
“makan yang banyak, bisa aku jamin kau akan ketagihan dengan masakanku” Ucap Reza dengan nada meledek lalu menyuap setu sendok nasi kedalam
mulutnya.
Wanda hanya diam setiap ucapan yang keluar dari mulut pria yang menjadi suaminya pasti sangat menyebalkan, ia menyuap makanan masuk kedalammulutnya tidak menghiaraukan setiap ocehan Reza sama sekali.
Reza menoleh sekilas, Wanda tampak sangat menikmati masakannya sebuah senyuman terukir jelas di wajah pria itu.
“kau kembalilah kekamarmu dan tidur, biarkan aku saja yang membersihkan meja dan cuci piring” Kata Reza setelah makan malamnya dan istrinya selesai.
“biarkan aku saja” tolak Wanda, ia mengambil piring kotor dan segera meletakaanya ke tempat yang sudah seharusnya. Reza mengehela napas Wanda terlihat lesu dan kelelahan melebihi dirinya saat ini.
“Wanda, biar aku saja” kata Reza lembut.
Wanda mengenduskan napas lalu menatap kedua mata Reza melotot seakan menantang suaminya itu, ia menjadi sangat bingung akan perubahan sikap Reza belakangan ini padahal sebelumnya pria itu sama sekali tidak pernah seperti ini.
Wanda meletakkan kedua tangannya di atas pinggang. “ Reza, kau jangan pikir bahwa aku tidak bisa mengerjakan hal gampang seperti ini.., sebaiknya dirimu yang kekamarmu dan istirahat bukan diriku, jadi aku minta berhentilah berlaku seperti ini, biarkan aku saja yang menyelesaikanmnya” katanya.
“Oh.., kalau begitu kita bersihkan bersama-sama saja” kata Reza.
“apa maumu?” Tanya Wanda.
“Tidak ada, sudahlah Wanda aku ssudah sangat lelah berdebat denganmu, sebaiknya kita lakukan bersama-sama supaya adil”
“ya sudah, terserah” Sahut Wanda ketus.
Keduanya mulai membersihkan meja dan mencuci piring kotor bekas mereka makan, Reza sesekali mencuri-curi pandang ke Wanda yang tampak sangat serius namun wajah penat istrinya itu tidak lepas dari pandangannya, Reza akui bahwa Istrinya itu sangat Cantik dengan rambut pendek sebahu warna kulit putih bersih tanpa ada cacat bisa membuat siapa saja akan dengan mudah menyukai wanita itu.
“cantik” puji Reza seketika lolos dari mulutnya tanpa sadara karena memperhatika Wanda yang sejak tadi menusun piring yang sudah bersih ke rak piring.
Tidak lama kemudian Wanda mengibaskan tangannya yang basah, ia berlalu melewati Reza begitu saja, apa pedulinya wanita itu kepada suaminya sendiri yang selalu bisa membuatnya jengkel bukan main setiap saat berbicara dengannya, hubungan keduanya saja tidak memperlihatkan kemajuan sama sekali, sampai saat ini Wanda masih gadis walau statusnya sudah memiliki suami tapi Reza tidak sekalipun menyentuhnya begitupu Wanda yang sudah lelah dengan semua ini.
“Kita bicara besok, ada yang ingin kukatakan kepadamu” perkataan Reza membuat Wanda sontak menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan tubuhnya menatap kearah suaminya.
“mau bicara apa?, katakan sekarang saja, besok aku tidak pulang karena harus kerja hingga tengah
malam” Jawab Wanda.
“ Wanda!” panggil Reza.
“crk.. ada apa?, cepatkan!”
“tidak jadi nanti saja, selamat malam”
“dasar gila” Wanda memutar kedua bola mata dengan begitu malas lalu melanjutkan langkahnya.
\\*
Hari berikutnya Reza membuka mata lalu menatap ke sampingnya yang ternyata kini kosong, biasanya ia akan mendapati Wanda yang masih terlelap bahkan sulit untuk di bangungkan, Ia segera beranjak bangun dari kasur menyibakan selimut yang melekat yang
menutupi sebagian tubuhnya.
Reza dengan cepat keluar dari kamar dengan maksud ingin membangungkan Wanda karena sudah pukul
07.00 pagi, dengan langkah yang terburu-buru Reza menuruni tangga karena Wanda tidur di kamar bawa sedangkan dirinya di kamar atas.
Sampai di depan pintu dengan rasa ragu-ragu Reza mengetuk pintu kamar Wanda berkali-kali sambil
memanggil nama Wanda, entah sudah berapa kali Reza melakukan hal yang sama, ia tidak mendapat respon atau pun sahutan dari dalam, Pria itu lantas mengenduskan napasnya lalu kembali mengodor-gedor pintu lebih keras lagi.
