
"Reza! apa kau lapar? mau ku buatkan makanan untukmu?" tanya Wanda, ia melihat suaminya baru kembali dari garasi mobil mencek mobil Wanda yang sudah hampir tiga minggu tidak pernah di pakai lagi.
"Boleh, tolong buatkan nasi goreng dan ayam goreng kecap, kau bisa membuatnya bukan itu perkara gampang dan sebelumnya aku sudah mengajarimu bagaimana membuatnya." sahut Reza ia mendudukkan tubuhnya ke kursi meja makan.
Wanda berdecih tak kala perkataan dari Reza terdengar mengolok-goloknya tanpa sengaja.
"Tentu saja aku bisa, tunggu sebentar aku akan membuatkan untukmu." katanya dengan yakin.
Wanda berjalan kearah kulkas sesekali ia melirik suaminya yang menatapnya dengan penuh ledekan.
"Dasar lelaki bermulut pedas, awas saja nanti aku akan memberimu pelajaran." guman Wanda dalam hati, begitu sampai ia membuka kulkas dan memperhatikan isi di dalamnya yang ternyata sudah berkurang banyak, ia menyengirkan kening saat mencari bahan-bahan yang di perlukan untuk dirinya memasak namun tidak mendapati semua bahan-bahannya.
"Apa ayam sudah habis." guman Wanda mengaruk kepala.
"Tapi rasanya beberapa hari yang lalu stoknya masih banyak di dalam freezer, siapa yang menghabiskannya?" Wanda begitu bingung entah siapa yang telah menghabiskan isi kulkasnya yang beberapa hari yang lalu masih penuh dan lengkap.
"Kenapa kau terlihat begitu bingung Wanda?" Reza menegur istrinya, ia dari tadi memperhatikan gerak gerik Wanda yang terus mengaruk kepala berulang kali.
Wanda lantas menoleh, rambutnya sudah terlihat acak-acakan tidak karuan, Reza yang melihatnya saja mencoba menahan tawa, ia tidak ingin menambah daftar perkara dengan istrinya itu.
"Umm, Reza ... sepertinya kita harus berbelanja kebutuhan sehari-hari kita saja, aku tidak tau kenapa isi kulkas bisa berkurang dalam beberapa hari."
"Apa maksudmu berkata seperti itu bodoh."
"Siapa yang kau panggil bodoh!" ujar Wanda tiba-tiba merasa kesal.
"Ahh tidak ada, kau salah dengar." elak Reza ia sekali lagi menyadari kesalahan dalam perkataannya saat bersama dengan istrinya itu.
"Ayo kita belanja." Ajak Reza langsung menarik tangan Wanda tidak peduli akan penampilan wanita itu masih berantakan.
***
Di pusat perbelanjaan.
"Hum, merica halus dan garamnya ada dimana?" guman Wanda begitu bingung pasalnya sudah dua kali ia mengelilingi tempat itu ia sama sekali tidak melihat keberadaan dua bumbu penting itu.
Wanda kembali mengelilingi tempat bumbu-bumbu dapur itu, ia menyengir sangat bingung karena ia sedari tadi belum menemukannya. Mulut yang bergerutu kesal, Wanda mendorong troli belanjaannya.
"Ternyata hal seperti ini melelahkan juga, aku sangat harus." guman Wanda merasa tenggorokan kering.
Ia sudah lelah mencari daftar belanjaan yang di berikan oleh suaminya yang ia kira sangat mudah di dapatkan namun ternyata sangat melelahkan, Wanda akhirnya berlalu tidak menyelesaikan belanjaannya lalu dengan cepat ia mencari minuman dingin untuk menghilangkan dahaganya.
"Wanda." panggil seseorang menghentikan langkahnya. Wanda menoleh, ia melihat suaminya di sana menatapnya dengan datar.
"Iya ada apa?" sahutnya sambil bertanya.
Reza melangkah mendekatinya Wanda tidak bergerak di sana.
"Apa kau sudah selesai mencari daftar yang aku berikan kepadamu?" tanya Reza.
"Humm ... belum, aku mau mencari minuman dulu, tenggorokanku sangat kering, dari tadi aku mencari semua yang ada di sini tapi hanya sebagai yang berhasil aku dapatkan." jawab Wanda dengan suara melemah.
"Hah, memang apa yang belum, sini biar aku liat." pinta Reza, Wanda memberikan kertas itu kepada suaminya.
"Reza aku cari minuman dulu, aku tinggal sebentar." ujar Wanda, ia tidak tahan akan rasa hausnya dengan berlari tanpa menunggu balasan dari suaminya Wanda berlalu ke arah penjual ice coffee yang tidak jauh dari sana.
"Dia selalu saja." guman Reza menggelengkan kepala, ia tersenyum melihat istrinya.
.
.
.
.