To Love

To Love
Gagal Tenang



"Kak kita baru saja berkanalan dua hari. Kenapa kakak tiba-tiba menarikku?."


"Maafkan aku memaksa. Aku hanya ingin kau juga melihatnya." Ujarnya.


Arnius melepaskan tangannya yang telah menyentuh tanganku. Aku hanya bisa mengikuti langkahannya seakan teman yang sudah dapat dapat aku percaya.


"Sebenarnya kita akan kemana?" Tanyaku.


"Lihatlah saja." Ujarnya.


Ternyata Arnius membawaku ke jempatan yang di bawahnya merupakan kolam ikan.


"Ternyata disini. Untuk apa kak?." Ujarku


"Aku hanya ingin kau bisa menenangkan dirimu dulu." Ujarnya.


Arnius menatap ke arah kolam yang terkadang berbulir karena ikan-ikan yang lewat. Hal itu juga membuatku kembali bertanya padanya.


"Bukankah begini saja juga tidak perlu?" Ujarku.


Arnius tidak membalas perkataanku. Ia fokus melihat air yang sedikit tenang itu. Melihat tatapannya yang fokus seakan aku tidak dapat menggertaknya. Mata birunya menatap air yang sedang tenang itu. Sungguh cayaha matahari di siang hari itu memantul padanya.


"Dia benar-benar campuran. Aku belum saja bertanya tentang hal ini," gumamku.


Rasanya tubuhku seakan spontans untuk mencoba fokus melihat ke arah air tawar yang tenang itu.


"Aku bisa melihat diriku." Ujarku.


Seperti cermin memantulkan cahayanya. Aku melihat diriku yang dimana senyum, sedih, takut, kecewa, bahagia, dan gelisah terpantul di atas permukaan air itu. Semua itu bisa terlihat karena air yang terkadang bergetar pelan.


"Beginikah terlihat dari diriku?." Ujarku.


Arnius tersenyum, dan membuatku meliriknya. Ia sungguh terlihat bahagia. Pria itu benar-benar sudah seperti tidak mengganggapku orang yang baru berkenalan denganku.


"Aku senang ketika senyumanku masih terpancar. Miyuki, kau seharusnya tetap tenang!." Ujarnya kembali.


Rasanya aku hanya bisa tersenyum melihat Arnius yang berbicara seperti itu. Aku mencoba melihat kembali ke atas permukaan kolam itu.


"Haruskah seperti ini?. Rasanya aku benar-benar seperti meditasi," gumamku.


Akhirnya aku bisa fokus. Namun semua itu gagal kembali ketika suara pekerjaan bangunan yang tidak jauh dari tempat itu sangat terdengar. Terutama suara gesekkan, dan pemotongan melalui mesin.


"Grggggrrrggrgrg." Suara mesin.


"Bagaimana bisa dia lakukan itu?," gumamku.


Tiba-tiba saja suaraku itu semakin keras. Perasaanku mulai berantakan. Tibalah dimana penyakitku mulai kumat.


"Grrrrrrgrgrggggr." Suara mesin.


Aku melihat kolam itu berwarna hijau dengan lumut yang menutupinya. Ikan-ikan yang sebelumnya terlihat dipandanganku menjadi hewan hewan yang menggeliat di hamparan lumut itu.


"Aku tidak bisa menahan ini," gumamku.


Melihatnya saja aku sudah membuat kedua tanganku menutup mulutku. Aku mencoba terlihat normal, namun dengan kembali fokus ke atas permukaan kolam itu saja aku tidak bisa berani.


"Sebaiknya aku minta dia untuk menyelesaikannya," gumamku.


Tepat saja saat aku mulai bersuara, Arnius tiba-tiba saja memegang tanganku. Rasanya ia benar-benar seakan menyuruhku untuk tetap fokus.


"Huhh, hahh, huh. Bagaimana ini," gumamku.


Aku kembali untuk melihat ke atas permukaan kolam. Sebelumnya aku hanya memejamkan kedua mataku. Hingga pegangan Arnius sangat-sangat terasa lembut dan tidak tegang seperti sebelumnya.


"Kenapa aku harus mengikuti ajakannya," gumamku.


Kedua bola mataku mulai terbuka. Aku melihat hal yang sama sebelumnya. Aku langsung menutup mulutku karena mual yang tidak tertahankan. Hingga akhirnya Arnius benar-benar memegang tanganku dengan erat.


"Ada apa denganmu?. Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya


"Ya." Ujarku dengan keringat dingin yang jatuh.


Aku mencoba tidak mengikuti ajakannya. Dan melangkah menjauhinya. Seketika Ia pun menoleh  ke arahku dengan tatapan bingung.


"Sebaiknya aku pulang saja kak." Ujarku.


"Adakah masalah?. Apa aku melakukan kesalahan?." Ujarnya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin pulang saja. Mungkin Ayahku telah menungguku." Ujarku.


Walau aku tidak melihat raut wajahnya karena membelakanginya. Aku yakin, jika benar-benar memberi raut wajah bingung.