To Love

To Love
Berbeda



Saat itu aku hanya bisa terbawa suasana akan emosi kekesalanku. Semua itu karena Hide yang terus mempermainkan musikku tanpa memperlihatkan sosoknya sebelumnya.


"Ya.., ya kalo soal itu, mungkin karena kau tak menyambutku dengan permainanmu. Soal nama kau kan ini hanya imajinasi. Entah dari mana asalnya. Aku bisa mengetahuinya begitu saja!. Kau ini lupa ya!." Ujarnya dengan wajah sombong.


Wajahnya yang terus tersenyum, dan seakan hanya suatu candaan semakin membawaku pada suasana. Lebih tepatnya aku sedang menahan tawa karena Hide yang terus tersenyum. Aku juga nenahan rasa bahagia yang sebenarnya sedang aku tahan. Tentu saja, semua itu karena sebelumnya. Aku selalu sendirian di dunia itu, dan sekarang seseorang telah hadir di tempat yang selalu sepi itu.


"Hei.., hei.., bagaimana kau bisa berada disini?. Aku juga tak pernah memikirkan hal ini bakal terjadi. Apa-apaan ini. Aku tak terima ini!. Aku didalam imajinasiku. Semua itu punya kaitannya denganku. Kau siapa rupanya?. Apa hubungan denganku?." Ujarku dengan suara yang semakin tinggi.


Tanpa kusadari aku telah berbicara padanya dengan suara keras. Wajahku saat itu seperti tidak pernah aku tunjukkan pada dunia pertamaku. Wajah antara menahan rasa senang juga wajah kesal padanya sedang aku perlihatkan padanya.


"Ya, ya. Aku salah karena datang dari belakangmu!." Ujar Hide.


Akupun menarik nafas berkali kali, dan kembali mencoba meredakan suasana pikiranku.


"Hah.., huh..,." Suara nafas yang terus berganti.


Berselang beberapa menit menunggu. AkuĀ  telah meredahkan emosiku yang bercampur. Hide kembali berbicara padaku dengan suara santainya, namun kali ini Hide melangkah kearahku, dan semakin mendekatiku.


"Ini duniamu, dan ini imajinasimu. Semua ini adalah keputusanmu. Tenang saja ini bukan kenyataan. Maafkan aku yang tadi ya...,." Ujarnya dengan lembut.


Aku pun sadar bahwa semakin lama Hide mendekatiku, hingga sangat dekat.


"Apa yang kau inginkan?. Kenapa kau semakin mendekat kearahku?!. Ujarku dengan wajah bingung.


Tiba-tiba saja salah satu tangannya menghampiri pundakku. Ia membuatku terdiam, dan bingung akan reaksinya


"Sebenarnya apa yang ingin ia katakan sih?!." Gumamku.


Benar saja sekarang aku telah berada dihadapannya sangat dekat. Tatapannya yang terus semakin kuat dan tegas, telah membuatku semakin membalas tatapannya.


"Huh..,. Mungkin kali aku salah. Jadi bangun!. Bangun.., bangun.., bangun!. Kau tidak boleh terus berada disini!. Bangun!." Ujarnya, dan diakhiri dengan teriakan.


Teriakan itu, semakin membuatku bingung untuk merensponnya, karena ucapannya yang tidak aku mengerti. Seketika wajanya semakin buram seiring teriakannya semakin kuat. Baru aku sadar, suasana tiba-tiba saja berubah secara perlahan. Diiringi tatapannya dan wujudnya yang hilang bersamaan tiupan angin. Dan percikan cahaya yang sangat cepat hingga akupun tersadar.


"Triggg." Suara alarm.


Aku pun langsung terbangung. Dan aku langsung beranjak untuk mencoba untuk memberhentikan alarm.


Aku baru sadar jika aku terbangun, karena Hide. Seketika aku langsung melirik kearam jam. Dan ternyata aku terbangun pada waktu yang tepat untuk bersiap_siap.


"Huh.., huhh.. Kenapa sekarang, dia bisa berada didalam imajinasiku?. Sepertinya niatnya tadi tepat sekali. Untung saja." Ujarku dengan wajah datar setelah terbangun.


Dan inilah namanya gabungan antara mimpi dan imajinasi, karena imajinasi tak dapat memiliki selisi waktu saat telah sadar. Sedangkan ,mimpi yang terkadang membuatku tak sadar berapa lama disana.


"Ini mimpi atau Imajinasiku ya!?. Huh..,. Entahlah." Ujarku dengan wajah bingung.


Aku bersiap untuk mata kuliahku selanjutnya, tanpa mengharapkan seseorang menjadi temanku atau pun tidak.


"Yang penting tetaplah lancar, dan normal. Aku tidak terlalu penting mempunyai teman." Ujarku dengan wajah santai.


Warna-warni dari sebuah alat riasan pada wanita, dan perhiasan memperindah setiap inci para gadis. Tentu saja, aku juga menggunakannya secara sederhana, tapi sebagai hiasan hanya Headset dan Earphoneku lah yang bisa akumsebut sebagai perhiasanku untuk saat ini.


