
“Komandan sialan, dia pikir aku apa..?, memang aku asisten pribadinya apa semua tugas-tugasnya ia berikan kepadaku, sungguh sial” gerutu Wanda di setiap langkah yang ia ambil.
Wanita itu dengan susah payah membawa setumpuk kertas yang di berikan oleh atasannya, jika saja
kelak ada pergantian Komandan Wanda berjanji akan merayakan pesta perpisaha dengan Komandannya sekarang dengan suka rela sebagai tanda ia sudah bebas dari pria menyebalkan itu.
“akhirnya.., sungguh melelahkan”
Wanda meletakkan setumpuk ketas itu di atas meja begitu dirinya sampai di ruangan khusus anggota kepolisian, ia sejenak mengatur napas dan meregangkan kedua tangannya yang.terasa pegal dan ia menyalahkan Rifan karena yang menyebabkan dirinya sampai seperti ini adalah pria itu.
“Wanda, apa ini?” Tanya Fitri tiba-tiba berada di samping Wanda hingga membuatnya kaget akan
kehadiran sahabatnya secara tiba-tiba.
“Kau mau membuatku jantungan!” ucap Wanda menoleh begitu kesal ke arah Fitri dengan mengusap dadanya Wanda merasa jantungnya akan copot gara-gara sikap bar-bar dari Fitri.
“Hah!, apa kau punya riwayat penyakit jantung Wanda?” Tanya Fitri khawatir, Wanda lantas memukul kepala sahabatnya itu karena merasa dongkol dengan pertanyaan Fitri.
“dasar bodoh!, apa kau mendo’akan aku memiliki riwayat penyakit jantung”
“Tidak bukan seperti itu, Wanda aku hanya bertanya dan kau malah memukul kepalaku, tadi kau sendiri yang bilang kalau jantungan” ujar Fitri dengan megusap kepalanya sendiri.
“dasar payah”
Wanda menarik napas pelan lalu memasang wajah datar.
“sudahlah Fitri, aku tidak sakit.., ini aku berkata seperti itu mungkin karena pikiranku yang kacau belakangan ini, ayo kita kerempatan” ajak Wanda dan Fitri segara mengangguk setuju.
Kedua wanita itupun segera berangkat bersama ke tempat mereka di tugaskan hari ini, Wanda melupakan pesan Rifan untuk berangkat bersamannya.
___
Di kantor Reza, Pria itu tengah sibuk mengutak-ngatik keyboad komputer di atas meja ia baru saja mendapat pesan dari atasannya tiba-tiba ingin mengadakan rapat dan hal itu membuat Reza panik ia tidak menyangka akan ada rapat dadakan hari ini, Reza membutuhkan waktu cukup lama untuk meyelesaikan semua laporan keuangan.
Waktu sudah lewat dua jam, Reza mengucek matanya yang terasa kering akibat kelamaan menatap komputer tanpa istirahat, pria itu lalu menghubungi sekretarisnya agar bisa membantunya untuk memprint dan membawa file laporan yang baru saja ia kerjakan ke ruangan rapat setelah itu Reza
segera beranjak berdiri tidak menghiraukan Putri yang tengah menatapnya diam-diam, Reza terlalu lelah bayangkan saja pekerjaan yang seharusnya selasai dalam tiga hari harus ia selesaikan dengan cepat.
“begitu kau selesai tolong segera bawa file itu ke ruangan rapat” Ujar Reza sebelum pergi dari ruangannya.
“Iya” jawab Putri sambil tersenyum kepada Reza.
Lima belas menit kemudian, rapat pun dimulai Reza duduk paling dekat dengan Bos perusahaan dimana ia bekerja, seorang pria paruh baya berusia 57 tahun berwatakan tegas namun perutnya buncit mulai membuka suara dan rapat dadakan itu segera di mulai, Reza dengan tampang serius menyerahkan laporan keuangan sebulan belakangan ini kepada Wiro yang tidak lain adalah bosnya.
“Maaf Tuan Wiro, saya tidak tau kalau hari ini anda akan melakukan rapat dan ini adalah laporan yang sudah saya rekap tentang pengeluaran sebulan belakangan ini yang di gunakan hanya untuk kebutuhan perusahaan anda” Ujar Reza panjang lebar.
