
Ketika sudah berada di mobil Wanda menghela napas lega lalu memjamkan mata sejenak mengatur napas yang tersengal-sengal, dia bukan ingin menghindar tapi Wanda tidak mau saja lagi berurusan dengan Dokter itu karena akan mengingatkannya yang terjadi pada waktu itu.
“Sungguh sial sekali” gerutu wanda kesal.
Seharusnya ia mengajak Reza walau dalam keadaan terpaksa sekalipun, Dokter muda tadi yang dia jumpai adalah pria masalalu dan sempat mejalin hubungan dengannya namun hubungan itu kandas di tengah jalan karena Wanda kecewa kepada Dokter itu tidak bisa menyelamatkan ibunya.
Hubungan mereka awalanya sangat romantis bahkan hampir sampai ke jenjang lebih serius namun menjalanni hubungan itu tanpa sepengetahuan dari ibunya sendiri, Wanda takut ibunya akan semakin drop waktu itu hingga dirinya di minta menikah dengan pria lain yaitu Reza pria yang telah menjadi suaminya sekarang.
Beberapa menit berselang Wanda terbuyar dari lamunannya dan segera menyalakan mobilnya menuju kantor polisi terlebih dahulu karena Komandan Rifan dan Fitri sudah kembali dari luar kota.
___
Sesampainya di sana Wanda terlebih dahulu memperbaiki penampilannya yang sedikit acak-acakan akibat lari dalam keadaan panik tadi, ia
mengambil bedak lalu mempoles wajahnya.
“Cantik” pujinya kepada diri sendiri.
Wanda membuka pintu mobil dengan perlahan, ia tidak memakai seragam karena kepulangan Rifan dan Fitri yang begitu cepat hanya satu hari saja padahal waktu itu Rifan sendiri yang berkata akan berada di sana selama tiga hari lamanya.
“sungguh aneh.., sepertinya tidak ada waktu istirahat
untukku” ucap wanda berjalan masuk kedalam kantornya.
Sebagai salah satu aparat Negara Wanda salah satu polwan yang berperstasi diatas semua kecerobohannya, ia begitu payah dengan masalah
rumah tangga yang baru pertama kali ia jalani dan masih butuh waktu untuk beradaptasi.
Ceklek..
Wanda membuka pintu ruangan sebuah senyuman ramah ia tujukan untuk semua orang di dalam sana, hari sudah mulai menjalang sore jadi wajar saja kantor sudah tidak terlalu rame. Fitri tampak berdiri beberapa saat kemudian Fitri tiba-tiba berlari dan memeluknya dengan erat seakan baru pertama bertemu selama bertahun-tahun.
“wanda aku sangat merindukanmu, apa kabar?” ucap Fitri belum melepas pelukannya, wanda merasa kesusahan lebih lagi postur tubuh Fitri yang sedikit lebih besar dari dirinya.
“A..ku baik-baik saja, tolong lepaskan dulu sesak nih..”
ucap wanda , Fitri seketika langsung melepas pelukannya dan tersenyum manis kepada sahabatnya tersebut.
“Wanda apa kau tau apa yang terjadi di luar kota, wahhh heboh sekali coba saja kau ikut pasti akan sangat menyenangkan” Fitri berbicara dengan antusias dan heboh.
“apa yang aku lewatkan.., aduh Fit”
Kedua wanita itu sibuk membagi cerita satu sama lain tidak menghiraukan bahwa ada orang lainnya mendengar percakapan diantaranya, Fitri bercerita tentang pengalamannya kemarin malam begitu sampai di luar kota, Ia dan komandannya bukan hanya mengambil beberapa berkas kasus para penjahat tapi
ia juga di buat senang hanya karena berhasil menyelesaikan kasus baru yaitu kasus narkoba para pejabat sipil Negara yang menjadi tujuan utama Komandan nya.
Wanda sekilas menoleh kea rah Komandan nya dengan raut wajah kesal, seharusnya dirinya juga ikut sudah sejak lama Wanda menantikan kasus narkoba, Fitri kembali melanjutkan ceritanya sifat bar-bar dari Fitri memang terkadang keluar begitu dirinya sebahagia ini.
