
Di sebuah restoran, Wanda dan Reza sedang berada di restoran mewah untuk makan malam bersama, seperti awal harapan pria itu untuk berkencan dengan Istrinya.
Wanda terlihat cantik dengan balutan dress selutut dan jaket yang berwarna sama dengan suaminya itu, Wanda menopang dagu di atas meja dengan tampang wajah kesal. Sementara Reza memandang istri itu sesekali melempar senyuman.
"Kenapa lama sekali, pesanannya mana. Aku sudah lapar." ucap Wanda merasa tidak sabar, ia sudah lapar dan menunggu peranannya datang hampir sepuluh menit.
"Tunggu sebentar lagi." balas Reza.
"Siapa yang mengajakmu bicara, kenapa kau menjawab." seru Wanda melirik sinis suaminya itu.
"Cih."
"Menyebalkan, wanita ini apa maunya sih." gerutu Reza dalam hati langsung mengalihkan tatapannya ke sembarangan arah.
"Aku sudah sangat lapar, kenapa makanannya sangat lama." ucap Wanda kembali sambil mengelus perutnya yang lapar.
"Kemana perginya para pelayan restoran ini, apa mereka lupa pesanan di meja ini." guman Wanda, wanita itu benar-benar sangat lapar, ia mengusap perutnya berkali-kali.
Reza yang melihat hal itu lantas tersenyum senang, lalu ikut mengelus perut datar istrinya tersebut hingga membuat Wanda kaget bukan main.
"A-apa yang kau lakukan." Wanda segera menyingkirkan tangan Reza di perutnya.
"Sepertinya anakku sudah lapar." ucapnya tiba-tiba, Wanda tidak mengerti kembali meliriknya dengan bingung.
"Anak? Anakmu yang mana, apa kau punya istri lain di luar sana dan sudah punya anak begitu?" tanya Wanda melototkan kedua mata.
Reza menarik napas panjang, kenapa istrinya itu malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Bicara apa kau, tentu saja anak yang aku maksud itu adalah anak di dalam kandunganmu, dasar wanita bodoh." ucap Reza memukul lengan istrinya itu dengan pelan.
Wanda menatap datar Reza seakan perkataan yang di ucapkan oleh pria itu adalah suatu ketidak benaran.
"Cih, kau pikir aku hamil, tidak aku tidak hamil anakmu sama sekali." bantahnya.
"Kau tidak percaya ucapanku, kau memang sudah hamil."
"Tau dari mana kau, Hah!" seru Wanda mulai kesal.
"Aku tau karena aku suamimu, firasatku berkata seperti itu, sudahlah nanti kita bahas lagi kita sedang berada di tempat umum." ucap Reza.
"Kau jangan sok tau." ujar Wanda mengakhiri perdebatan mereka.
Tidak lama berselang, pesanan mereka pun datang, ada seafood dan spageti di sana, Wanda menatap semua makanan itu dengan air liur hampir menetes entah kenapa makanan di depannya itu sangat menggiurkan.
Ia meraih spageti dan mengambil garpu mulai menyantap makanan tanpa jeda, Reza sejenak menghentikan aktivitas makannya karena melihat mulut istrinya blepotan.
"Makanlah pelan-pelan, jangan seperti orang rakus itu tindakan yang buruk untuk seorang perempuan." tegur Reza.
"Biarkan saja, sudah jangan mengajakku bicara, kau tidak pernah berubah, dasar suami menyebalkan." decih Wanda dengan wajah cueknya, wanita itu kembali menikmati makan malamnya tanpa menghiraukan ocehan Reza.
"Aku kenyang sekali." ujar Wanda mengusap mulutnya setelah minum.
"Bagaimana, kau suka bukan berkencan denganku." kata Reza juga sudah selesai makan.
"Wanita ini, siapa sebenarnya yang bermulut beracun dia atau aku, apa selama ini ia tidak bisa menyadari perasaanku padanya, benar-benar wanita menyebalkan." guman Reza hanya memandang istrinya mendengar berbagai keluhan yang Wanda ucapankan tentang dirinya.
"Heh, ini. bukan kencan tapi lebih tepatnya tempat berdebat, seharusnya kau itu ikut lomba debat, jika nanti ada pertandingan akan aku daftarkan dirimu, pasti akan juara satu." ujar Wanda menyinggungkan senyum simrik.
Reza tidak menanggapi Wanda lagi, ia melajutkan makan dengan memandang istrinya sesekali membuang napas pelan, maka malam romantis yang di harapankan tidak seperti yang ia bayangkan.
"Apa kau sudah bicaranya, ayo kembali." ajak Reza setelah Wanda selesai.
"Hum ...."
***
Semampainya di rumah, Wanda tutun terlebih dahulu untuk membuka pintu rumahnya dan Reza, setelah makan malam dengan di temani adu mulut itu kini keduanya kembali seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa sama sekali.
"Wanda tunggu sebentar, jangan masuk dulu." Reza menahan Wanda dengan meraih tangannya.
"Iya ada apa, ayo katakan." ucap Wanda, membalikkan tubuhnya menghadap Reza.
"Wanda, aku mau mulai sekarang kau dan aku, tidak menyimpan rahasia satu sama lain, jika kau punya masalah berceritalah kepadaku, kau adalah istriku dan aku suamimu akan lebih baik jika kita membagi suka duka bersama-sama." ucap Reza dengan serius.
"Kenapa kau berkata seperti ini, apa kau kerasukan?" tanya Wanda mengerutkan kening menatap kedua mata suaminya tersebut dengan seksama.
"Wanda aku serius, aku mau mulai sekarang kita perbaiki hubungan kita dan aku mau minta maaf atas sikapku selama ini yang membuatmu kesal."
"Lupakan saja, semua sudah berlalu, sudah malam aku mau istirahat, besok aku bertugas."
Wanda melepaskan tangan Reza di lengannya dan masuk kedalaman rumah segera menuju kamar, sedangkan Reza mematung di pintu menatap istrinya.
"Kenapa kau tidak bisa memahamiku, aku benar-benar serius tapi kenapa responsnya seperti itu, sungguh wanita yang sulit di tebak." gumannya lalu ikut menyusul istrinya masuk kedalaman kamar, namun sebelum itu Reza mengunci pintu dan memeriksa semua sudut rumahnya bahwa sudah dalam keadaan aman.
.
.
.
.
πΆββπΆββπΆββ terima kasih.
**Rekomendasi Novel Baru seru, π yang minat
Silahkan mampir di karya Mey Olivia.
"Terbawa Hasrat Om CEO." 18+ πππ
Jangan lupa ranting . βββββ
Mohon dukungannya ππ**