Wiro sekilas melihat laporan keuangan itu lalu menganggukan kepalanya seakan mempercayai
semua ucapan Reza yang keluar dari mulut pria itu.
“okay, aku percaya kepadamu Tuan Reza, aku hanya berharap kedepanya kamu mempertahankan kinerja pekerjaanmu kedepannya kalau bisa kau tingkatkan lagi”
“Iya saya akan melakukannya” jawab Reza dengan tersenyum ramah lalu setelahnya membuang napas
dengan lega.
***
Hari menjelang sore setelah melaksankan Rapat Reza di ajak oleh atasannya untuk makan bersama di sebuah restoran ternama bintang lima tidak lupa Putri juga ikut dengannya sebagai pendamping, Reza kini tengah duduk sambil berbincang-bincang ringan sambil menunggu pesanannya datang bersama dengan atasannya karena mereka memang sudah akrab.
“Reza, sepertinya sudah saatnya kau menikah deh, usiamu sekarang sudah pantas menjadi seorang suami dan juga seorang papa, apa kau mau aku carikan jodoh?” Tanya Wiro begitu tiba-tiba membuat Reza langsung membungkam sedangkan Putri menatap ke arah Reza karena wanita itu juga penasaran.
“...”
Tidak ada jawaban sama sekali, Wiro berulang kali mengatakan pertanyaannya kepada pria di hadapannya ini yang ia anggap masih lajang namun tatap saja Wiro tidak mendapat respon dan Reza hanya menatapnya tanpa menyahut.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya Reza sudah menikah kerena pernikahannya di rahasiakan dari pihak luar bahkan Bosnya sendiri belum tau akan hal itu, Reza belum siap mengumumkan pernikahannya dengan wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu, ia masih begitu enggan bukan karena apa, Reza hanya tidak mau ia di banyak orang tau bahwa wanita yang kini menjadi istrinya adalah seseorang yang payah dalam segala hal mengenai rumah tangga.
“ehemm, Hei Reza kenapa kau melamun, Tuan Wiro dari tadi menunggu jawaban dari pertayaannya” Bisik Putri sambil menyenggol pelan lengan Reza yang duduk di sampingnya.
“Maaf.., Tuan”
“ah tidak apa-apa, santai saja.” Ucap Wiro.
Beberapa saat kemudian semua pesanan makanan datang dan segera di hidangkan ke meja yang di
bawa oleh beberapa pelayan, Reza dan yang lainnya pun mulai menyantap dan menikmati hidangan makan bersama, namun tiba-tiba Reza seakan teringat akan
sesuatu, sejenak ia meletaakkan sendok dang garpu miliknya di atas meja dan tiba-tiba saja berdiri dari kursi hendak pergi dari sana, Wira dan Putri yang menyadarinya langsung menghentikan Reza saat itu juga.
“Kau mau kemana..?”
“Reza kau mau kemana..?”
Tanya keduanya secara bersamaan, Reza mengaruk keningnya secara tiba-tiba padahal tidak gatal, Ia baru saja mengingat bahwa Wanda tidak menghubunginya dari pagi hingga saat untuk mengeluh karena tidak di bangunkan, Reza masih mengira bahwa istrinya itu membolos lagi dari pekerjaannya.
“maaf Tuan Wira, saya harus pulang.., mamaku tadi berpesan agar aku pulang cepat” ucapnya berbohong tidak mungkin ia akan mengatakan bahwa ia ingin menemui istrinya di rumah.
“oh begitu, tapi bagimana dengan sekretarismu —“ Wira sekilas melirik Putri seakan bertanya bagaimana dengan wanita itu apa akan ikut pulang bersama dengan Reza atau tetap tinggal menemaninnya di sini.
“Putri..?” tanya Reza di angguki oleh Wiro.
“dia akan tetap di sini Tuan untuk menemani anda makan, bukan begitu Putri..?”
“ehh iya tuan saya akan menemani anda di sini” sahutnya dengan cepat padahal jujur saja Putri ingin ikut bersama Reza agar bisa lebih dekat dengan pria itu.
“anda dengar Tuan Wiro, kalau begitu saya pamit, lain kali saya akan membawakan kejutan untuk anda di lain waktu”
.
.
.
.
.
Bersambung..