“Sudah, jangan lanjutkan.. , kau pasti ini membuatku iri
saja bukan” ucap Wanda cemberut.
“heheheh, Wanda kau ini.. mana mungkin aku seperti itu, kawan aku hanya membagi berita bagus supaya kamu ikut merasa bangga kepada sahabatmu ini”
“Huffff..”
“Kalian berdua, kesini berhentilah berbicara seakan hanya ada kalian di sini” ucap Rifan karena telinganya seakan penuh dengan ocehan kedua anak buahnya itu, Fitri dan Wanda sentak saling bertatapan sejenak lalu
segera menemui Komandannya.
“Duduklah” perintah Rifan, kedua wanita itu langsung
mendaratkan tubuhnya ke sofa tepat di hadapan Rifan saat ini.
“ambil ini dan baca, teliti baik-baik.., besok aku ingin
kamu menyelesaikannya, aku minta kamu membuat berkas itu singkat dan padat agar bisa lebih mudah di mengerti” ucap Rifan dengan serius, wanda menangapinya dengan sebuah garukan kepala sambil memilah beberapa lembar berkas tersebut dengan bingung.
“ya ampun sepertinya komandan memberiku hukuman karena membolos, karma datang cepat sekali” guman Wanda dalam hati meringis.
“ini sebagai hukuman karena keseringan membolos, entah apa yang kau lakukan dirumahmu, lain kali jangan ulangi.., ini bukan hukuman berat yang aku berikan kepadamu tapi hanya hukuman ringan mengingat kau sudah punya suami yang harus kau urus setiap hari”
“makanya berterima kasihlah kepadaku karena rendah hati” Lanjut Rifan kini mulai menjahil.
“sialan, dia hanya ingin mendapat pujian” batin Wanda jujur dia sangat kesal dengan penuturan Rifan yang menyebalkan.
“baik Komandan, apa hanya ini saja?” Tanya Wanda.
Rifan mengangguk lalu melanjutkan diskusi tentang kasus lainnya.
***
Reza sudah pulang awal dari biasanya, saat ini ia menunggu Wanda pulang dengan menghabiskan waktunya menyapu halaman rumah karena begitu
bnayak daun bertebaran kemana-mana dan hal itu menganggu pandangan Reza.
“Kemana sebenarnya wanita konyol itu?” guman Reza dalam hati sesekali dirinya melihat kearah pagar yang belum memunculkan diri ataupun mobil istrinya tersebut.
“ini lagi kenapa semakin banyak daun daan tidak mau habis padahal sudah dari tadi aku membersihkannya” kesalnya entah kenapa dia melampiskan kepada dedaunan yang tidak bersalah sama sekali.
Cukup lama menunggu, Reza mulai merasa dongkol sudah bagitu banyak pekerjaan yang dia lakukn karena menunggu wanita yang setiap hari
menemainya adu mulut.
“Dia lama sekali, kenapa belum pulang”
Tidak lama berselang sebuuah mobil memasuki halaman rumah yang tidak begitu luas tersebut, Reza tiba-tiba memasang wajah tidak bersahabat
dan mendekati tempat mobil itu terparkir.
“Wan—“ Reza hendak marah namun segera di urungkan begitu melihat Wanda kerepotan membawa barang balanjaan dan sebuah map berkas yang di selipkan di sampingnya.
“minggir” ujar Wanda.
“sini biar aku membantu” ucap Reza melembut, Wanda berhenti dan segera menyerahkan semuanya kepada Reza tanpa banyak berkata.
“apa-apaan ini?, Wanda!” teriak Reza kini justru dirinya yang keropotan, sedangkan wanita itu sudah meleceng masuk kedalam rumah meninggalkan dirinya sendirian terlihat sangat memprihatinkan.
“Wanda kau keterlaluannnn” teriak Reza begitu kesal. Ia hendak membanting barang-barang itu ketanah namun ia urungkan begitu mengingat semua yang Wanda beli adalah kebutuhan untuk sehari-hari.
“Lupakan saja, aku tidak mau mencari masalah dengannya dulu” kata Reza berjalan masuk dengan terlatih karena kedua tangannya penuh belum lagi sepertinya Wanda sengaja mengerjainya.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Ini lebih 1000+ kata. Besok Chan lanjut lagi yang sabar yah