
Sesampainya di kantor, raut wajah Reza sama sekali tidak pernah berubah tampak pria tersebut hanya melewati setiap pegawai yang menyapanya begitu saja tanpa merespon.
"Kurang ajar, beraninya dia pergi bersama dengan pria lain di hadapanku." gumannya Reza dalam hatinya, ia begitu cemburu melihat istrinya bersama dengan pria lain sedangkan dirinya kala itu ingin mengantarkan Wanda sampai kekantornya namun ternyata dirinya justru mendapatkan kejutan yang membuat hatinya mendidih.
***
Di tempat lain, Wanda baru saja sampai di kantornya di ikuti oleh Andre yang mengekor di belakangnya sambil mengomel entah apa yang pria itu katakan kepada Wanda dan wanita itu malah acuh tidak acuh mendengar omelan dari Andre.
Sesampainya di dalam ruangan hal pertama yang Wanda lakukan adalah mengambil meletakkan tasnya dan segera mengambil gelas yang berisi air panas untuk menyiram 'pop mie' yang selalu ia simpan di dalam laci ketika dirinya merasa kelaparan, Fitri yang kala itu melihat sahabat lantas berkata.
"Wanda, apa kau tidak sarapan di rumahmu lagi, mie instan seperti ini tidak baik untuk pencernaan." tegurnya sambil menatap Wanda yang mengisi wadah mie tersebut.
"Aku lapar lalu apa salahnya, aku membutuhkan makan sebelum melakukan aktivitas sepanjang hari, aku tidak bisa sarapan di rumah karena takut terlambat." ucapnya.
Fitri hanya menggelengkan kepala, wanita yang ia ajak bicara ini sangat keras kepala pasti akan sulit untuk memberinya nasihat kepadanya.
"Ya sudah, terserah kamu saja, jika kelak kau sakit perut jangan mengeluh, aku sudah memperingatimu tapi kau. tidak mau mendengar." ucap Fitri lalu segera melanjutkan langkahnya untuk mengambil tas jinjin. miliknya kebetulan hari ini ia ada tugas di luar kantor.
Wanda mengedikan bahu, sudah menjadi makan sehari-hari untuknya, setiap dirinya melakukan setiap kegiatan pasti ada saja yang menegurnya.
"Ahh, iya Fitri tunggu sebentar .... " ujar Wanda menghentikan langkah Fitri yang hendak keluar dari ruangan.
"Ada apa?" tanya Fitri.
"Apa kau membawa pengisi daya, aku lupa membawa milikku, ponselku sepertinya sudah hampir mati." Wanda mengedipkan kedua mata berkali, Fitri menghembuskan napas pelan, kebiasaan sahabatnya jika mengiginkan sesuatu pasti selalu seperti ini mengedip-ngedipkan kedua matanya sehingga tanpa sadar membuatnya langsung menyerahkan pengisi daya miliknya tanpa banyak berkata.
"Terima kasih" ucap Wanda di iringi sebuah senyuman, mie yang tadi ia siram tampak sangat menggiurkan, Wanda sejenak mengambil ponsel dan segera melakukan pengisian daya, ia di dalam ruangan itu hanya tinggal sendirian saja, Fitri sudah pergi beberapa detik yang lalu setelah memberinya pengisi daya.
Wanda mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi dan meletakkan siku di atas meja panjang yang bisanya mereka gunakan untuk membahas kasus. Wanita itu mulai menikmati makanannya sesekali meniup-niup uap panas yang keluar dari wadah tempat mie siram tersebut.
Ceklek.
Suara pintu terbuka menghentikan aktivitas Wanda, wanita berdecak kesal ketika melihat siapa orang yang masuk kedalaman ruangan tersebut.
"Hum, apa kau masih punya satu lagi, aku juga lapar." ucap orang tersebut menatap makanan Wanda.
"Apa kau belum sarapan juga?" tanya Wanda.
"Sudah tapi saat melihat milikmu aku kembali lapar, apa kau masih mempunyai satu lagi?" tanya Andre balik.
Wanda memberikan tatapan datarnya sedetik kemudian ia tersenyum namun terlihat sangat di paksakan.
