The Wife Police

The Wife Police
"Rasa Nyaman."



Wanda mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang ada di sebuah kafe kopi, ia memensan dua gelas kopi dingin untuk dirinya dan juga Reza yang masih sibuk mencari bahan-bahan kebutuhan dapur untuk satu bulan.


Wanda mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di atas meja sedangkan kedua matanya menatap kesekelilig Mall itu, sedikit senandung kecil keluar dari mulut Wanda agar tidak bosan, tidak lama kemudian datanglah seorang pegawai kafe kopi itu membawa dua gelas Ice Coffee.


"Ini pesanan Anda Nona, semuanya enam puluh ribu." ucap pegawai tersebut dengan sopan. Wanda lantas mengambil dua gelas ice coffee itu lalu membayar sesuai dengan tagihannya.


"Terima kasih Nona." ucap pegawai itu lagi, Wanda menganggukkan kepala dan segera pergi dari sana.


Begitu melihat suaminya wanita itu langsung mendekati Reza dengan cepat, namun sebuah pemandangan membuat langkah Wanda spontan berhenti. Wajah wanita itu tampak berkerut, suaminya sedang bicara dengan wanita dan apa hubungan mereka tampak wanita itu menangis di hadapan Reza dan suaminya itu hanya menatap wanita itu dengan wajah datar.


Wanda sekali lagi menatap wanita yang bersama suaminya, merasa tidak asing dengan wajahnya, ia mencoba mengingat-ngingat siapa wanita itu.


Sekatika Wanda teringat, wanita yang bersama suaminya itu adalah orang yang pernah membawa Reza pulang saat mabuk karena pengaruh alkohol.


"Apa yang mereka bicarakan, kenapa wanita itu menangis." guman Wanda dalam hati.


Perlahan ia mendekati keduanya karena penasaran dengan yang keduanya bicarakan, namun Wanda tidak memperlihatkan dirinya ia bersembunyi dan menguping di sela-sela tembok.


Wanda harus tau apa yang keduanya bicarakan dan apa sebenarnya hubungan suami nya dan wanita itu.


"Reza kau pasti tau alasanku melamar kerja di tempatmu, kenapa sebelumnya tidak ada yang tau jika kau sudah menikah, kau telah menghancurkan hatiku dengan kebenaran ini." ucap wanita itu terdengar di telinga Wanda.


"Apa maksud perkataannya?" tanya Wanda dalam hati bergumam.


"Putri dengarkan, aku ... sekarang keadaannya berbeda, dulu sebelum aku mengenal baik istriku, aku membencinya bahkan pernah untuk berpikir untuk berpisah dengannya setelah beberapa bulan pernikahan kami, yah aku akui jika aku pernah menyukaimu dan saat kau datang melamar kerja di tempatku aku senang, namun seiring berjalannya waktu aku perlahan bisa mengerti jika tidak semua wanita itu sempurna sesuai dengan pikiranku selama ini, sekarang aku takut kehilangan istriku dan saat itu aku sadar jika selama ini dia telah mengisi hatiku yang kosong." tutur Reza semakin membuat Putri terisak, wanita itu sulit melepaskan Reza, ia sudah jatuh hati kepada pria yang beristri itu, bahkan saat di hubungi oleh Tio waktu itu dirinya begitu senang saat mendengar jika Reza mencarinya.


Namun ternyata semua itu hanya angan-angannya sekarang, pria yang ia sukai sudah beristri dan tampaknya Reza sangat mencintai istrinya, saat tadi ia mengatakan bahwa ia siap untuk menjadi yang kedua Reza langsung menolaknya karena tidak mau mengkhianat istrinya.


"Aku tidak akan menahanmu jika kau mau mengundurkan diri dari perusahaan." ujar Reza.


"Kau mengusirku?" tanya Putri mengangkat wajahnya menatap kedua mata Reza.


"Tidak, aku tidak mengusirmu itu tergantung dari keputusanmu, aku tidak mau membuat istriku salah paham melihat kita seperti ini, aku mau mencari keberadaannya."