“Wandaaaa”
“Wanda apa kau sudah bangun, ini sudah pukul 07.15”
Sudah sekian kali Reza memanggil manggil nama Istrinya namun hasilnya tetap saja sama, Wanda tidak merespon.
“kalau kau tidakbmau mejawabku baiklah, sungguh wanita pemalas” gerutu Reza.
“Sialan, pasti dia masih marah”
Reza menyerah dan memilih kembali kekamarnya lalu membersihkan diri yang terasa lengket, tidak membutuhkan waktu yang lama Reza sudah selesai setelan jas berwarna navy dengan kemeja hitam sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya walau ia hanya seorang Direktur keuangan Reza lah yang selalu menjadi andalan di kantornya.
Wajah yang cukup tampan dan sifatnya yang dingin dan kaku tidak mudah terprovokasi dengan perkataan seseorang menjadikannya sebagai idola juga di kantor dimana ia mengabdikan tenaga dan otaknya di sana.
Reza memandang wajah di depan cermin besar dalam kamar lalu menilai serta menrapikan penampilannya, ketika sudah merasa cukup Reza membalik tubuh dan mengambil tas kerja dia meja belajar yang sebelumnya sudah ia siapkan.
“apa wanita itu belum bangun juga..?” guman Reza tak kala mengingat istrinya yang pemalas dan tidak bisa melakukan apa-apa itu.
“ahhh, apa paduliku”
\\_
Di tempat lain Wanda berdiri menyilangkan kedua
tangannya dia tas dada sambil melirik pria yang duduk di hadapanya dengan angkuh, ia terpaksa bangun pukul 5 pagi dan sampai di kantor polisi pukul 6 pagi karena permintaan dari komandannya yang tidak lain dalah Rifan, Wanda di minta agar segara menemuinya secepat mungkin.
“ingin sekali kutembak isi kepalanya” guman Wanda dalam hati, Ia bukan kesal lagi tapi Wanda sudah tidak tahan, jujur saja wanita itu sangat ingin menghabisi nyawa komandannya itu, dari dulu saat pertemuan pertama mereka Rifan selalu saja mengerjai Wanda sesuka hati dan tidak akan pernah minta maaf.
Seperti sekarang ini sudah hampir satu jam Wanda berdiri tanpa bergerak sedikit pun padahal bisa saja ia duduk di kursi kosong yang berada di sampingnya tapi Rifan melarangnya dan tetap menyuruhnya untuk berdiri tanpa bergerak.
“kau melakukan pekerjaan bagus, dokumen kasus ini lebih singkat dan jelas dari sebalumnya”
“Kerja bagus Wanda”
Ucap Rifan memuji hasil kerja Wanda lalu mengambil setumpuk berkas lainnya dan menyerahkan kepada Wanda.
“aku minta kau menyelesaikannya dalam satu minggu dan tetap lakukan tugas-tugasmu yang lain Wanda” Kata Rifan, Wanda sontak kaget bukan main kedua mata wanita itu melotot melihat setumpukan kertas.
“Maaf komandan, tapi ini bukan pekerjaan ku, kenapa malah menyuruhku..?” tanya Wanda tidak terima.
“kau jangan membantah Wanda, ini hukumanmu kerena berani membolos tanpa izin kepadaku”
“Tapi.., Komandan—“
“Diam kau kerjakan saja, ini bukan pekerjaan berat Wanda, ambil itu dan letakkan di atas mejamu, lalu kau pergi ke jalan perempatan ada swiping masal hari ini” Ucap Rifan tanpa dosa.
Wanda memjamkan mata menarik napasnya dalam-dalam, kenapa ia harus mengenal pria-pria menyebalkan, dirumah ada Reza yang setiap saat berkata nyinyir kepadanya dan di tempat kerja ada Rifan yang selalu menjahilinya setiap saat.
“baiklah” sahut Wanda dengan nada pasrah.
Ia pun mengambil setumpuk berkas-berkas itu di atas meja Rifan dan memindahkannya ke mejanya, sebelum beranjak keluar dari ruangan Rifan Wanda memberikan senyuman manis namun tampak di paksakan.
.
.
.
..
Bersambung.
Hai Hai Kawan., Chan akan mulai Up setiap hari sesuai janji. Sebenarnya aku itu cukup pusing karena harus mengerjakan 3 novel sekaligus 😂😅😅.
Nantikan Eps selanjutnya..