
Seketika perubahan dimulai. Namun tiba-tiba saja Arnius memegang kembali tanganku.
"Tunggu, dengarkan aku!. Arnius disana sepertinya bukan itu alasannya. bukan, seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Aku merasakan, jika dia benar-benar...." Ujar Arnius yang terpotong.
Arnius mengatakannya setelah angin bertiup, dan mulai membawanya bersama dedaunan yang terbang mengikuti arah mata angin.
"Arnius!, Arnius, Kau belum selesai mengatakannya!." Ujarku dengan wajah penasaran.
Seketika aku pun telah kembali ke dunia asliku. Kali ini aku terbangun di tengah bagian ruang tamu. Aku mulai sadar, jika aku bangun dalam keadaan berdiri.
"Huhh, bagaimana aku menyelesaikan ini semua. Bagaimana?." Gumamku.
"Aku hampir gila, jika begini terus." Ujarku dengan wajah kecewa.
Aku melirik ke arah jam yang tidak jauh dari ruangan tamu. Tidak perlu waktu lama, kakiku langsung merenspons untuk bergegas.
"Oh astaga, aku harus cepat!." Ujarku dengan wajah panik.
Akhirnya aku benar-benar telah siap untuk menuju Kampus. Perasaan panik mengalahkan angin. kakiku terbawa oleh suasana, tanpa berpaling untuk menoleh ke arah mana pun. Tanah yang terpijak seakan tidak meninggalkan jejak, hanya debu yang tidak terlihat. Akhirnya aku telah sampailah aku di koridor Kampus.
"Cepat, cepat!. Aku tidak akan terlambat." Ujarku dengan wajah panik.
Seperti berlari dikejar mangsa. Dan akulah sang mangsa, jika lambat aku benar-benar bisa mati. Tapi ini bukan tentang hewan, lebih tepatnya aku tidak diterima mengikuti mata Kuliahku.
"Aku pasti aman." Gumamku.
Akhirnya aku benar-benar bisa mendapatkan kesempatan dari keberuntungan. Aku memasuki ruangan, dan tidak melihat keberadaanya.
"Huhhh, akhirnya. Bisa gawat, jika aku benar-benar terlambat." Ujarku dengan wajah tenang.
Aku pun membiarkan kakiku melangkah dengan santai. Tepat saja sebelum berada di tengah ruangan, suara teriakkan datang dari barisan tengah.
"Heii, kamu terlambat!, kamu terlambat!. Untuk apa kamu datang lagi kesini!. Cari Dosen baik hati yang akan memberimu kesempatan. Saya tidak seperti itu!." Ujar sang Dosen tegas.
Tubuhku seakan mulai menggetarkan tulang rusukku. Bulu sekitar kulitku seakan tidak berhenti untuk terus berdiri. Rasanya rambutku seakan ingin ditarik oleh orang yang sangat kejam.
"Hah!." Gumamku.
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang dari sela telingaku. Angin itu mulai menghelus kasar kulitku.
"Akhhh,." Gumamku
"Miyuki!." Teriak seseorang.
Seketika pandanganku pun buyar. Seseorang seperti menepuk bahuku. Ternyata aku berada di balik lamunan. Semua itu terjadi karena rasa ketakutanku.
"Ya, ya maaf. Aku barusan berpikir buruk." Ujarku dengan wajah panik.
Aku langsung menggelengkan kepalaku ke arah berlawan berulang kali, dan mengedipkan kedua mataku berkali-kali.
"Miyuki, Miyuki!, ini masih pagi kau sudah melamun. Kau seharusnya tidak memikirkan sesuatu sampai kedalam-dalamnya!." Ujar Eiji dengan suara santai.
Ternyata yang sebelumnya menepuk bahuku adalah Eiji, jika diperhatikan sekelilingku, semua orang melirikku dengan wajah aneh. Namun aku tidak menghiraukannya, dan kembali melangkah sembari bertukar pikiran oleh seorang pria yang berada disebelahku.
"Miyuki, kemarinkan hujan. Apa kau baik-baik saja?. Apa kau pulang sendiri?. kau pulang dengan selamatkan. Bagaimana bisa ya hujannya tiba-tiba deras sekali." Ujar Eiji dengan wajah gelisah.
Sejujurnya aku yang tidak mengetahui hal itu. Aku pun terpaksa berbicara dengan berbohong.
"Yah!, aku baik. Oh ya, aku juga ditemani oleh seseorang, jadi kau tidak perlu khawatir!." Ujarku lembut.
Eiji yang tiba-tiba membahas hal itu, seketika membuatku teringat akan sosok Hideakou. Aku pun langsung melirik kearah mejanya, Namun benar saja dugaanku, Hideakou tidak hadir. Kemungkinan itu semua tidak lain, karena Ia pergi saat hujan semakin deras.
"Huhh, ini salahku. Padahal aku sangat ingin meminta maaf padanya. Akhh." Gumamku dengan wajah panik.
