
Setelah kejadian itu Wanda sama sekali tidak pernah membalas setiap perkataan yang di lontarkan oleh Reza untuknya, wanita itu sangat malu dengan kejadiaan yang terjadi pagi ini, sungguh memalukan Reza sudah melihat tubuhnya terlanjang.
Reza menghela napas berat, ia tidak terbiasa di diamkan seperti sekarang ini, wanita yang menjadi istrinya itu terus saja membungkam merasa mulai tidak tahan pria tersebut berdiri dan berjalan menghampiri wanda yang berdiri menghadap jendela membalakanginya.
“Hei, apa kau marah kepadaku..?” Tanya Reza.
“…”
Wanda masih enggang untuk menjawab membuat Reza kesal dan langsung menarik tangan wanita itu memaksanya agar menghadap kepadanya.
“Wanda ada apa denganmu, kenapa kau tidak menyahut, apa mulutmu sudah bisu” kata Reza menatap tajam ke dua mata Wanda.
Wanda seketika kesal saat Reza menghinanya lagi dan lagi.
“kau jangan kurang ajar, jangan menyentuhku Lepaskan!” kata Wanda pada akhirnya. Reza mengerutkan kening lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring.
"akhirnya kau bicara juga, ternyata kau tidak bisu"
"Lepaskan dasar pria kurang ajar" pinta Wanda sambil berusaha melepaskan cengkeraman Reza di bahunya namun sayangnya rasanya sia-sia saja karena kekuatan Reza tiga kali lebih besar darinya.
“siapa yang kurang ajar, seharusnya perkataanmu itu tertuju kepadamu, kau mau durhaka kepada suamimu.., di panggil tidak menyahut, di ajak bicara menghindar apa sebenarnya maumu Wanda” seru Reza membungkukkan tubuh sejajar istrinya tersebut.
“Katakan!!” teriak Reza tidak membuat Wanda takut, wanda kembali terdiam sama dan menghidari tatapan Reza.
“WANDA kau jangan mencobai kesabaranku, apa kau marah karena aku telah melihat tubuhmu..?” Tanya Reza, seketika wajah Wanda merah ia mencoba menyembunyikan rasa malu atas suaminya tersebut.
“Kurang ajar, lepaskan aku!” pinta Wanda.
"Siapa yang kau panggil kurang ajar, Wanda aku itu suami kamu, jaga ucapanmu" kata Reza.
"Intinya Lepaskan aku!" teriak Wanda kembali hampir membuat gendang telinga Reza pecah.
Reza memejamkan kedua mata menghembuskan napas kasar lalu melepaskan cengramannya dari wanda, seketika wanita itu langsung memajukan tubuhnya dengan sorot mata melotot.
"Jangan berteriak suaramu itu sangat jelek" kata Reza.
Wanda merasa debatnya dengan Reza tidak akan selesai jika ia segera tidak menghentikanya.
“Reza kau pergilah bekerja aku tidak mau di ganggu saat ini” Ucap wanda seakan mengusir Reza, ia tidak mau memperpanjang masalah dengan suaminya itu dan lebih baik menyuruh pria itu bekerja.
“Aku tidak mau” tolak Reza.
“Terus kamu maunya apa Hah”.
“Reza kau itu memang suamiku tapi hubungan kita tidak wajar selayaknya suami istri pada umumnya dan sebaiknya kita tidak perlu terlalu dekat” Kata Wanda.
Mendengar itu Reza tidak bergeming seolah membenarkan ucapan Wanda yang ada benarnya juga, hubungannya dengan istrinya itu memang tidak ada kata romantis-romantisnya sama sekali, hanya ada pertikaian dan berdebatan adu mulut hampir setiap hari.
“Kau pergilah, aku akan mengambilkan tas kerjamu dulu” Ujar Wanda hendak berlalu menuju kekamar mengambil tas kerja suaminya.
Reza memijit kepala yang terasa agak pusing, sikap Wanda terkadang dewasa terkadang juga labil, memikirkan hal itu membuat Reza lelah sendiri.
“entahlah, kenapa terkadang nyaman dengannya walau wanita itu terkadang aneh-aneh” gumannya dalam hati.
***
Reza mengetuk-getukan telunjuk pada meja kebesarannya masih memikirkan perkataan wanda yang mengatakan bahwa hubungan mereka tidak wajar seperti pasangan suami istri pada umumnya.
“apa yang harus kulakukan supaya wanda tidak marah lagi.?” Tanyanya kepada dirinya sendiri, Reza menyandarkan punggunya kebelakang sambil
menghembuskan napasnya kasar merasa pusing sendiri, ia tidak tau harus membujuk Istrinya itu dengan cara apa.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Reza, pria itu segera menyahut dan mepersilahkan orang tersebut masuk.
“Reza.., maaf maksudku Tuan Reza” panggil seseorang yang baru masuk kedalam.
“ada apa Putri..?” Tanya Reza sedikit agak malas. Putri menyengir heran tidak biasanya pria ini malas dengannya, namun dengan cepat putri menggeleng lalu berjalan menuju meja kerja teman sekaligus atasnya tersebut.
“duduklah” perintah Reza.
“Maaf tuan saya hanya ingin memberikan dokumen ini agar anda menandatanganginya” Putri
menyerahkan dokumen kepada Reza dengan sopan.
Reza hanya mengangguk lalu mengambil dokumen tersebut membacanya terlebih dahulu, perlahan tangan pria itu meraih sebuah pulpen hendak menandatangani dokumen itu, namun suara deringan dari Hp miliknya membuat Reza segera meletakkan pulpen itu kembali dan mengambil ponsel miliknya.
"Tuan Reza".
"Kau diamlah, aku sedang sibuk, keluarlah nanti kau masuk lagi" Ucap Reza tidak memindahkan tatapannya dari ponsel .
"Tapi Tuan, dokumen itu-" sebelum putri melanjutkan perkataan yang hendak keluar dari mulutnya Reza segara memberikan kode menyuruhnya keluar tanpa bersuara.
Reza segera membaca pesan masuk dari istrinya.
"Aku keluar sebentar mungkin akan pulang agak malam"
"Oh iya, mulai sekarang aku lebih baik tidur di kamar tamu aku sudah memindahkan barang-barang ku"
"Wanita ini, dia mau pergi kemana katanya tidak mau di ganggu.., tau'-tau dia keluar rumah, dan dia juga ingin pisah kamar" gerutunya mengerutkan kening membaca pesan dari Wanda yang berpamitan keluar.
"Terserah. terserah siapa yang peduli"
.
.
.
.
Bersambung..
Chan usahakan Up rutin kawan-kawan.
yang menunggu kisah Istriku Seorang Polwan. chan minta maaf karena sempat tidak Up. soalnya sibuk 😁😁😁😅😅. sampai jumpa di Eps selanjutnya.