"Apa sebenarnya istimewanya wanita itu! Kemarin aku menemui Tio dan bertanya tentang kalian. Jujur saja kepadaku Reza jika wanita yang menikah denganmu adalah orang yang tidak berguna dan ceroboh, bahkan bukan tipe idealmu." kata Putri berteriak saat Reza hendak berlalu meninggalkannya. Namun saat mendengar penghinaan yang tertuju untuk istrinya seketika Reza berbalik dan menunjuk wajah wanita itu dengan geram.


"Jangan bicaramu! Kau tidak berhak menilai istriku sama sekali." bentak Reza kepada Putri, suasana saat itu sendang rame, sehingga kini ia menjadi pusat perhatian semua tamu mall.


Wanda hanya bersandar di tembok, rupanya sedari awal seharusnya ia sadar akan ketidak bergunanya dalam hidup pria itu.


"Reza, Kau ceraikan saja istrimu sesuai dengan niatmu di awal dan kita menikah aku akan mengurus segala keperluan rumah tangga dan tidak akan menyusahkanmu sama sekali." tutur Putri tidak berhenti berharap.


"Apa kau sudah gila, aku tidak mau dan tidak akan pernah meninggalkannya dan kuminta kau jangan mengganggu rumah tanggaku, mulai besok kau akan di pindahkan kecabag di luar kota." ujar Reza, ia menatap Pintu begitu marah, ia tidak menyangka jika wanita yang anggap baik dan lembut itu ternyata mempunyai pikiran sepicik itu.


Putri di buat terkejut akan perkataan Reza, air matanya semakin mengalir deras di kedua pipi wanita cantik itu, menatap punggung Reza yang perlahan menjauh darinya. Akhirnya Putri memutuskan untuk pergi dari sana sambil menanggung malu.


***


"Wanda." panggil Reza mendekatinya.


"Umm ...." Wanda menoleh kearah suaminya lalu tersenyum.


"Kau dari mana saja, sudah beli ice coffeenya." tanya Reza seakan tidak terjadi apa-apa.


"Iya, sudah ... ini untukmu." sahut Wanda sembari memberikan satu gelas ice coffee untuk suaminya.


Reza mengambilnya dengan senang, lalu meminumnya dengan beberapa tegukkan hingga tidak butuh waktu lama gelas itu kosong.


"Kau pasti sangat haus, minumlah punyaku." Wanda menyerahkan ice coffee miliknya untuk Reza, ia tau jika suaminya itu merasa haus.


"Terima kasih. Sayang." ucap Reza mengambil punya Wanda. Pasalnya dirinya benar-benar haus.


"Apa semua belanjaannya sudah lengkap?" tanya Wanda.


"Iya sudah semuanya, ayo kita pulang." ajak Reza di angguki oleh Wanda, wanita itu sangat ingin bertanya kepada Reza tentang siapa sebenarnya Putri bagi suaminya itu dan hal apa yang membuat suaminya itu berubah apakan benar suaminya itu sudah jatuh hati kepadanya atau hanya alasan saja supaya Putri berhenti berharap kepadanya.


***


Sampainya di rumah Reza dan Wanda terlebih dahulu mengambil barang belajaannya di bagasi mobil sebelum masuk kedalaman rumahnya.


Wanda berjalan di belakang Reza, senyuman tipis ia ukir diwajahnya.


"Apa seterusnya akan seperti ini." guman Wanda. dengan nada suara pelan.


"Aku sudah sangat nyaman bersamanya apa Reza kelak akan hancur hatiku juga." guman Wanda lagi, ia merasa sedikit was-was kepada suaminya pasalnya isi hati Reza sulit di tebak olehnya.


"Cepatlah jalannya, aku sudah tidak sabar mau memakan hasil masakanmu." ujar Reza.


"Cih, bilang saja kalau kau tidak sabar mau mengejekku dengan masakanku yang tidak enak, iya kan seperti itu." ujar Wanda langsung kesal.


Reza terkekeh mendengar ucapan istrinya, memang dirinya sangat tidak sabar ingin mengajak istrinya itu beradu mulut.


.


.


.


12 hari gak up. 🙏🙏 maaf yah Kak.