The Wife Police

The Wife Police
"Tidak Akan Sanggup."



Pagi hari, sinar mentari perlahan menyilaukan bumi, Wanda masih melakukan ritual mandi paginya.


Sementara Reza baru saja bangun dari tidur panjangnya membuka mata lalu mengucek mata duduk di sisi tempat tidur sementara untuk mengumpulkan kesadarannya, saat mendengar suara deringan ponsel Reza langsung bangkit dan mencari asal suara tersebut.


"Ini ponsel Wanda, siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini." ucap Reza bergumam masih memandang ponsel yang berbunyi milik istriya, ia begitu enggan untuk sekedar mengangkatnya.


Tidak lama kemudian suara deringan itu berhenti, Reza membalikkan tubuhnya hendak keluar kamar namun suara deringan ponsel itu kembali terdengar. Secara terpaksa ia tidak jadi keluar dan kembali menghampiri ponsel itu.


Reza yang penasaran meraih ponsel itu dan saat melihat namanya yang tertera di sana Reza lantas menyengirkan kening karena nama yang tertera di sana adalah. 'Andre menyebalkan.' nama itulah yang menghubungi istrinya.


"Andre lagi, apa sebenarnya hubungan mereka?" guman Reza dengan kening berkerut menandakan ketidak sukaanya, ia hendak mematikan ponsel itu namun tiba-tiba seseorang langsung menegurnya.


"Sedang apa kau dengan ponselku, beraninya menyentuh ponselku." ucap Wanda tiba-tiba menghampiri Reza dan merampas ponselnya dari tangan suaminya tersebut.


"K-kau."


"Wanda!" bentak Reza karena istrinya berlaku kurang ajar kepadanya.


"Apa?" sahut wanita itu.


"Kau jangan kurang ajar kepada suamimu! ingat kau itu wanita yang sudah bersuami jangan berhubungan baik dengan pria lain apalagi-" ucapan Reza terputus begitu Wanda memukul mulutnya.


"Diamlah, jangan banyak bicara." pinta Wanda, ia mengeser ikon hijau tersebut mengangkat panggilan dari rekan kerja sekaligus sahabatnya.


"Halo ada apa kau menghubungiku di jam sepagi ini?" tanya wanita itu.


"Wanda, apa hari ini kau bertugas?" tanya Andre dari seberang telepon.


"Iya, memang kenapa? Apa kau merindukanku?" ucap Wanda dengan nada suara terdengar meledek.


"ihh, siapa juga yang mau merindukan wanita gila sepertimu, bukan hal itu dasar bodoh." ujar Andre.


"Cih, ada apa sebenarnya cepat katakan, aku mau memakai baju."


Terdengar hembusan napas, Wanda mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Andre kepadanya, sesekali ia melirik Reza yang sudah merah seperti kepiting rebus, Wanda mencoba mengabaikan suaminya itu dengan tidak menghiraukan tatapan Reza sama sekali.


***


"Reza nanti sore kau langsung pulang kerumah saja, aku akan pulang terlambat." ucap Wanita itu begitu mobil Reza berhenti tepat di depan gerbang kantor polisi.


"Kenapa?" tanya Reza.


"Aku punya banyak kesibukan di sini dan kau tidak perlu khawatir tentang diriku." ucap Wanda, lalu melepas sabuk pengaman dari tubuhnya hendak keluar dari mobil suaminya.


"Tunggu sebentar." Reza menahan lengan wanita sebelum Wanda benar-benar keluar dari sana.


"Apa?" tanya Wanda.


"Ingat jangan terlalu dekat dengan si Andre itu atau kau akan tau akibatnya." Reza berkata sambil menunjuk wajah Wanda berharap istrinya itu mengerti akan perkataannya.


"Iya, aku akan menjaga jarak, tapi bagaimana bisa Andre itu sahabatku dan sejak smp kami sangat dekat."


"Jangan terlalu banyak mengatur, sudah pergi sana nanti kau terlambat masuk kerja." ujar Wanda mengakhiri pembicaraan mereka berdua, sesegera mungkin wanita itu keluar dari mobil berlari. masuk kedalaman kantornya.


Reza tidak berdaya, ingin rasanya pria itu meminta istrinya untuk berhenti dari pekerjaan itu dan menjadi ibu rumah tangga saja seperti wanita lainnya, namun apa yang bisa ia perbuat bekerja sebagai anggota kepolisian sudah menjadi impian istrinya dari kecil, kini sudah tercapai tidak mungkin Reza menghancurkan segala usaha istrinya itu.


"Sudahlah, kami akan baik-baik saja." ucap pria itu setelah Wanda hilang dari pandangannya.


^^^


Kantor Reza.


