
Setelah makan bersama, Wanda mencuci piring bekas dan Reza merapikan meja makan.
"Wanda setelah ini kau temui aku di ruang tamu." tutur Reza.
"Baiklah, tunggu aku sampai selesai cuci piring kotor ini." sahut Wanda menoleh setengah wajah, kedua tangannya masih penuh dengan busa sabun.
Reza mengangguk lalu pergi dari sana setelah mengerjakan tugasnya, sedangkan Wanda kembali melanjutkan mencuci piring kotor yang cukup banyak itu apalagi dirinya habis memasak beberapa panci bahkan terlihat menumpuk, Wanda melakukan tugasnya itu dengan bersemangat karena ini sudah kewajibannya.
Tidak lama berselang, Wanda selesai mencari piring dan meletakkan piring bersih itu di atas rak piring.
Ia mengeringkan kedua tangannya dengan kain lap bersih yang baru saja ia ambil di laci.
Setelah itu Wanda beranjak meninggalkan dapur dan berjalan keruang tamu menemui Reza, entah apa penyebabnya sehingga Reza memanggilnya kesini.
"Ada apa kau menyuruhku kesini? Apa aku punya salah lagi kepadamu? Atau ...."
"Duduklah sini, jangan berpikiran aneh-aneh." ujar Reza menoleh dan melambaikan tangannya memanggil Wanda agar duduk di sampingnya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Wanda begitu mendaratkan pantatnya di atas sofa.
"Hum ...."
"Ada apa menyuruhku kesini?" tanya Wanda mengulang pertanyaannya dan mendesak, ia menatap kedua mata Reza begitu lekat.
Pria itu tiba-tiba salah tingkah dan terlihat langsung mengaruk kepalanya sendiri walau tidak gatal. Wanda yang melihatnya semakin mengerutkan keningnya karena heran.
"Kepalamu gatal? Apa ketombean ... sini coba aku liat." ujar Wanda menarik kepala suaminya secara tiba-tiba. Reza yang belum sempat menyela perkataan Wanda langsung dibuat kaget akan tindakan tiba-tiba dari istrinya tersebut.
"Auhh, apa yang kau lakukan? Jangan menyiksaku." keluh Reza segera menjauhkan kepalanya dari istrinya tersebut.
"Terus kau kenapa?"
"Itu ... aku ... aku ...." ucap Reza terbata-bata.
Wanda menatap suaminya dengan wajah jenuh, kenapa suaminya yang bermulut beracun itu tiba-tiba saja menjadi sangat aneh.
"Cih, apa? Ayo katakan."
"Umm ... Wanda, apa kau mau berkencan bersamaku hari ini?"
"Kencan?"
"Iya, apa kau mau berkencan bersamaku, aku mau mengenal dirimu lebih banyak dan ingin memulai semuanya dari awal." ujar Reza meraih tangan Wanda menggenggamnya dengan erat.
Wanita itu justru hanya diam memperhatikan Reza dan tidak merespon.
"Wanda jawablah, apa kau mau berkencan denganku?" tanya Reza lagi. Wanda sejenak tersenyum dan menarik tangan sendiri dari genggaman suaminya.
"Tidak, Aku tidak mau ... lebih baik aku habiskan waktu yang berharga untuk tidur. besok aku harus pergi pagi-pagi ke kantor." tolak Wanda menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak mau apa selama ini kau masih menaruh den dendam terhadapku dan sekarang kau menolak ajakku?" seru Reza.
"Tidak, siapa juga yang menaruh dendam, aku hanya malas saja keluar rumah, lebih baik aku istirahat saja dari pada menyetujui ajakanmu."
"Aku mau keatas dulu." lanjut Wanda berdiri dari sofa dan segera menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar tidur bersama dengan Reza berada.
"Selalu saja menolak, dia tidak pernah mau menerima ajakanku! Etahlah ...." guman Reza menatap punggung istrinya yang terlihat sangat bersemangat.
Tidak. lama berselang, Reza juga beranjak menyusul Wanda kekamar dengan langkah di sertai dengan senyuman di sudut bibirnya Reza tampak ingin melakukan sesuatu.
Ceklek ....
Pintu terbuka, terlihatlah Wanda ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur, Reza menatap istrinya sesaat lalu menutup pintu kembali dan menguncinya dari dalam.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Wanda was-was memperhatikan Reza yang berjalan mendekatinya.
