The Wife Police

The Wife Police
"Ada di Jalan"



Reza membuka pintu mobil begitu mereka sampai di depan kantor Wanda.


"Turunlah." ujar Reza membuka pintu mobil, Wanda tidak mendengar perkataan suaminya pikirannya masih saja terganggu akan yang terjadi kepadanya tadi.


"Wanda, ayo turun kau sudah sampai." ujarnya lagi.


"Hum ... Iya, terimakasih." kata Wanda tersadar dari pikirannya yang kacau.


Wanita itu turun dari mobil sambil membawa tas jinjin berwarna coklat miliknya yang selalu ia bawa kemana-mana, Wanda melewati Reza begitu saja tanpa berpamitan kembali untuk bekerja.


Pria itu menatap istrinya mendenguskan napas pelan, entah kenapa istrinya itu tidak mengatakan apa-apa atau sekedar menatapnya.


"Wanda, berhenti sebentar!" tegur Reza.


"Ada apa lagi?" tanya Wanda membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Apa kau tidak mau berpamitan kepadaku?" tanya Reza mendekati wanita berseragam itu.


"Untuk apa?, kenapa kau berkata seperti itu?, kau sebaiknya pergi saja sudah hampir pukul dua siang." ucap Wanda menatap Reza di iringi oleh tatapan sinisnya.


Reza seketika menghentikan langkahnya, ia terlihat begitu sakit hati karena perkataan Wanda yang seolah mengusirnya dari tempat ini secara tidak langsung, pria itu mengedipkan kedua mata seperti anak kecil membuat Wanda mengerutkan dahi.


Wanda melipat kedua tangan di atas perut perangainya terlihat sombong.


"Kenapa belum pergi juga, bukannya kau adalah orang sibuk, pergilah dan terima kasih telah mengantarku selamat sampai di sini dan malam ini jika kau pulang duluan kau tidak perlu menunggu ataupun menghubungiku, karena aku sibuk." ucap Wanda lalu membalikkan tubuhnya melanjutkan niatnya untuk masuk kedalam kantornya.


Reza memejamkan mata lalu mengangguk pelan, ia melihat punggung istrinya perlahan. menjauh dari pandangannya hingga kedua mata tidak melihat lagi tubuh istrinya begitu Wanda masuk, setelah membuka pintu dan Reza pun tidak melihat istrinya lagi karena pintu kaca itu berwarna gelap tidak bisa memperlihatkan tubuh istrinya dari bilik pintu kaca.


Selanjutnya Reza berjalan kembali menuju mobil miliknya dan segera pergi dari sana.


***


Sore hari, Wanda benar-benar selesai mengerjakan semua tugas yang di. berikan oleh komandannya, hanya untuk sekedar meringkas adalah pekerjaan yang mudah baginya dan mungkin jika saja kemarin malam Andre tidak mengganggunya mungkin sekarang ini Wanda. sudah bertugas di luar ruangan.


Wanda meregangkan seluruh tubuhnya, ia duduk di kursi hampir empat jam lamanya tanpa berdiri sekalipun.


Fitri masuk bersama dengan Andre berturut-turut, kedua orang itu memperhatikan Wanda yang masih meregangkan beberapa anggota tubuhnya seakan tidak sadar jika ada orang lain di dalam ruangan itu.


"Wanda, apa pekerjaanmu sudah selesai semua?" tanya Andre membuat Wanda seketika kaget lantas ia menoleh kebelakang.


"Ahh, kau ini mengangetkanku saja, sejak kapan kalian bedua ada di ruangan ini, kenapa aku tidak menyadarinya." ujar Wanda sembari mengelus dada karena masih di kagetkan akan kehadiran kedua sahabatnya tersebut.


"Sudah dari beberapa menit yang lalu, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Andre kembali, karena Wanda kebiasaan selalu mengabaikan pertanyaan orang lain.


"Hum, iya ... sudah selesai, apa kalian mau mentraktirku makan, sebagai seorang sahabat baik." tukas Wanda tersenyum simpul.


Fitri dan Andre saling menatap satu sama lain, kenapa justru mereka yang harus mentraktir Wanda bukannya seharusnya yang mentraktir itu adalah Wanda bukan mereka lantas keduanya langsung memalingkan wajah lalu beranjak menuju ke meja masing-masing.


"Kalian kenapa tidak menjawab." ujar Wanda.


"Menjawab apa? memang kau bertanya apa kepada kami." kata Fitri sambil memainkan ponselnya membalas pesan-pesan yang baru saja masuk.


"Uhmm."


Kekecewaan seketika terlihat di wajah Wanda, akan respon kedua sahabatnya itu.


Wanda akhirnya kembali ke tempatnya semula dan mulai merapikan meja serta menata beberapa kertas berkas kasus yang berceceran di atas mejanya, ia menyusun semuanya tidak lama kemudian Wanda akhirnya memutuskan untuk mengambil air botol mineral karena dirinya merasa haus.