"Headset saja sudah cukup." Ujarku dengan tersenyum.


Aku pun memasangkan headset sekaligus memutarkan lagu kesukaanku dan membiarkan diriku terlelap pada suara yang keluar dari balik headsetku.


"Lagu ini sepertinya tepat!." Ujarku.


Akhirnya aku mulai berangkat. Aku membiarkan diriku melalui perjalanan yang tak lebih dari 1 jam lamanya. Kakiku pun telah menginjak lingkungan Kampus yang sangat banyak dihiasi bunga terutama Sakura yang sedang bermekaran dimusim ini.


Angin kencang menerbangkan dedaunan juga Bunga Sakura dan cahaya Matahari yang terus mengikuti langkahku. Suara dari musikku yang mengalahkan suara Manusia yang berada disekitarku, semakin membuatku merasa tenang.


"Lagunya terdengar bagus." Gumamku.


Tenyata aku telah melirik pada sepasang kaki yang setiap langkahnya menghasilkan bunga yang seakan bermekaran.


"Apa itu?."Ujarku dengan wajah Bingung.


Tanpa aku sadari ternyata penyakitku kumat. Namun kali ini berbeda, karena tak sepenuhnya aku memasuki dunia keduaku. Aku masih bisa melihat sekitarku yang nyata.


"Aku tahu pasti dunia yang nyata itu tak mungkin begini, Tentu saja ini imajinasiku." Ujarku tegas.


Aku pun terus melangkah menuju kelas. Ternyata Ia juga memasuki kelasku. Namun sesaat Ia mulai untuk duduk dan menoleh kedepan. Aku menyadari bahwa Ia adalah Hideakou dan Ia sedang memasang wajah kesal seperti hari sebelumnya.


"Hei...bodoh!!" Ujarnya sambil melambai.


Aku terpaksa memasakkan wajah kesalku padanya dengan terpaksa setelah mendengar ucapannya. Padahal yang aku ketahui Hide itu terlihat baik saat di duniaku yang kedua. Senyum khasnya tak seperti Hide yang sekarang berada dihadapanku.


"Kenapa sih dia?!." Gumamku.


Aku pun semakin kesal. Setelah aku baru menyadari, jika dialah orang yang berada di depanku sebelumnya, saat aku beranjak ke kelas.


"Bikin kesal saja!, kenapa juga aku baru sadar!." Ujarku dengan nada pelan.


Akhirnya aku dapat duduk walau masih berbalas wajah kesal padanya. Sembari menunggu dosen aku kembali menguatkan suara dari headsetku untuk mencegah Hide yang terus mengusikku.


"Aneh!, semua ini karenanya." Gumamku.


Tiba-tiba saja pria yang berada didepanku ini menoleh kearahku, dan itu tentu saja tidak lain adalah Hideakou. Kali ini ia terus memasang wajah buruk ataupun jelek padaku agar aku terus terusik dan membalas sikapnya.


"Hei!, lihatlah aku!." Ujarnya dengan nada gembira.


Aku pun terus berusaha memasang wajah datar dan kembali pada lirik lagu yang tampil pada ponselku.


"Apaan maksudnya itu?!." Gumamku.


Namun Ia terus berusaha membuatkuterusik. Kenyataannya aku sedang menahan tawa akan wajah-wajah aneh yang terus ditunjukkannya padaku. Aku pun terpaksa hanya bisa terus memandangi ponselku.


"Aku benci suasana seperti ini!." Gumamku kembali.


Akhirnya aku pun mengambil cara dengan menuliskan kata untuknya d isecarik kertas yang bertuliskan.


"Hei, apa maumu sih?. jika itu soal kemarin. Maaf ya!. Jika kau terus seperti itu, kau akan terlihat seperti seorang anak kecil" Isi teks.


Ternyata Hide berniat menjawab pertanyaanku, tetapi balasan itu tidak melalui kertas seperti yang aku lakukan.


"Dia ini memang tidak mengerti maksudku." Gumamnya Hide.


Tanganya tiba-tiba saja mendekati Headsetku, dan menariknya hingga membuat mataku yang sedang tertuju ke ponselku kembali kehadapannya


"Apa yang kau lakukan?." Ujarku dengan nada rendah.


Tangannya menahan salah satu tanganku membuatku terdiam sejenak. Hidepun mendekati wajahnya ke arah telingaku, dan membisikkan sesuatu kepadaku.


"Jadi jangan mengabaikanku!." Ujarnya.


Ternyata Hide mendekat ke arahku untuk berbisik kepadaku. Nada dari ucapannya tidak berbeda jauh dengan perkataan Hide yang aku temukan di dunia keduaku kemarin malam. Hanya saja kata-kata yang disampaikan Hide yang berada di hadapanku itu, lebih membuatku tertekan dan menusuk.