
Sekarang ini Wanda dan Reza tampak memasuki salah satu restoran di pusat kota, keduanya duduk di salah satu meja saling berhadapan satu sama lain.
Salah satu pelayan mendekati mereka menanyak ingin memesan apa, Reza memesan beberapa makanan mendahului Wanda yang hendak ingin memesan juga.
"Apa hanya itu saja Tuan ... Ibu polisi." tanya pelayan tersebut.
"Iya, hanya itu, pergilah!" jawab Reza melambaikan tangan mengusir pelayan tersebut.
Dua puluh menit kemudian, semua pesanan di antara oleh beberapa pelayan ke meja di mana sepasang suami istri tersebut duduk, Wanda yang dari tadi hanya fokus akan ponselnya langsung meletakkan ponsel android miliknya di atas meja begitu makanan berada di hadapannya.
"Aku sudah lapar, makan yang mana dulu?" batin Wanda saat menatap semua makanan itu satu-persatu.
Reza menatap istrinya menggelengkan kepala lalu menghembuskan napasnya, sepanjang mereka menunggu pesanan tadi Wanda lebih tertarik pada ponselnya dari pada dirinya yang jelas-jelas sedari tadi tidak berhenti memperhatikan aktivitas istrinya itu.
"Cepat makan, kenapa kau hanya menatapnya?" ujar Reza.
"Hum, iya ... iya. baiklah." sahut Wanda, matanya menatap ke mangkuk berisi sup sayuran, uap panas masih terlihat di sana membuat wanita itu lantas memindahkannya ke hadapannya.
"Kau cuma mau menyantap itu saja, susah-susah aku memesan semua makanan ini untukmu. Kau malah hanya ingin makan sup sayur saja." ujar Reza tidak memindahkan tatapannya dari istrinya tersebut.
"Kau ini laki-laki, kenapa sangat cerewet?" ujar Wanda.
"Terserah aku mau makan yang mana, kenapa kau malah mengatur-mengatur." lanjutnya. Wanita tersebut lantas mengambil sendok dan mulai menyuapkan sup sayuran itu kedalam mulutnya.
Reza di buat melongo, istrinya ini sangat berubah dari beberapa bulan yang lalu, sebelumnya Wanda tidak secewet sekarang ini yang wanita itu tau hanya membuat kekacauan di dalam rumah lalu meminta maaf, namun sekarang apa yang dirinya saksikan. istrinya itu bersikap ketus hampir menyemai dirinya.
Namun seketika Reza langsung teringat akan yang terjadi tadi pagi, perlahan pria itu meraih tangan Wanda menggenggamnya sedikit erat.
"Ada apa?" tanya Wanda mengangkat wajah menghentikan aktivitas makan siangnya, meletakkan sendok di mangkuk sup tersebut.
"Siapa pria yang tadi pagi menjemputmu?, apa selingkuhanmu?" tanya Reza penuh selidik raut wajah pria itu bahkan seakan murka setelah bertanya kepada istrinya.
Wanda bukannya menjawab justru wanita itu tanpa sengaja tersenyum miring membuat Reza semakin curiga.
"Memang kenapa kalau aku selingkuh kau ada masalah atau kau ingin berpisah denganku, lakukan saja aku sudah tidak peduli lagi." jawab Wanda datar.
"Wanda!, kau!" bentaknya.
"Apa?, aku kenapa?, kau marah?, silakan saja Reza lagi pula hubungan kita di mulai tanpa adanya rasa satu sama lain." ujar Wanda, Reza semakin menggenggam tangan wanita yang menjadi istrinya itu begitu erat, kecurigaannya sudah menguasai dirinya.
"Wanda berani sekali kau!" geramnya.
"Hei, jangan membuat keributan di tempat umum, mau malu kau." ucap Wanda sorot matanya tampak meledek pria di hadapannya itu.
Reza yang di selimuti rasa cemburu dan kesal mengepalkan tangannya, kesabarannya akan benar-benar habis beberapa menit jika dirinya berbicara dengan istrinya membahas pria yang menjemput istrinya.
"Cepat bantu aku menghabiskan semua makan siang ini, dan ingat semua tagihannya kau yang bayar, karena kau sendiri yang mengajakku makan siang bersamamu."
"Humm" hanya itu saja yang keluar dari mulut Reza, dirinya benar-benar sempat di buat ketakutan akan kehilangan istrinya itu.
Seketika dirinya begitu lega, ternyata wanita itu hanya mempermainkannya saja, Reza pun segera menikmati seluruh hidangan yang ada di atas meja, jujur saja baru kali ini mereka makan di luar bersama-sama.
***
Setelah makan siang bersama, Wanda berpamitan sebentar kepada suaminya ia hendak ke toilet untuk membuang air kecil karena ia sudah tidak tahan.
Sedangkan Reza menerima telepon dari atasannya, tidak lama setelah berbicara dengan atasannya Reza kembali meletakkan ponselnya kedalam saku lalu berjalan menuju tempat parkir dimana ia meletakkan mobilnya.
Sembari menunggu kedatangan Wanda sesekali pria itu bersiul-siul dengan santainya. Matanya tidak lepas memandang jendela mobil.
"Kenapa lama sekali." guman Reza menatap jam tangan miliknya.
Wanda belum menampakkan wajah sama sekali, pria itu merasa menunggu istrinya begitu lama lantas merogoh saku celananya meraih ponselnya.
"Sialan, pasti dia ingin kabur seperti pagi tadi." pikir Reza.
"Wanda kemana sih, tadi dia hanya izin untuk buang air kecil tapi kenapa ia begitu lama." katanya bergerutu sambil memainkan ponsel miliknya karena merasa bosan menunggu kedatangan istrinya.
Lima menit kemudian, Wanda tiba-tiba mengetuk jendela pintu mobil suaminya, wajah wanita itu tampak pucat seperti tidak ada darah yang mengaliri sudut-sudut wajah istrinya. Reza seketika membukakan pintu agar mempermudah istrinya masuk kedalaman.
Wanda duduk mematung di dalam mobil bahkan tali pengaman saja Reza yang memasanginya.
"Kau kenapa? habis liat orang kesurupan?, atau apa?, Wanda kau kenapa?" tanya Reza bertubi-tubi mengusap wajah Wanda.
"Aku tidak apa-apa, ayo aku mau kembali berkerja." ujarnya tidak memindahkan tatapan sama sekali.
Reza yang selalu tidak mendapatkan jawab dari setiap pertanyaannya merasa tidak berguna sebagai seorang yang sangat di butuhkan oleh istrinya itu, Wanda tidak pernah membagi cerita kepadanya selama ini, pria itu lalu menghela napas lantas melepaskan usapan tangannya lalu menyalakan mobilnya.
.
.
.
.
Sisa 14 eps lagi yah 😘😘🙏 terima kasih kepada yang setia kepada Chan 🌹🌹 dua tangkai nih bunga .