
Hari berikutnya, Wanda baru saja memakai baju seragam Polisinya, ia menatap cermin memperbaiki dan melihat penampilan jika ada yang kurang.
Wanda melangkah hendak keluar dari kamar namun sekejap dia melirik Reza yang masih tertidur dengan selimut menutupi hampir semua bagian tubuh, dengan enggan Wanda menghampiri Suaminya itu karena tidak bisanya Reza akan bangun terlambat lebih ini hari senin.
"Reza.. Bangun" kata wanda pelan.
Reza tidak bergerak sama sekali namun keringat mencucuri wajahnya, Wanda heran kenapa Reza menyelimuti tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Reza"
Ucap Wanda mulai curiga, Ia meletakkan telapak tangan ke kening suaminya..
"Ya, ampun.. Reza Demam, aku harus bagaimana."
Lirih Wanda panik dan Khawatir akan Reza yang tiba-tiba deman.
Wanda berlari keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil baskom dan air hangat untuk mengompres Reza. Wanita itu kembali dengan terburu bahkan ia sudah terlambat untuk ke kantornya.
Wanda duduk di samping Reza sembari memberikan kompresan supaya deman Raza berangsur menurun.
"Aku izin cuti saja"
Gumannya mengambil ponsel dari tas jinjin yang dia bawa kemana saja.
Perlahan Reza membuka mata, ia merasakan ada sebuah kain di atas keningnya.
"Apa ini..?" tanya Reza mengambil kain itu.
Wanda menyadari Reza sudah membuka mata langsung memberikan senyuman hangat.
"Kau sudah merasa baikan..?, Kau lapar..?"
Tanya wanda dan Reza menggeleng.
"Tunggu sebentar aku akan membuatkan bubur untuk mu"
Lanjut Wanda tidak menghiraukan penolakan dari Reza sama sekali..
"Aku tidak lapar, tidak usah"
Kata Reza menahan Wanda.
"Reza.. Aku ini bagaimana mau sembuh, Jika tidak mau makan.. hah"
Ucap Wanda menepis tangan Reza dan segera keluar menuju dapur untuk membuatkan setidaknya bubur untuk Reza.
Sepuluh menit kemudian Wanda kembali membawa semangkok bubur dan di berikan kepada Reza yang duduk bersandar dia atas kasur.
"Ini makanlah, baru kau minum obat"
Ujar Wanda menatap tajam kepada Reza.
Reza hanya melirik sekilas, dia ragu akan bubur buatan Istrinya itu, kemampuan Wanda di dapur jauh dari kata baik jadi sangat wajar bagi Reza untuk ragu.
"Kenapa kau diam saja"
Tanya wanda menyengir
"Bubur ini kau yang membuatnya"
Ucap Reza bersuara.
Wanda menghela napas kasar,.
"Makan saja, jangan khawatir akan rasanya Bukan aku yang membuatnya, tadi kebetulan ada tukang bubur yang yang lewat"
Jawab wanda sudah tau keraguan di wajah Reza..
"OH.. "
Reza lega, ia segera makan bubur ayam yang ada di depannya.
Wanda mengukir senyum di wajahnya, Walaupun Reza sering berkata tidak menyenangkan setidaknya Wanda masih bisa berguna sedikit di saat seperti sekarang ini.
Merasa terus di perhatikan Reza menjadi salah tingkah.
"Berhenti menatapku"
"Wanda kau tuli, aku bilang berhenti menatapku, kau di larang"
Pekik Reza membalas tatapan Wanda dengan wajah garang.
Ucap Wanda kini duduk di atas kasur.
Reza memakan bubur ayam itu dengan perasaan campur aduk, entah kenapa saat Wanda menatapnya hatinya bergejolak.
"Apa kau tidak pergi bekerja..?"
Tanya Reza memperhatikan penampilan Istrinya yang masih memakai baju seragam.
"Iya.. Aku ambil cuti, supaya bisa merawatmu"
Jawab wanda sponta..
"Terus baju..?"
Reza menunjuk baju Wanda.
"Aduh. Aku lupa menggantinya"
Wanda berguman lalu bangkit dari kasur menuju arah lemari pakaian.
Reza hanya terkikik, Wanda memang gadis yang ceroboh bahkan sangat pelupa. Dia sangat heran kenapa wanita seceroboh Wanda bisa menjadi polisi.
Reza baru selesai makan bertepatan dengan Wanda yang juga baru saja mengganti baju yang bisa dia gunakan sehari-hari saat di rumah.
"kau sudah minum obatmu..?"
Tanya Wanda sambil mengambil mangkuk kosong di atas meja.
Reza terdiam, Wanda menatap serius ke dua mata suaminya itu dengan curiga. Lantas wanda berdecak pinggang.
"Jangan bilang kau belum meminumnya atau kau takut dengan obat..?"
"Hemm"
Reza hanya melirik sekilas lalu memalingkan wajah.
"Reza!!!"
Teriak wanda kesal dengan suaminya. Ia mengeledah semua tempat mencari Obat yang di sembunyikan oleh suaminya.
"Hei..apa yang kau lakukan.."
Ujar Reza saat Wanda seperti orang sibuk.
"Obat.. ! Aku mencari obat, di mana kau menyembunyikannya..,hah. Reza Bodoh"
Pekik Wanda masih sibuk mencari obat.
Reza menarik tangan Wanda saat wanita itu dapat dia raih.
"Bodoh!, aku tidak bodoh, Yang bodoh itu kau, kau mencari obat ini"
Ujar Reza mengetuk kepala istrinya dengan cukup keras.
Wanda membuatkan mata, ternyata dia lupa bahwa kotak obatnya berada di tangan Reza sejak tadi. Ia mencoba tersenyum untuk menepis kebodohannya.
"Oh... Sorry, cepat minum obatnya, nanti kalau kau sembuh setiap hari aku akan membersihkan rumah dan mengurus keperluanmu setiap harinya"
Wanda berucap dengan penuh keyakinan di dalamnya, mendengar perkataan wanda Reza memegang kepala.
"Tidak perlu, takutnya kau membuat rumah ku semakin kacau"
Reza meraih gelas setelah itu ia meminum obat Penurun Deman.
Wanda mengangguk paham, lalu keluar dari kamar menuju dapur untuk mencuci mangkuk bekas Reza makan.
.
.
.
.
.
Tbc.. !!!
Up nya akan di usahakan setiap hari... 😍😍