The Wife Police

The Wife Police
"Terpikirkan"



Keluarga Reza menyambut hangat kedatangan menantu perempuan nya siapa lagi kalau bukan Wanda, di rumah itu Wanda di perlakukan dengan baik bahkan diberi perhatian lebih terutama mamanya Wanda bahkan sudah di monopoli untuk dirinya sendiri.


Reza sebagai anak tidak di anggap kehadirannya disana, niat untuk membicarakan tentang pernikahannya dengan Wanda di urungkan.


Reza dan Wanda di minta untuk menginap selama beberapa hari di sana, namun dengan cepat dia dan Wanda menolak ajakan tersebut.


"Wanda, Apa kau tidak suka berada disini, Mama mohon agar kalian tinggal di sini yah ... satu malam juga tidak apa-apa." mama dari Reza yang bernama Ani, Memohon kepada anak menantunya.


Merasa tidak tega, Wanda berusaha agar memberikan pengertian dan alasan karena besok ia masih harus bekerja.


"Mama, nanti aku dan Reza akan menginap disini , besok aku harus berangkat pagi-pagi, tidak enak aja mama, Wanda janji jika ada satu waktu pasti aku akan berkunjung lagi dan menginap." ucap Wanda mengaruk telukuknya, ia menujukan gigi rapinya ketika tersenyum.


"Janji yah sayang."


"Iya mah. Wanda janji, bukanya begitu ... Reza." Wanda berkata memberikan kepastian lalu melirik Reza di depannya.


Reza membalas lirikan tersebut dengan anggukan pelan, lalu senyuman semanis mungkin kepada mamanya, ia tidak bisa mengecewakan wanita yang telah melahirkan dan membesarkanya itu.


Wajah wanita paruh baya itu langsung tersenyum lalu mengatakan sebuah kalimat lagi. "Wanda apa kalian sudah ada tanda-tanda kehadiran anggota baru." tanya Ani penuh harapan, Ia kembali menatap ke dua pasangan suami istri itu.


"Apa? maksudnya mah?" tanya Wanda bingung ia tidak tau ucapan dengan Ani mertuanya.


Beda lagi dengan Reza pria itu membeku di tempatnya, harapan dari mamanya mungkin tidak pernah akan terwujud, dia dan Wanda tidak pernah sekali pun melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Meski mereka satu kamar tapi Reza tidak mau menyentuh wanita itu sama sekali dan Wanda juga tidak mempedulikan hal itu.


"Wanda sayang, apa kau tidak tau, mama akan memperjelasnya."


"Apa kau sudah ada tanda kehamilan, ini sudah beberapa bulan loh pernikahan kalian."


"Hamil?, ehh ... tidak mah, sepertinya belum di kasih rezeki." Jawabnya canggung, pertanyaan ini sangat sensitif untuknya.


Wajah Ani kembali kecewa, harapannya untuk mendapat Cucu belum terwujud.


"Kalian harus memberikan mama Cucu.. Kalau tidak lebih baik mama pergi dari sini." ancam Ani, ia sangat menginginkan seorang Cucu, semua teman arisannya mempunyai seorang cucu untuk di ceritakan sedangkan dia tidak ada hanya bisa mendengar dengan perasaan cemburu.


"Mama ... jangan berkata seperti itu." ucap Reza kesal, mamanya itu selalu saja mengancam dengan alasan akan pergi dari rumah.


Wanda merasa bersalah karena telah membuat mertuanya kecewa, apa yang harus di lakukan hubungannya saja dengan Reza sangat tidak baik bahkan cenderung saling cuek satu sama lain.


***


Wanda menarik nafas panjang, pikiran melayang memikirkan tentang Permintaan dari mertuanya.


"Hei, wanita bodoh apa yang otakmu pikirkan?" Reza bertanya melihat Istrinya tidur tengkurap dengan tangan dilipat sebagai penopang kepalanya.


"Reza, apa sebaiknya kita mengikuti keinginan dari mama saja." Wanda mengatakan isi pikirannya, namun setelah itu wajahnya langsung merah padam karena malu.


Reza melangkah mendekatinya diranjang, Lalu menjitak kepala Wanda.


"Tidak terduga otakmu begitu kotor, jangan pikirkan permintaan mama, lagi pula nantinya kita akan berpisah." ucapnya, Wanda mendengar penuturan itu tertohok tidak percaya, ia berpikir pernikahannya dengan Reza hanya permainan saja, tentu tidak, Wanda sudah mulai mempunyai perasaan kepada suaminya seiring berjalannya waktu.


"Bergeser lah. Aku juga mau tidur, Ranjang ini bukan milikmu sendirian." Lanjut Reza merebahkan tubuhnya membelakangi posisi Wanda yang kini sudah tidur menyamping.


Wanda berusaha menahan rasa perih di dalam hatinya, Rasanya air mata ingin menetes dan Ia mau berteriak kencang melepas semua beban hatinya.


"Hah, ya sudah terserah saja." guman Wanda dalam hati menatap punggung suaminya yang membelakanginya.


.


.


.


.


.


.


Tbc....!!!