Begitu pria itu sampai di. tempat kerjanya, gerak gerik Putri tidak terlihat lagi, semenjak pertemuan mereka kemarin di Mall. Reza sesaat menatap meja kerja Putri yang berada di depan ruangannya lalu menghembuskan napasnya pelan.


"Aku tidak pernah berpikir jika Putri bisa berpikir serendah itu, Wanda satu-satunya istriku dan selamanya akan seperti itu." ucap Reza lalu meninggalkan meja kerja sekretarisnya yang kini kosong.


Ia masuk kedalaman ruangannya, begitu pintu terbuka seseorang tengah menunggunya di sana dan duduk di sofa dengan kedua kaki di silangkan.


"Reza, apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Putri kenapa kemarin dia menemuiku dan berpamitan kepadaku?" tanya orang itu kepada Reza.


"Apa kau bilang, tidak ada? kemarin Putri menangis saat menemuiku dan bisa kupastikan penyebabnya pasti dirimu bukan? Jujur saja kepadaku."


"Memang tidak ada yang penting, jangan menggangguku, pergilah."


"Reza apa yang terjadi kepadamu? Putri mencintaimu bodoh dan kau juga suka kepadanya, kenapa kau tidak coba menjalin hubungan dengannya." ujar Tio menatap tajam sahabatnya itu.


"Jaga bicaramu! aku sudah beristri tidak mungkin aku berselingkuh dari istriku, kau sebaiknya pergi sebelum aku meminta keamanan yang mengusirmu."


"Pergi!" usir Reza, Namun Tio seakan tuli dan tidak bergerak sama sekali di tempatnya.


"Heh, apa kau sudah mau mengakui istrimu itu, aku kira kau mau menceraikannya. Sayang sekali ...." kata Tio menarik sudut bibirnya.


Saat Reza hendak menyahuti perkataan Tio, ponselnya tiba-tiba berbunyi lantas Reza langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Kau jangan bicara!" ancamnya kepada Tio.


"Wanda?" guman Reza, ia heran tidak biasanya istrinya akan menghubunginya di jam seperti ini. Tidak mau berpikir panjang Reza langsung mengangkatnya.


"Halo, Wanda ada apa?" ucap Reza.


"Apa Anda suami wanita pemilik ponsel ini?"


Reza sejenak terdiam ini bukan suara istrinya tapi suara pria, tiba-tiba keningnya berkerut kesal, ia melirik Tio sedang tersenyum sinis kearahnya.


"Kau siapa? Dimana istriku Wanda?" tanya Reza.


"Terjadi kecelakaan di jalan tol Tuan dan sepertinya istri Anda menjadi salah satu korban dan kini sudah di. larikan kerumah sakit terdekat." Jantung Reza berhenti berdetak saat mendengar berita itu.


"Ti-dak mungkin, is-triku tadi sudah aku antar sampai ke tempat kerjanya dengan selamat, tidak mungkin dia kecelakaan." sahut Reza dengan suara bergetar.


Ia tidak percaya kepada orang yang menghubunginya.


"Tuan, saya serius, terjadi tabrak lari di sini dua orang polisi satu perempuan satu lagi pria Tuan, jika Anda tidak percaya Tuan langsung periksa di rumah sakit mawar indah."


"Dan ponsel istri Anda akan saya bawa ke kantor polisi."


"Itu tidak mungkin, Wanda akan baik-baik saja." bantah Reza tidak mau percaya, Wanda tidak mungkin mengalami kecelakaan dan meninggalkannya sendirian pria itu tidak akan sanggup kehilangan istrinya.


Reza menutup panggilan itu dan tersungkur ke lantai, ia menangis untuk pertama kalinya betapa kaget dirinya mendapatkan kabar seperti ini.


Tio terlihat menghampiri Reza dan menepuk bahu sahabat itu.


"Apa yang terjadi? Wanda kenapa?" tanya Tio.


Reza mengangkat wajahnya. "Wa-nda kecelakaan, aku tidak sanggup jika terjadi sesuatu kepadanya dan meninggalkanku." jawab Reza terlihat wajahnya pucat.


"Lalu kenapa kau masih disini, kau cepat temui dia sebelum kau menyesal."


Reza menggeleng, ia tidak mau.


"Kau jangan bodoh Reza, apa kau tidak mau melihat dan memastikan kondisinya, Hah!" bentak Tio.


Reza menatap Tio, perkataan sahabat itu benar ia harus menemui Wanda dan memastikan kondisinya dengan kepala dan matanya sendiri.


Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya, Reza tidak akan sanggup kehilangan wanita yang membuatnya jatuh cinta.


.


.


.


.


.


πŸšΆβ€β™€πŸšΆβ€β™€πŸšΆβ€β™€ Satu eps Lagi.