"Aku mau tidur siang, jangan menggangguku!" ucap Wanda tidak mengubah apapun, justru Reza semakin menatapnya.
"Aku tau, kita tidur siang bersama saja, ini juga tempat tidurku kau tau bukan."
"Sialan, dia pasti ingin mengganggu waktu istirahatku." gumannya dalam hati seakan sudah bisa menebak keinginan suaminya tersebut.
Reza perlahan mendaratkan tubuhnya di kasur, ia. tersenyum dengan penuh maksud kepada istrinya.
"Kau tidak perlu takut kepada suamimu, Wanda sayang kita harus melanjutkan program bayi nya supaya kita punya anak." ucapnya tepat didaun telinga Wanda membuat wanita itu merinding sendiri merasa geli.
"A-apa? Program bayi apa?" tanya Wanda.
"Kau jangan pura-pura bodoh, nikmati saja." jawab pria itu tangannya mulai meraba tubuh istrinya dengan liar hingga pakaian yang Wanda kenakan sudah terlepas dari tubuh wanita tersebut.
"Re-zaaa jangan lakukan." keluh Wanda begitu Reza terus melakukan kegiatannya.
"Usstt! Diamlah ... kau hanya perlu menikmatinya jangan mencoba menolak kali ini!" ancam Reza.
Reza dengan cepat menarik tubuh Wanda dan menindihnya di atas sana segera menghabiskan waktu bersama.
***
Satu jam setelahnya, pria itu mengusap wajah istrinya dengan sangat lembut, entah kenapa sekarang ia sangat ketakutan jika suatu hari nanti Wanda pergi meninggalkan dirinya dan tidak pernah kembali lagi.
Reza sudah jatuh hati kepada wanita yang selama ini ia anggap bodoh dan tidak berguna, di masa-masa awal pernikahannya pun Reza sempat berpikir untuk mengakhiri pernikahannya ini dengan Wanda namun sering berjalannya waktu, Reza sudah mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan Wanda, ada rasa takut tersendiri di dalam hatinya.
Apalagi Wanda mempunyai seorang sahabat pria yang mungkin bisa saja merebut Wanda darinya. Reza tidak mau hal itu terjadi dan akan berusaha agar istrinya segera hamil jadi cela untuk Wanda berpisah dengannya semakin sulit.
"Kau tidak tidur?" tanya Wanda tiba-tiba membuka maa padahal baru beberapa menit yang lalu ia menutup matanya karena kelelahan.
"Aku belum mengantuk, kalau kau merasa lelah kembali lah tidur aku akan menemanimu." ucap Reza memeluk Wanda membenamkan wajah istrinya itu kedadanya yang masih telanjang.
"Um, iya aku sangat lelah dan mengantuk, aku mau tidur lagi saja." ucap Wanda lalu membalas pelukan hangat itu.
***
Waktu sudah menjelang sore hari, Wanda baru saja membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat tadi namun itupun mandi bersama dengan Reza untuk mempersingkat waktu, tapi bukannya mereka cepat selesai namun justru semakin lebih lama apa lagi kedua tangan Reza tidak berhenti nakal dan meraba setiap jengkal tubuhnya.
Wanda hanya bisa pasrah, ia tidak bisa menolak keinginan dari suaminya itu walau ia kelelahan.
"Wanda sayang, ayo kita cari makan malam di luar sekalian kita jalan-jalan melihat matahari tenggelam." ucap Reza yang sudah berpenampilan rapi dan wajahnya berseri-seri.
"Kenapa harus keluar, kita bisa makan di rumah." kata Wanda menoleh dengan wajah cemberutnya.
"Tidak ada makanan di rumah kita, kau tidak memasak dan aku tidak mau menunggu sampai kau selesai memasak."
"Humm, jadi kita harus makan diluar?" tanya Wanda.
"Iya, ayo ...." ajak Reza menarik tangan istrinya, sebelum itu ia mengambil jaket dengan warna senada yang sudah Reza persiapan sebelumnya dan memakaikan jaket itu ke Wanda juga.
.
.
.
🙁
Aku nulis ulang, seharusnya kemarin malam sudah tapi aku ketiduran terus naskahnya separuh hilang karena lupa Save maaf buat yang menunggu 🙏
Tersisa dua eps lagi yah.. 😒😒. Jangan tanya konfliknya, karena aku gak tau buat konflik apalagi konflik berat, bisa nangis sendiri aku.
.