"Masih punya sih, tapi untuk makan siang nanti ... jadi aku tidak akan memberikannya kepadamu." jawab Wanda, Andre mengerutkan kening entah kenapa suara Wanda terdengar menyebalkan.
"Dasar pelit, awas saja kau." ancam Andre.
Wanda menarik senyuman miring, ia bahkan tertawa di dalam hatinya, melihat Andre yang seperti ini merupakan sebuah hiburan untuknya.
"Oh iya, Wanda apa kau hari ini tidak mau keluar bertugas dari pada kau di sini akan sangat membosankan bukan?, kau tenang saja aku yang akan mengatakan kepada Komandan kalau hari ini kau tidak melanjutkan tugas darinya karena kau tidak terlambat datang." ujar Andre, sorot matanya terlihat cukup serius kembali menghentikan aktivitas makannya.
"Memang boleh?" tanya Wanda, ia mendorong wadah mie miliknya kedepan, Andre yang melihat akan hal tersebut langsung menyambarnya ingin sekali ia merasakan makanan kesukaan semua orang itu.
"Tidak, aku hanya bercanda, hahahahaha."
Mendengar hal itu raut wajah Wanda yang awalnya senang langsung berubah menjadi murung, rupanya Andre membohonginya hanya untuk mengambil makanan yang tengah ia nikmati tadi, jujur saja wanita itu belum merasa kenyang hanya beberapa suapan saja yang baru masuk kedalaman mulutnya dan kini wadah mie miliknya berada di tangan seorang pria yang bernama Andre memakannya sangat rakus tanpa membutuhkan waktu yang lama mie tersebut sudah habis tidak tersisa.
"Apa?, kalau kau bisa membuatku kesal kenapa aku tidak bisa." ujarnya.
Wanda benar-benar kesal tiba-tiba menginjak kaki Andre begitu keras membuat pria itu mengadu kesakitan.
"Auhhh, Wanda!, beraninya kau menginjak kakiku."
"Kenapa tidak, kau pantas mendapatkannya karena tidak punya adab dan sopan santun."
"Wanita ini."
"Heh, sudah keluar sana, jangan mengganggu pekerjaanku dan ingat nanti sore kau tidak perlu mengantarku pulang."
"Kenapa tidak boleh, apa suamimu marah?" tanya Andre menaikkan satu alis.
"Ckk, tidak ... Reza tidak marah, hanya saja jika kau mengantarku pulang lagi, mobilku akan menginap di sini lagi." ucap Wanda.
"Oh ...." sahut Andre.
___
Siang harinya, Wanda hampir menyelesaikan semua pekerjaan yang di berikan oleh Rifan, sejenak ia meregangkan bahu dan jari-jemarinya yang terasa sangat kaku, suara deringan ponsel miliknya membuat Wanda menghentikan pekerjaannya dan mengangkat panggilan tersebut.
Keningnya berkerut, nama yang tertera di layar ponsel miliknya membuatnya sangat bingung.
"Kenapa pria ini menghubungiku?" batin Wanda bertanya-tanya, lalu ia menggeser ikon hijau tersebut menerima panggilan.
"Halo, ada apa?" tanyanya begitu ia mengangkat panggilan tersebut.
"Apa kau sudah makan siang, kalau belum aku akan menjemputmu kita makan siang di luar bersama." ucap orang tersebut.
"Belum, tapi kenapa kau malah mengajakku makan siang bersama, tidak biasanya kau seperti ini?"
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama saja, bersiap-siaplah aku sudah dalam perjalanan menuju kantormu." setelah mengucapkan itu, sambungan telepon langsung terputus sebelum Wanda menyahut.
Wanita itu memandang ponselnya.
"Dasar aku bahkan belum sempat menolak ajakannya, malah langsung di putuskan begitu saja." gerutunya.
"Sudahlah sebaiknya aku makan siang bersamanya saja."
"Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran pria itu belakang ini, dia benar-benar aneh." ucapnya, lalu ia segera berdiri dari kursi namun sebelum itu ia menyimpan semua tugas yang baru ia selesaikan tinggal di print di sebuah file yang ia namakan dengan namanya sendiri.
.
.
.
.
😁😁