terlihat olehku. Terutama dari warna matanya yang berubah menjadi warna seperti cokelat biasa.


"Ternyata perubahannya dimulai." Gumamku.


Warna dari putih salju semakin lama memudar. Namun Kou yang berada di hadapanku ini masih tidak hilang. Aku mulai sadar, jika hanya pakaiannya saja yang mulai berubah. Entah mengapa perasaanku semakin terasa bercampur aduk. Terutama tubuhku yang semakin lama bergetar, hingga akhirnya perubahan selesai. Aku akhirnya benar-benar telah kembali. Aku terkejut saat itu, ternyata yang dihapanku adalah Hideakou, dan dia berada di atas kasurku.


"Apa!, oh astaga kenapa kau disini?!." Teriakku tegas.


Seketika raut wajahnya berubah menjadi kaget dan bingung. Aku sangat kaget karena pria yang dihadapanku berada diatas kasurku. Dan Hideakou masih memegang erat lenganku saat itu. aku langsung dengan cepat melepaskan tangannya yang berada di lenganku.


"Lepaskan tangamu dari lenganku!." Ujarku dengan tegas.


Perasaanku saat itu sangat kecewa padanya. Aku mulai gelisah mengenai diriku sendiri.


"Pergi!, menjauh dariku!." Ujarku tegas.


Hideakou yang mendengar suaraku pun langsung bangkit dari kasurku. Ternyata Hideakou hanya mengenakan kain yang berupa celana pendek. Aku bisa melihat, jika dadanya yang masih terbuka.


"Apa kau gila!. apa yang kau mau?.Apa yang membuatmu tiba-tiba saja berada di kasurku?. Lalu, kenapa kau melepaskan bajumu, dan hanya mengenakan celana pendek?." Ujarku dengan tegas.


Aku pun langsung menutupi kedua bola mataku dengan telapak tanganku. Aku mulai tidak melihatnya. Aku pun kembali berbicara dengan suara tegas padanya, hingga Hideakou kembali mengenakan bajunya.


"Aku benar-benar tidak melakukan hal aneh!, benar!." Ujarnya dengan nada pelan.


Aku baru sadar, jika salah satu tanganku memegang selimut, dan menutupi bagian atas tubuhku.


"Aku tidak ingin penjelasanmu. Apa yang kau perbuat selama aku berada didalam imajinasiku?, bodoh!.


Aku tau, kau telah mengatakan padaku untuk tidak akan mencintaiku. Apakah ini hanya sebagai nafsumu?. Perbuatan seperti ini seperti seorang pria bodoh yang telah memangsaku, dasar bodoh!. Jangan pernah mendekatiku!. Jangan pernah berharap kau bisa berteman denganku!. Hal seperti ini bukan seperti hubungan pertemanan. Aku minta kau keluar dari rumahku." Ujarku dengan tegas.


Jariku yang masih menahan selimut membuatku sadar, dan ingin melirik kebalik selimut. Perasaan kesal datang padaku, terutama mataku yang masih melirik kearah balik selimutku. Aku mulai sadar, jika aku telah meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhku.


"Bagaimana bisa!. Oh astaga, kau!, kau!." Teriakku tegas.


Benar saja yang terselimuti oleh tubuhku telah berubah. Aku telah melihat, jika pakaian yang aku kenakan telah berubah, tidak seperti pakaian yang aku kenakan saat pergi ke rumah Kirei. Pakaianku yang terlihat adalah kaos mini dengan celana pendek. Seketika aku langsung semakin gelisah. Suara dari bibirku semakin pecah.


"Aaa.., Hideakou kau mengganti pakaianku, kau pasti melihatnya. Hideakou, kau memang pria gila yang berada diluar sana. Kau benar-benar pria yang menjijikkan. Aku minta kau keluar dari sini. Aku bilang keluar dari sini."  Ujarku dengan tegas.


