The Wife Police

The Wife Police
"Pembuat Onar"



Pagi harinya..


Wanda lagi-lagi kembali ke dapur, kemarin sore dapurnya sudah di perbaiki oleh tukang. Wanda kembali bertempur di sana mencoba membuat sarapan untuk suami dan dirinya sendiri.


Bermodalkan resep dari Internet Atau Lebih tepatnya YouTube, Wanda membuat sebuah nasi goreng kecap dan ayam panggang, dengan secara perlahan Wanda memasukkan ayam yang sudah dibumbui dengan rempah itu ke dalam panggangan.


"Sedang apa kau.. Mau membuat kebakaran lagi"


Sebuah suara membuat Wanda menghentikan gerakannya.


Wanda menghela napas pelan, pria itu tampak sudah rapi dengan setelan kerjanya.


"Ah.. Tidak bukan begitu, aku hanya ingin membuatkan sarapan saja"


Ucap Wanda mencoba tersenyum menepis rasa sakit hatinya, dengan tudingan dari Reza.


"Berhentilah membuat onar...., Kau sangat tidak berguna sama sekali, kau tidak perlu membuat sarapan jika aku tidak memintamu"


Ketus Reza berjalan keluar dari Dapur, Reza tidak bisa lagi melihat raut kekecewaan di wajah Wanda yang ditujukan untuknya.


Ia mengambil tas kerjanya di atas sofa, lalu pergi dari sana tanpa mengucapkan kata maupun berpamitan.


"Dasar menyebalkan.. Bisa-bisanya ia menudingku pembuat onar, Jelas sekali aku ini seorang plowan yang selalu melindungi para rakyatku"


Guman Wanda menatap punggung suaminya yang perlahan hilang di balik pintu.


"lihat saja.. Pria itu bahkan tidak pamit"


Wanda kembali menghela napas berusaha mengumpulkan kesabaran di hatinya atas perlakuan dari Reza yang setia saat menyakitkan.


"Aku juga harus bekerja.."


Wanda menghentikan aksi memasaknya, ia membuang kembali masakan yang setengah jadi itu ketempat sampah.


***


Sampai di kantor polisi, Wanda mendapat kekesalan yang luar bisa. pria itu komandannya tidak lain Rifan langsung merangkul bahunya tanpa izin..


"Komandan.. Lepas nanti banyak gosip yang menyebar kemana-mana karena kelakuanmu ini, ingat komandan aku sudah punya suami, Jadi tolong jaga jarak anda"


Wanda menepis rangkulan Rifan di bahunya.


Rifan tidak peduli, Menurutnya semakin Wanda kesal, ia akan semakin bahagia juga, Rifan malah mempererat rangkulan itu.


"Wanda jangan melawan, Atau aku akan mengistirahatkan kamu kerja selamanya"


Ancam Rifan berpura-pura serius menatap wajah Wanda yang kesal.


Wanda tidak menanggapinya lagi, ia sudah pasrah, Rifan orang yang cenderung menyebalkan dari atas semua prestasinya, Namun Wanda berpikir yang lebih menyebalkan itu adalah suaminya yang mempunyai mulut beracun.


"Iiisss"


"Kau kenapa lagi, masih mau membuatku kesal"


Tanya Wanda ketus ketika mereka sudah berada di dalam ruangannya.


"tiba-tiba saja, Sifatmu ikut dingin rupanya, Apa si suamimu itu yang mengajarimu Wanda"


"Diamlah.. Aku pusing"


"pusing..? Apa kau hamil"


Tanya Rifan penasaran, sebelum-sebelumnya Wanda tidak pernah sakit atau gimana pun.


Wanda memijit ujung hidungnya, Kenapa harus pertanyaan itu lagi.


"Terus kenapa kau bilang kepadaku bahwa kepalamu sakit"


"Komandan, Aku pusing karena anda yang selalu menggangguku setiap hari dan setiap saat"


Jalas Wanda melotot, sopan santun sudah tidak di pedulikan olehnya, Biarkan saja!!Komandannya sendiri tidak pernah sopan kepadanya.


Rifan hanya membentuk O di mulutnya, Lalu duduk di sofa dengan santai seolah tidak pernah mendengar ucapan kekesalan dari Wanda untuknya.


"Sudahlah.. Tidak di rumah!, disini sama saja"


Gerutu Wanda duduk di kursi kerjanya. Melanjutkan pekerjaan kemarin yang belum rampung.


***


"Reza..! Kau seperti orang kesurupan saja. Apa Istrimu tidak membuat sarapan"


Tanya Tio, Reza kembali lagi ke Cafenya..


"Berhentilah bertanya.. Wanita itu tidak tau masak sama sekali"


Jawabnya menatap tidak suka, Reza menguyah roti isi itu dengan sangat rakus.


Tio menghentikan ucapan yang baru saja ia mau keluarkan..


"Apa sudah ada kabar dari Putri..??"


Tanya Reza, Tio tampak diam tidak menanggapinya.


"Tio.. Bodoh aku bertanya kau tidak menjawabnya"


Tio memicingkan mata ke arah Reza...


"Reza.. Yang bodoh itu kau, Tentu saja aku sudah mendapat kabarnya"


Jawab Tio santai di ikuti senyuman sinis.


"bagaimana.. Kapan Putri kembali kemari,Jujur aku sangat merindukannya"


Kata Reza antusias, ia seakan lupa bahwa dirinya sudah memiliki Istri.


"Auh... Sakit!, kenapa kau mengetok kepalaku"


Ringis Reza ketika Tio mengetuk kepala nya dengan sendok yang di pakainya makan tadi.


"Reza, bodoh.. Ingat kau harus melupakan Putri, kau sudah punya Istri cantik pula, apa kau tidak bersyukur"


"Siapa yang peduli.. Intinya Aku merindukan Putri"


Ujar Reza tersenyum ke arahnya.. Entah apa yang dilakukan oleh Reza sabatnya ini..


.


.


.


.


.


Tbc... !!!