To Love

To Love
Tidak!



 


***Hati memiliki perasaan, dan hati adalah kunci untuk membuka segalanya. Membuka hati akan membuatmu melihat dunia, jika dunia itu benar-benar berwarna.


Jika kau tidak dapat melihatku, berarti kau memiliki hati sepertiku. Hati yang tidak ingin menerima kenyataan dari kehidupanmu, itulah aku Miyuki***.


Arnius langsung memegang kedua bahuku, dan meninggalkan teman-temannya.


"Aku duluan ya. Jangan campurin urusanku ini. Pergilah!." Ujar Arnius.


Seketika semua teman Arnius meninggalkan kami berdua. Aku sudah jelas melihat sosok di balik Arnius.


"Kau seharusnya tidak memegang bahuku. Apa maksudmu bisa melihatku?." Ujarku.


"Aku tidak tahu. Sepertinya aku belum bertanya pada Dokter. Apa maksud semua ini?. Dan apa hubungannya denganmu?. Ujar Arnius dengan raut wajah panik.


"Aku tidak tahu." Ujarku.


Seharusnya aku mengatakannya dengan jujur sebelumnya, namun sudah terlanjur saat di Arnius kemarin membawaku Ke Kafe. Semua perkataanku telah diracik dengan kebohongan. Sekarang aku pun harus terpaksa melanjutkan kebohongan itu.


"Tunggu, siapa nama yang aku sebut tadi. Namamu, bukan?." Ujar Arnius.


"Ya." Ujarku dengan anggukan.


"Ya, siapa namamu tadi?. Aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba saja kembali hilang di pikiranku." Ujar Arnius.


"Arnius, menjauhlah dari bahuku!." Ujarku.


Tiba-tiba saja para wanita mulai melihat kami. Aku berpikir seperti sedang bermesraan dengan Arnius di sudut dinding. Aku pun langsung menolak bahunya Arnius.


"Apa kau tidak tahu, semua wanita-wanita melihat kita. Sebaiknya, tidak disini." Ujarku.


"Aku tidak peduli hal itu." Ujar Arnius.


"Kita baru saja berkenalan. Kau sudah memperlakukanku seperti ini." Ujarku.


Tangan Arnius tiba-tiba saja mendekat ke arah lenganku. Ia memegang ketat lenganku. Dan membawaku jalan bersamanya.


"Apa yang kau lakukan?. Orang-orang akan melihatnya. Bagaimana dengan wanita yang pernah bertemu denganku kemarin?." Ujarku.


"Kau tidak tahu tentangku. Diamlah!, dan ikuti aku." Ujar Arnius lembut.


Tangan Arnius mulai bergerak ke arah tengkuk leherku. Ia membuat kepalaku bersender di bahunya.


"Kau ini!, Apa yang akan dibicarakan orang-orang." Ujarku.


"Aku lelah dengan para wanita yang terus melirikku. Aku juga tidak menginginkan mereka. Mungkin dengan begini, mereka akan mengiraku telah mempunyai pacar." Ujar Arnius.


"Oo, alasanmu itu. Ingat!, kita memang tidak memiliki hubungan apapun." Ujarku.


Aku pun terpaksa mengikuti langkahnya yang tidak aku tahu kemana akan berhenti. Aku mulai sadar, jika aku sama sekali tidak merasa kesal. Dan aku mulai tidak mengerti mengapa aku tidak merasakan sesuatu saat bersamanya.


"Seharusnya aku tidak begini. Mengapa aku jadi mengikuti perintahnya." Gumamku.


Wanita, dan para pria yang melewati kami hanya menunjukkan raut wajah kecewa. Aku melihat mereka saling bertukar pikiran. Tiba-tiba saja aku tersentak saat mendengar salah satu dari mereka berbicara.


"Mereka sangat cocok, cantik, dan tampan. Hanya saja, aku tidak menyukai wanita itu." Ujar wanita berkaca mata.


"Mengapa?." Ujar wanita berambut pendek.


"Wanita itu sudah menjadi berita, jika dia sudah kurang waras. Aku juga melihatnya bertingkah aneh." Ujar wanita bermaca mata.


Seketika Mataku menatap pada satu arah. Pikiranku langsung buyar. Aku terus memikirkannya.


"Apa aku benar-benar menjadi percakapan di Kampus. Apa aku sebentaar lagi akan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Aku benar-benar tidak seperti itu." Gumamku.


Arnius yang melihatkh hanya melamun langsung menyentak bahuku.


"Kenapa?." Ujar Arnius.


"Tidak ada, bukan apa-apa." Ujarku.


Ternyata Arnius mendengar percakapan dari dua wanita itu sebelumnya. Arnius sebenarnya memang sudah mengetahui hal itu. Namun dia tidak memperdulikannya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Sepertinya aku tidak akan memperdulikan hal itu. Bolehkah kau ceritakan padaku?. Aku akan berjanji untuk menjaganya." Ujar Arnius.


"Apa?. Kenapa?. Apa kau akan mengangapku gila?. Lepaskan tanganmu dariku." Ujarku dengan raut wajah panik.


"Jangan!. Aku mohon!. Oh astaga, semua orang akan menganggapku gila." Ujarku dengan wajah panik.


