
Hingga Wanda bangun dari tidurnya, Suaminya sama sekali tidak pulang , perempuan itu mendesah kesal, sungguh menunggu itu sangat tidak nyaman lebih lagi Sudah semalaman penuh.
"Makannya terbuang sia-sia lagi, entah kemana Reza perginya, kenapa dia tidak pulang." ucap Wanda sambil membersihkan meja makan dan semua makanan pesanannya sudah tidak layak untuk dimakan.
Wanda membuang semua makanan itu ketempat sampah. "Sangat di sayangkan, makanan ini sudah tidak layak padahal aku sangat lapar." ucapnya menatap makanan tersebut dengan kasihan.
Lalu, setelah itu Wanda menuju kamar membersihkan diri, hari ini masa cutinya sudah habis , Dia harus kembali bekerja sebagai Polisi, pekerjaan itu sudah menjadi impiannya dari kecil dan sudah terwujud.
Dua puluh menit kemudian, Wanda sudah selesai, melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan menguncinya karena tidak ada siapa pun di dalam sana..
"Hah.. Beres, semangat Wanda sebagai seorang polisi kau harus melindungi rakyat dari kejahatan"
Wanda memberi semangat untuk dirinya sendiri, wajah bahagia itu tersenyum cerah mengingat, Ia akan kembali ke tempat kesukaannya.
"Mau kemana kau!" kata seseorang yang baru masuk ke dalam pekarangan.
"Aku mau bekerja, tidak keluyuran seperti kamu. " jawab Wanda tanpa menoleh ke arah Pria itu, ia sangat kesal karena kemarin malam ia di tinggalkan sendirian di rumah bahkan tertidur di sofa.
Reza bedecih kesal, lalu mendekati Wanda yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Berikan kunci rumah aku mau masuk kedalaman." pinta Reza menatap tajam Istrinya itu.
"Ini, jangan halangi aku lagi , ambillah!, aku sudah terlambat masuk bekerja." Wanda memberikan kunci rumah sambil mendorong tubuh Reza yang mengahalunya masuk kedalaman mobil.
Wanda menghidupkan mobilnya sesegera mungkin, melajukannya dengan kecepatan hampir full.
***
Reza masuk kedalaman rumah, lagi-lagi dikagetkan dengan kondisi rumah yang tampak kacau balau seperti tidak berpenghuni.
"Wanda!" teriaknya membanting meja di depannya, sudah cukup batas kesabarannya sudah menipis, ia harus menghubungi kedua orangtuanya dan mengatakan semua kelakuan Wanda selama ini.
Pria itu menrogok saku celana mencari ponsel, mencari nomor mamanya..
"Halo, mama."
"Iya Nak, baru kali ini kau menghubungi mama secara pribadi Reza." mamanya Reza bingung tidak biasanya Reza akan menghubungi dirinya secara langsung.
"Mama, ada yang ingin kusampaikan perihal menantu kesayangan mama itu." ucap Reza menahan amarahnya.
"Apa katakan saja, mama mendengarmu dari sini."
"Nanti aku akan datang kerumah mah."
"Yah, kau datanglah sekalian bawa Wanda sekalian, mama sangat merindukannya."
"Umm."
Reza mengambil handuk di dalam lemari, jangan tanya bagaimana kondisi lemari miliknya semenjak menikah dengan Wanda dan berbagi semua yang ada di kamar tersebut, lemarinya itu sudah tidak layak lagi.
Satu jam Reza menrendam tubuhnya dalam bed up, memikirkan semua kesialan yang menimpa dirinya saat ini.
Ponselnya tiba-tiba berdering tidak henti-hentinya membuat Reza terpaksa mengakhiri aktivitas mandinya.
"Halo.. Ada apa Tio.?? " tanyanya sambil memakai pakaian santai jika dirumah.
"Hei bodoh! kau belum membayar semua tagihan makananmu dan juga tempat kau tidur tadi malam di tempat ku, semua nya lima juta tidak lebih dan tidak kurang." ucap Tio kesal dari suara ponsel yang saling terhubung.
" Dasar orang perhitungan, nanti aku akan membayarnya" ketus Reza, Tio selalu seperti ini.
"Tiga hari batas waktunya, jika terlambat bersiap lah aku akan menyinta mobil kesayanganmu" ancam Tio.
"Iya, Bodoh, aku tau." Reza tidak habis pikir dengan Tio yang selalu memprioritaskan Uang di atas segalanya.
***
Kantor Polisi Wanda di sambut oleh semua rekannya dengan hangat, di sana Wanda sangat populer diantara semuanya, karena keahliannya dalam menagani Penjahat yang nakal.
Komanda Rifan yang merupakan atasannya selalu menyempatkan diri untuk menyapa dirinya .
"Selamat pagi, Wanda cantik, ada pengantin baru nih" ucap Rifan tersenyum simpul ke arahnya.
Wanda rasanya ingin menyumpal mulut beracun milik komandannya itu.
"Diam komandan, kau sangat tidak tau malu" geram Wanda yang segera padam, ia tau Komandannya ini memang sering tidak tau malu kepada siapa pun termasuk darinya.
Rifan mengedipkan satu mata, lalu melambai menjauh dari Wanda, niatnya hanya ingin menyapa saja dan menggoda Wanda saja.
Dan tentu saja Wanda kesal dengannya saat ini, membahas kehidupan orang lain sangat tidak sopan, tapi apa daya Rifan tidak peduli akan hal seperti itu.
.
.
.
.
.
Tbc..!!!