Hideakou yang mendengarkan teriakkanku secara terus-menerus membuatnya terdiam. Hideakou hanya bisa melangkah untuk pergi. Terlihatlah raut wajah Hideakou yang kecewa, dan pasrah. Pada akhirnya aku menangis karena gelisah, dan takut dengan apa yang aku pikirkan saat itu.


Hideakou pun langsung melangkah. Akhirnya Ia telah berada dihadapan pintu kamarku. Namun Hideakou pergi masih meninggalkan kata-kata yang membuatku melirik kearahnya.


"Aku minta maaf hanya bisa membantumu seperti itu!. Oh ya, jangan lupa besok kita memiliku jadwal mata Kuliah yang sama. Dan jujur, aku benar-benar tidak melakukan hal yang aneh padamu. Sepertinya pakaianmu mulai lembab sebentar lagi." Ujarnya dengan wajah pasrah.


Bola mataku pun hanya bisa melirik kearahnya. Aku mulai tidak sadar, jika aku terus melihat kakinya yang mulai melangkah. Aku pun semakin tidak mengerti dengan suara yang diberikannya bersama ucapannya.


"Apa maksudnya membantuku?. Apa maksudnya semua kata itu?." Gumamku.


Aku mulai sadar, jika pakaian yang Hideakou kenakan terlihat lembab. Warna pakaiannya yang berada beberapa sisi terlihat gelap. Hal itu semakin membuatku percaya, jika pakaian yang Hideakou kenakan memang sedang lembab.


"Sepertinya pakaiannya lembab. Bagaimana bisa?." Gumamku.


Ternyata aku tidak sadar, jika setelah Hideakou pergi, aku telah mengeluarkan wajah gelisah padanya. G


Perasaan gelisah itu sendiri tidak dapat aku mengerti.


"Eh, apakah hujan?." Gumamku.


Kakiku beranjak turun dari kasur. Aku pun melepaskan selimut yang sebelumnya masih berada di antara jari, dan telapak tanganku. Tanpa aba-aba aku langsung membuka tirai yang berada dibalik jendela.


"Hujannya deras sekali." Ujarku dengan wajah gelisah.


Aku mulai sadar, jika aku tidak mengerti dengan perasaan. Namun aku berpaling dari perasaan itu. Aku hanya terus percaya dengan pikiranku yang mulai buruk terhadapnya.


"Huhh, aku tidak peduli, jika hujan atau tidak. Aku tidam suka Hideakou yang selalu mengacaukan pikiranku." Ujarku dengan tegas.


Suara hujan itu tidak terdengar dari dalam rumahku karena rumahku yang kedap suara. Aku kembali melangkah untuk menuju kamar mandi. langkah demi langkah mulai membuatku tidak ingin kembali mengingat situasi sebelumnya. Aku mulai sadar, jika pakaianku yang sebelumnya telah berada di samping kasurku.


"Bukankah itu pakaianku?." Ujarku dengan wajah penasaran.


Aku pun langsung beranjak untuk melangkah ke arah pakaianku. Aku mulai merasakan sekujur tubuhku tiba-tiba saja dingin. Ternyata lantai yang berada di dalam ruanganku telah bercak air. Aku mulai sadar, jika pakaian itu sudah basah.


"Terlihat seperti basah." Ujarku.


Jari-jariku mulai menyentuh pakaianku. Tepat saja tebakanku, jika pakaian itu sebenarnya memang basah.


"Bagaimana bisa basah?. Sebenarnya apa yang terjadi?. Apa kami memang berlari saat hujan?." Ujarku tegas.


Seketika pikiran burukku datang kembali.


"Tidak, aku yakin dia memanfaatkan situasi." Ujarku tegas.


Tiba-tiba aku merasakan dingin yang berasal dari tubuhku. Aku mulai merasakan, jika pakaian yang sedang aku kenakan telah membuatku merasa semakin dingin. Ternyata perkataan Hideakou sebelumnya memang benar.


"Dari mana asal lembab ini?." Ujarku dengan wajah penasaran.


Ternyata lembab yang muncul itu berasal dari bagian pakaian dalamku.