
Sepasang suami Istri tiada hari tanpa bertengkar, akibat Sang wanita sama sekali tidak bisa mengerjakan tugas sebagai Istri yang di harapkan oleh sang lelaki, sebulan pernikahannya berlalu namun tapak tidak cinta di antara keduanya.
Pria Itu..
Reza mengerjap mengucek kedua matanya sambil mengatur detak jantung yang berdebar tidak karuan karena di kegetkan oleh suara benda jatuh.
"Suara apa itu? jangan-jangan wanita itu bertingkah lagi." gumannya.
"Arrrhhh, sialan." teriak Reza kala itu baru saja terbangun dari tidurnya, ia pun beranjak bangun meninggalkan kamarnya hendak menemui istrinya di dapur.
Wanda, seorang polwan tidak tau jika itu mengenai dapur, yang dia tau hanyalah mengejar penjahat, wanita itu terburu-buru membersihkan pecahan kaca yang berceceran di lantai.
"Hei apa yang terjadi? kenapa pagi-pagi kau membuat keributan?" tanya Reza mendapati Istrinya membersihkan kaca pecah.
Wanda menoleh ke arah asal suara tersebut. "Kau sudah bangun, kenapa capat sekali, aku belum selesai memasak."
"Bagaimana tidak, semua gara-gara kau yang sangat ribut, setiap hari kau membuat kekacauan di dapur dan entah sudah berapa benda yang kau rusak." seru Reza dingin, raut wajahnya sangat kesal selama beberapa hari belakangan setelah menikah dengan wanita pilihan ibunya kehidupannya berubah drastis.
Wanda mengerutkan kening ingin sekali ia marah namun ia mengingat akan pria di hadapannya ini adalah suaminya ia mengurungkannya dan memilih menunddukkan kepala.
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Maaf mu tidak bisa ku terima, bulan depan aku akan mengganti semua perabotan rumah menjadi plastik semua, biar tidak bisa kau pecahkan."
"Sudah kukatakan Aku tidak sengaja. Kenapa kau malah marah-marah tidak jelas, nanti aku akan menggantinya dengan yang baru." Kesal Wanda pada akhirnya, suaminya ini ternyata sangat menyebalkan.
Reza hendak membalas ucapan Wanda mengurunkan niatnya ketika mendengar suara telepon rumah berbunyi, ia meninggalkan istri di dapur dan melangkah mengangkat Telepon itu.
"Halo, siapa ini? "
Tanya Reza mengangkat Telepon.
Suara merdu seorang wanita membuatnya mematung.
"Sayang bagaimana dengan Wanda, apa dia baik-baik saja?" tanya wanita dari suara telepon membuat Reza tersadar.
"Oh, Wanda, dia lagi memasak sarapan mah. Kau mau berbicara dengannya." ujar Reza melirik wanda yang masih berusaha membuat sarapan sambil menatap Ponselnya.
"Tidak perlu, maaf sayang aku sepertinya mengganggu kalian." Mama dari Reza terkekeh, Reza malah memutar bola mata malas lalu menjawab ucapan mamanya.
"Mama, jangan berpikiran aneh." Ketika hendak melanjutkan ucapannya Reza di buat kaget dengan Istrinya. Lantas ia langsung menutup Telepon dan mengambil alat pemadam sesegera mungkin.
"Ah, tolong kebakaran, Reza kebakaran. Tolong ... "
Teriak Wanda histeris melihat ada api di atas wajan yang di pakainya membuat telur ceplok.
Wanda berusa mematikan api, apa daya bukannya mengambil Air ia malah menyiram Minyak goreng karena terlalu panik, api semakin membesar, Walaupun Wanda seorang Polwan tapi Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini.
Reza segera menghampiri dapur segera memadamkan api,
Busssss
Beberapa kali semprotan api pun padam, matanya mencari dimana pembuat masalah itu.
"Keluar lah, Wanda, kau harus di hukum." seru Reza kesal, ia melihat sosok jongkok di bawa meja makan memejamkan mata.
"Maaf, tadi aku benar-benar tidak sengaja." ujar Wanda menggigit jari tangannya.
"Ikut denganku ... cepat!"
***
Reza kini sudah berada di cafe miliki temannya, ia sudah kehabisan tenaga memarahi Istrinya, bayangkan saja Setiap saat melihat wanita itu amarahnya selalu memuncak.
"Aku tidak mengerti kenapa mama mau menjodohkanku dengan wanita yang tidak bisa melakukan apa-apa." curhatnya kepada Tio pemilik cafe sekaligus sahabatnya sendiri.
"Hei, kawan Wanda itu sudah menjadi istrimu, bersabarlah menghadapi segala kekurangan yang di milikinya, jika di lihat-lihat memang sih ucapan mu juga benar adanya" ujar Tio santai.
"Setiap hari, dia hanya bisa membuat masalah."
"Hahahha, Reza ingat, tidak semua wanita bisa mengurus kebutuhan di rumah."
Mendengar penuturan dari sahabatnya Reza memalingkan wajahnya ke keluar jendela,
"Sudahlah! berhenti membasahnya lagi." malas Reza, ia lebih baik mengisi perut kosongnya.
Tio tersenyum tulus kepada Reza, ia melihat raut wajah Sahabatnya ini sangat jengkel sepanjang hari.. Reza makan dengan rakus membuat Tio yang melihat terkekeh.
"Reza, sepertinya kau tidak makan selama bertahun-tahun saja, Hati-hati tidak ada yang aka merebutnya darimu."
"Berhenti lah, kau mengganggu konsentrasiku, aku sangat lapar, kau pergi saja." usir Reza merasa risih dengan sahabatnya itu.
Tio menepuk bahunya mengangguk, lalu ketika Tio sudah tidak ada di sana Reza memesan makanan lagi, ia benar-benar kelaparan.
***
Di rumah Wanda menunggu kedatangan Suaminya, ia sudah menyerah untuk memasak dan memesan makanan saja.
Di atas meja makan semua pesananya sudah tertata rapi siap di santap, beberapa kali Wanda melihat jam dinding namun Reza belum kembali juga.
"Kenapa Reza lama sekali, apa dia masih marah kepada ku." guman Wanda khawatir padahal ia sudah membiarkan Reza memarahinya habis-habisan tadi.
Matanya menatap ke arah pintu rumah menunggu kepulangan dari Reza yang pergi entah kemana, hingga akhirnya Wanda tertidur di atas sofa ruang tamu.
.
.
.
.
.
Tbc...!!!
Jangan lupa Vote, like, dan Komen yang banyak yah..
Baca juga novel Author yang lainnya silahkan klik Profilku .