The Wife Police

The Wife Police
"Jangan Menyentuh."



Wanda melangkah masuk mendekati ibu mertua dan suaminya setelan ia mengangkat panggilan dari Rifan, wanita itu duduk di samping Ani disertai senyuman, Reza hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, perkataan dari ibunya sangat memengaruhi hatinya.


"Oh iya Mah, kami akan bermalam di sini malam ini, tadi kebetulan komandanku berkata jika senin besok tidak ada pekerjaan penting dan besok aku cuti saja sehari." ujar Wanda memegang tangan ibu mertuanya.


"Benarkah itu?" tanya Ani memastikan. Wanda menganggukan kepala lalu menoleh tersenyum kepada suaminya.


Beberapa saat Wanda dan Ani menghabiskan waktu sambil berbincang-bincang bersama, kedua wanita itu terus salin melempar pertanyaan dan jawaban tentang masalah yang ada di dapur, Wanda yang perlahan memahami keadaan apa saja di dapur hanya mengedipkan kedua matanya tak kala mertuanya itu bertanya jika dirinya selalu memasak apa untuk sarapan di setiap harinya.


Wanda tidak mempunyai jawaban, ia mana tau masakan apa saja untuk sarapan, karena selama ini dirinya saja begitu jarang menghabiskan waktu di rumah apa lagi sarapan pagi, memasak saja Wanda sangat jarang.


"Wanda ... hei." panggil Ani mengguncang bahu menantunya.


"Iya Mah, ada apa?" tanya Wanda terbuyar dari lamunannya.


"Kau belum menjawab pertanyaan Mama tadi, setiap pagi kau memasak sarapan apa untuk suamimu?" tanya Ani mengulang pertanyaan tadi.


Wanda membungkam, ia hanya menatap mertuanya sambil menggigit bibirnya terlihat sangat gelisah.


"Kau kenapa gelisah sayang? ini hanya pertanyaan mudah kenapa kau tidak menjawab?"


"Ah tidak ... apa-apa Mah." sahut Wanda mencoba tersenyum


"Kau pasti lelah makanya tidak fokus."


"Reza kau ajak Istrimu kekamarmu Nak, mama yang akan menyiapkan makan siang untuk semua anggota keluarga di sini." ucapnya kepada putranya yang dari tadi hanya diam dan tidak berguna itu.


"Baiklah Mah, kami pamit ke kamar dulu." jawab Reza lantas menarik tangan Wanda dan segera mengajak istrinya itu menuju kamarnya.


***


Sepanjang hari, Wanda hanya di sibukkan dengan ponselnya setelah tadi mereka makan siang, sekarang ini Wanda dan Reza berada di taman belakang rumah menikmati pemandangan sungai buatan di belakang rumah mewah tersebut, suasana sejuk dan menangkan membuat Reza selalu betah berada di sana. Walau istrinya mengabaikannya Reza hanya bisa menghembuskan napasnya pelan menelan air liur kekecewaan.


"Reza, apa kau akan selalu mengantar jemputku dari kantor mulai sekarang? apa kau tidak lelah?" tanya Wanda tiba-tiba, Reza yang kala itu hendak menutup mata langsung menoleh kearah istrinya.


"Tidak." jawabnya singkat.


"Oh, tapi aku yang bosan Reza, sungguh jika seperti itu keinginanmu setiap hari lama-lama aku akan menjadi-"


"Diam, jangan berbicara lagi, kau ini istriku jadi sudah sepatutnya kau mau tidak harus aku yang mengantar jemput mu mulai sekarang." ujar Reza tiba-tiba marah dan memotong ucapan Wanda yang belum selesai.


"Kenapa kau malah marah? aku hanya mengatakan beban pikiranku saja."


"Siapa yang ribut, kau sendirilah yang memulai semua perubahan konyol itu dan membuatku selalu tidak nyaman." cetus Wanda memiringkan senyumnya, ingin melihat reaksi dari suaminya itu.


"Jadi kau tidak nyaman?" tanya Reza penuh selidik, rasanya penuturan dari istrinya tidak benar karena setiap dirinya menjemput Wanda, wanita itu selalu menyambutnya dengan tersenyum manis.


"Iya, aku tidak nyaman dengan tingkahmu yang berlebihan seperti itu, dari dulu kau tau kan kalau aku punya mobil sendiri atau ada Andre yang bisa melakukannya dan lagi pula kantor dan perusahaan tempat kau bekerja tidak searah, jadi aku harap mulai besok kita berangkat terpisah saja." sarana Wanda tanpa menoleh sama sekali dari ponselnya, ia terlihat mengetik sesuatu di sana membuat naluri penasaran pria itu semakin mendekatkan wajahnya.


"Wanda kau jangan coba untuk mengatur apa yang aku perbuat dan apa yang aku inginkan, kau ini istriku, matikan ponsel mu itu jangan coba-coba dekat dengan pria lain di belakang ku."


"Cih ... memang kenapa? ada Andre dan Komandan Rifan, mereka berdua seorang pria dan aku sangat dekat dengan mereka, kau mau apa?" ujar Wanda melototkan kedua mata.


"Awas saja kau, jika nanti kau hamil dan masih saja genit dengan pria lain, aku akan memintamu untuk berhenti bekerja saja, mau!" ancamnya.


"Hamil? Hah! itu tidak mungkin, kita baru melakukannya beberapa kali saja, tidak mungkin semudah itu aku bisa hamil." jawab Wanda tiba-tiba tertawa.


"Oh iya kah, kau ingin hamil secepatnya? bisa aku pastikan jika bulan depan kau pasti hamil anakku, apa kau mau terima tantanganku, wanita ceroboh."


Wanda membulatkan kedua mata, ia mendorong tubuh Reza yang sudah berada di hadapannya dan sangat dekat.


"Kau jangan pernah menyentuh pria lain, selain suamimu ini." bisiknya tepat didaun telinga istrinya itu.


Wanda mencibik dengan mengikuti perkataan Reza tanpa mengeluarkan suara.


"Apa kau sudah paham sayang." tanya Reza mengusap bibir istrinya hendak mencium namun wanita itu menolak.


"Iya, dasar orang cabul! menjauhlah."


.


.


.


.


🙏🙏


maaf atas keterlambatannya.