Percikkan berwarna hitam itu bukan hanya ke arah wajah Arnius, melainkan ke seluruh pandanganku.


"Gelap. Dimana perubahan ini membawaku?." Ujarku.


Aku benar-benar tidak dapat melihat satu pun bentuk. Kegelapan itu membuatku benar-benar tidak dapat melihat tubuhku sendiri.


"Rasanya aku seperti di dalam cerita Horror saja. Aku tidak menyukai hal ini. Ini tidak nyata, aku tidak akan takut." Ujarku.


Kedua tanganku langsung meraba ke segala arah. Aku benar-benar mulai bingung akan ruang imajinasiku yang mulai aneh.


"Mengapa jadi seperti ini?. Apakah ini benar-benar imajinasiku." Ujarku.


Tiba-tiba saja karpet berwarna merah datang ke arahku. Karpet itu benar-benar bercahaya. Namun cahaya itu hanya untuk karpet itu. Cahaya karpet itu tidak membuat daerah lain mendapatkan cahaya.


"Kenapa karpet?. Apa aku pernah menginginkan hal seperti ini?." Ujarku.


Aku mulai menginjak karpet itu. Seketika jantungku berdebar sangat kencang. Suara mulai keluar dari segala arah.


"Apa ini?. Kenapa seperti ini?. Aku ingin pulang." Ujarku.


Rasa sesak, jantung berdebar membuatku ingin berlari menuju ujung karpet itu. Aku mulai sadar, jika di ujung karpet ada cahaya yang sangat besar.


"Apa aku harus ke arah itu, jika ingin kembali?. Memikirkan hal ini saja membuatku berpikir, jika aku di dalam cerita Horror." Ujarku.


Aku mulai melangkah, namun tiba-tiba saja datang Siluet dari sekitar karpet merah itu. Aku sadar, jika suara dari silut itu sangat berusik seperti sedang dalam pertengkaran.


"Siapa mereka?. Apa mereka melihatku?." Ujarku.


Aku mulai tidak memperdulikan Siluet yang datang dari sekitarku. Tiba-tiba saja, jantungku berdebar semakin kencang, terutama tubuhku bergetar tidak karuan. Sesak yang datang dari nafasku mulai menghambatku untuk melangkah dengan cepat.


"Akhhh, sakit!. Hentikan!, ini ruang imajinasiku. Mangapa ruang imajinasiku seperti ini?." Ujarku dengan raut wajah panik.


Aku terus melangkah dengan semua perasaan itu. Kedua tanganku menempel di atas dadaku. Suara dari Silut itu semakin terdengar olehku.


"Kembalilah!, kau harus pulang." Ujar dari sosok Silut pertama.


"Tidak, Aku hanya ingin dia. Kau bukan siapa-siapaku." Ujar dari sosok Silut kedua.


"Aku akan terus menunggumu. Aku akan ada hingga kau pulang!. Aku akan di sampingmu. Aku mohon peganglah tanganku Miyuki." Ujar dari sosok Silut pertama.


Aku mulai sadar, jika sosok Siluet pertama telah menyebut namaku. Entah mengapa seketika tubuhku bergetar tidak karuan. Sesak yang sebelumnya telah datang, semakin membuatku kesulitan bernafas.


"Akhhh tidak. Apa maksud semua ini." Ujarku.


Perasaan itu membuatku terduduk di atas karpet dengan kedua tanganku yang semakin kuat mengepal.


"Akhh sakit. Kembalikan aku. Aku ingin, jika aku tidak pernah memeliki kelebihan tentang imajinasi ini." Ujarku.


Tiba-tiba saja beberapa sosok yang sama seperti Siluet, atau sosok gelap sepert iArnius datang ke arahku. Mereka datang dari ujung belakangku.


Mereka berlari dengan terus memanggil namaku.


"Miyuki, Miyuki. Kembalilah!. Apa kau ingin terus di dalam kegelapan." Ujar salah satu mereka.


Mereka terus berlari, dan membiarkan diriku tertinggak dari mereka. Mereka seperti ribuan sosok yang sedamg berlari menuju cahaya itu. Suara yang timbul dari mereka sangat mengusikku. Terutama suara mereka yang sangat kuat, dan mendengung di telingaku.


"Miyuki!. Sepertinya kau tidak ingin berusaha membuka hatimu." Ujar salah satu dari sosok itu.


" Miyuki!, Miyuki!, Miyuki!." Ujar mereka.


Seketika mereka semakin membuat pendengaranku semakin kacau dengan namaku yang terus disebut-sebut.


"Apa?. Kenapa yang terus menyebut namaku?." Ujarku dengan wajah panik.


Kedua tanganku langsung menutupi bagian telingaku. Dahiku, dan tubuhku yang telah terduduk mulai menunduk. Dahiku telah menyentuh bagian Karpet itu. Kesakitan yang mulai terasa dari telinga, dan bagian lainnya mulai membuatku menangis.


"Hiks.., hiks.., hiks... Sakit!, hentikan." Ujarku.


"Miyuki!,Miyuki!, bangkitlah. Mengapa kau menangis." Ujar Arnius.


Ternyata aku telah kembali ke dunia nyataku. Aku mulai sadar, jika sesak dan telingaku yang mendengung telah hilang secara tiba-tiba.