___


Sedangkan Reza sekarang ini masih berada di kantornya, pria itu sudah menyelesaikan semua pekerjaannya hari untuk hari ini. Reza tengah bersiap-siap untuk pulang dan ia berencana untuk membelikan istrinya hadiah karena selama ini ia belum pernah memberikan apa-apa kepada wanita yang menjadi istrinya.


Karena ia tidak tau tentang perempuan, Reza akhirnya mengajak sekretarisnya Putri untuk menemaninya ke Mall.


Butuh waktu dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil Reza sampai juga di Mall, sesegera mungkin pria keluar tanpa menunggu Putri, Reza berjalan begitu semangat tujuan utamanya adalah sebuah toko perhiasan.


Ia menatap satu persatu beberapa kalung emas putih yang sangat menyilaukan matanya bermacam-macam desain kalung, gelang dan cincin, Reza memperhatikan semuanya bingung ingin membelikan hadiah apa.


"Tuan Anda mau membeli yang mana?" tanya pegawai toko tersebut.


Reza sejenak mengangkat wajah menatap pegawai toko tersebut, "Saya masih bingung, saya tidak tau bagaimana seleranya ...." ucap Reza.


"Anda ingin membelikan perhiasan untuk siapa Tuan, jika pacar Anda saya menyarankan untuk memberikan kalung ini saja." katanya mengambil sebuah kalung bertahtakan berlian cukup kecil.


"Oh jadi Anda ingin membelikan untuk Ibu Anda Tuan, kenapa tidak bilang." ujar pegawai toko tersebut mengambil kalung itu.


Kening Reza semakin berkerut kenapa pegawai ini malah mengatakan itu.


"Memang ada yang salah dengan pilihanku?" tanya Reza.


"Tidak salah Tuan, hanya saja Anda sebenarnya ingin membelikan hadiah untuk siapa pacar atau ibu Anda."


"Kenapa kau mau tau?"


"Bukan seperti itu Tuan."


"Lalu kenapa?"


Putri yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan di antara Reza dan pegawai toko emas tersebut kini melangkah maju.


"Jadi ini pacar Anda, Nona silakan memilih, seperti pacar Nona tidak bisa membedakan mana selera wanita muda mana selera wanita paruh baya, Silakan di pilih Nona."


Kedua pipi Putri bersemu merah, ia begitu senang saat pegawai itu mengatakan bahwa Reza adalah pacarnya.


"Hum, Reza apa aku bisa memilih?" tanya Putri ragu.


Reza mengedikan bahu cuek, ia di luputi rasa tidak terima saat pegawai itu mengatakan bahwa sekretaris ini adalah kekasihnya. ia hendak menyahut namun Putri tiba-tiba saja menatap ke arahnya.


"Reza sepertinya ini cocok ...." ucap Putri.


"Hum, iya ...." jawabnya singkat.


"Hei kau, tolong bungkus kalung ini, di bungkus seindah mungkin dan kalung yang kau kenakan anggap saja sebagai bonus dariku." ucap Reza.


Putri mengangguk senang, seketika wanita itu langsung memeluk Reza di hadapan pegawai toko emas tersebut.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Reza mendorong pelan tubuh Putri yang begitu berani memeluknya.


"Maaf ...." ucap Putri.


"Ya sudah, lain kali kau jangan macam-macam, kau hanya sebagai sekretarisku tidak lebih dan jangan pernah mengharapkan lebih, sungguh menyebalkan."


Kata Reza mengomel tanpa malu, namun deringan ponselnya tiba-tiba menghentikannya, ia merongoh saku celana meraih ponsel miliknya mengangkat panggilan masuk itu.


"Wanda ...." gumannya raut wajah yang semula kesal tiba-tiba hilang di gantikan dengan senyuman.


"Halo, Wanda ...." ucapnya begitu mengangkat panggilan tersebut.


"Kau ada dimana?, apa sudah pulang?" tanya dari seberang sana.


"Ahh, tidak ... aku masih ada di jalan, ada apa kau menghubungiku?"


"Reza, hanya sekedar ingin mengatakan kalau aku tidak akan pulang malam ini dan mungkin dua hari ini tidak akan pulang kerumah karena mendadak aku harus bertugas di luar kota berasa dengan Andre, jadi sebaiknya kau tidak perlu menungguku."


"Apa!, keluar kota?, dua hari?, apa kau gila ...." seru Reza terdengar kaget.


"Iya, aku tidak perlu mengulangnya lagi, sudah itu saja, aku sudah mau berangkat, sampai jumpa." katanya setelah itu terdengar sambung itu langsung terputus.


Reza mengeduskan napas berat, seperti keinginan akan tertunda beberapa hari karena istrinya yang tiba-tiba saja menghubunginya dan berpamitan untuk keluar kota secara tiba-tiba.


"Sial." umpat Reza, setelah itu ia mendekati toko dan mengambil kalung yang sudah di bungkus lalu membayar harganya.


Putri hanya mengikuti apapun yang Reza lakukan, ia tidak merasa Reza sudah mempunyai seorang kekasih dan raut wajahnya menjadi murung.


.


.


.


.


.👍🙂