Aku pun langsung menghampiri meja dan kursiku. Namun sebelum itu, aku sangat ingin melihat wajah ceria Kirei. Ternyata Kirei masih memberikan wajah kesal di balik senyuman tipisnya. Ia sedang melirik ke arah seseorang yang berada disampingku, dan sesembari melirik kearahku. Seketika saja tatapanku padanya bertemu. Kirei langsung menoleh ke arah berlawanan dari wajahku.
"Kenapa?. Aku tidak mengerti?. Apa dia punya perasaan dengan Eiji?, jika iya pun, apa hubungannya denganku?. Mengapa Kirei semakin menunjukkan wajah kecewa padaku?." Gumamku dengan wajah gelisah.
"Huhh, Sebaiknya aku tidak perlu menyesuaikan diri. apa begini berteman dengan seseorang?, tidak adil." Gumamku.
Tentu saja semua itu tidak ada hubungannya denganku. Suasana, dan sikap Kirei semakin membuatku kembali memberikan sikap acuh.
"Terserahnya. Aku juga sudah terbiasa seperti ini. Apa salahku hingga Kirei memberikan wajah itu padaku?." Gumamku dengan wajah santai.
Seketika sang Dosen pun hadir, dan menghampiri kursinya. Aku dan lainnya langsung segera memulai mata Kuliahku pada hari itu. Aku pun sadar, jika pikiranku mulai di rasuki oleh macam-macam judul cerita.
"Akhh, seharusnya aku tidak mencoba dekat dengan Hideakou ataupun Kirei. Pada akhirnya yang terjadi hanyalah permusuhan." Gumamku.
Akhirnya jadwal mata Kuliahku pada hari itu telah selesai. Semua orang mulai beranjak untuk meninggalkan lokasi ruangan itu termasuk aku. Tepat saja saat aku mulai untuk bangkit dari kursiku, Kirei melewatiku sembari memberikan kata-kata yang sedikit membuatku kesal.
"Oh ya, siapa pipi yang merona kemarin ya?. Wah hebat!, aku sadar itu kau. Nanti beri kabar padaku, jika kau sudah pacaran." Ujar Kirei dengan tersenyum sangat licik.
"Apa-apan maksudmu!. Kenapa kau tidak langsung mengatakan saja pada Eiji, jika kau menyukainya?. Kau sama saja seperti mempersulit keadaan." Ujarku dengan tegas.
"Apa iya?. Lalu, mengapa kau terus merona saat itu. Kau terlihat sangat dekat dengannya seperti tadi." Ujarnya.
Kirei pergi melewatiku dengan meninggalkan kata-kata yang semakin membuatku kesal.
"Huhh, terserah dialah. Pada akhirnya dia bakal tahu." Gumamku.
Aku pun langsung beranjak menuju koridor Kampus. Aku juga tidak lupa memasangkan Headset, dan memutarkan lagu. Aku membiarkan diriku kembali tenang dengan lantunan Musik, hingga aku pun terlelap dalam kenyamanannya.
"Im standing here to look out of everything." Gumamku bernyanyi.
Aku mulai sadar, jika jauh dari arah ujung koridor telah terlihat sosok Arnius. Asap hitam yang menyelimutinya seperti mulai terbawa angin. Pakaiannya maupun warna rambutnya mulai terlihat. Aku benar-benar bisa melihatnya, termasuk mata campuran biru tua, dan hitamnya.
"Apa itu Arnius?. Bagaimana asap itu mulai menghilang?. Dia semakin mendekat." Gumamku dengan wajah penasaran.
Walau begitu aku tidak ingin menunjukkan sikap ketergesahan, dan membiarkan diriku melangkah santai.
"Asap gelap itu menghilang. Aku bisa melihatnya raut wajahnya." Gumamku dengan wajah santai.
Aku terus melangkah, dan mulai membuat kami sangat dekat, walau begitu Arnius tidak sadar, jika kehadiranku dari arah depannya. Arnius masih sibuk dengan teman-teman yang berada di sekitarnya.
"Sangat jelas!. Bagaimana bisa?." Gumamku.
Bagaimana bisa aku melihatmu?. Mengapa aku bisa sangat terharu?. Tapi bukankah kita belum memulai berbincang?. Lalu, apa perasaan ini?. Mungkinkah aku memiliki perasaan padamu?. Tapi kita masih belum memulainya. Sebenarnya, apa aku ingin sekali mengenal apa arti dari sebuah Hati?
"Arnius!." Teriakku padanya.
"Miyuki Chan, itu kau. Eh., bagaimana bisa aku menyebut namamu?." Ujarnya lembut.
Bagaimana tidak bentuk tubuh, raut wajah, pakaian, alis yang tegas, senyuman lembut seperti bayi, warna, dan lekukkan rambut benar-benar terlihat seperti sosok Arnius yang berbeda dari lainnya. Sosoknya sangat menawan.
"Deg."
Tatapannya datang kearahku. Kali ini aku benar-benar sedang menatap kedua bola matanya. Aku bisa sangat jelas melihat raut wajahnya yang sedang terkejut.
"Miyuki!, Aku telah melihatmu. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku menyebut namamu." Ujar Arnius.
*C****ast**i utama ini hanya sebagai contoh saja.
Miyuki***
Hideakou
Arnius