
Wanda di pinggir jalan tengah melakukan tugasnya sebagai seorang anggota polisi, ia memeriksa surat-surat dan kelengkapan setiap pengendara motor maupun mobil, Wanda sudah bertugas di sana beberapa jam yang lalu tanpa istirahat makan saja Wanda sampai lupa karena sangat menikmati dan mencintai pekerjaannya tersebut.
Bermacam-macam tipe orang Wanda hadapi dengan tetap profesional meskipun mulutnya sangat ingin mengeluarkan semua kata-kata kasar karena kesal dengan berbagai ulah pelanggar yang tidak ada habisnya.
“ingin sekali aku mencungkil matanya, sungguh kurang ajar” Guman Wanda dalam hati.
“sepertinya semua lelaki sama saja,mata keranjang” lanjutnya lagi, Wanda menarik napas untuk menetralisir rasa kesalnya yang justru akan menjadi masalah yang lebih panjang jika ia meluapkan emosinya.
Fitri dan Rifan sedari tadi melihat ke arah Wanda, kedua orang itu sangat tidak tau yang mana sebenarnya menjadi sifat asli dari Wanda, terkadang wanita itu sangat kasar dan tidak bisa mengendalikan emosinya namun terkadang juga bisa bersikap sabar seperti sekarang ini walau begitu banyak yang membuatnya kesal dengan merayu dan menggoda akan kecantikannya.
“komandan.., sepertinya Wanda butuh bantuan” ucap Fitri, ia hendak berjalan menghampiri Wanda namun langsung di cegah oleh Rifan.
“tidak, kau jangan ke sana.. sebaiknya kita mengawasi Wanda dari sini saja.., kau lanjutkan tugasmu sudah hampir sore” kata Rifan.
“Tapi komandan, saya takut Wanda kehilangan kendali..”
“Fitri!, sudah kukatakan lakukan saja tugasmu, kita akan mengawasi Wanda dari sini saja, kau jangan khawatir”
“komandan—“
“ussttt, diamlah, jangan membantah lagi” ucap Rifan dengan tegas dan penuh penekanan membuat Fitri yang hendak menyahut lagi lantas mengurungkan niatnya tersebut, ia pun segera melanjutkan tugasnya.
***
Reza di dalam perjalan pulang kerumah dengan membawa sebuah bingkisan kantong warna coklat
yang ia letakkan di sisi kemudi, Reza tadinya yang ingin makan bersama dengan bosnya terpaksa berpamitan pulang karena mengingat istrinya yang bernama Wanda itu yang hobi membolos kerja, ia seharusnya lebih tegas kepada istrinya agar tidak semena-mena lagi.
Sesekali Reza berusaha menghubungi nomor ponsel Wanda namun tidak aktif, Reza merasa bahwa
Wanda sengaja mematika ponselnya karena masih menghindari dirinya, dengan hela napas yang kasar Reza sepertinya harus bisa menjaga mulutnya saat berbicara dengan istrinya itu, Pria itu tentu saja selalu sadar dengan setiap ucapanya kepada istrinya, Reza dari awal tidak pernah mengira bahwa wanita yang ia nikahi tidak bisa melakukan pekerjaan rumah sama sekali dan payah sontak awalnya membuat ia tidak bisa menerima kenyataan ini.
Merasa ada yang aneh dengan dirinya akhir-akhir ini, Reza mulai mengingingkan Wanda tentu saja sebagai pria normal Reza sesekali tergoda dengan lekuk tubuh indah wanita yang menjadi istrinya tersebut, tidak ada yang bisa memunkiri bahwa Wanda tipe wanita cantik muda dan enerjik pasti banyak yang suka dengan istrinya itu.
“Tidak boleh, aku pria pertama yang akan memilikinya” ucap Reza tanpa sadar dengan ucapannya yang lolos begitu saja dari mulutnya.
“astaga apa yang aku pikirkan” Reza terbuyar dari lamunannya sendiri, entah kenapa sekarang dirinya selalu memikirkan Wanda, ia menggeleng dan memfokuskan dirinya kembali.
Tidak lama kemudian Reza menyengir heran dengan kondisi jalan raya yang tampak macet banyak polisi di depan sana dan tidak biasanya, Reza tidak mau ambil pusing ia tetap melajukan kendaraannya , perlahan Reza mengemudikan mobilnya hingga kedua matanya melotot saat menangkap seseorang tiba-tiba membuat Reza merasa dongkol akan kebodohannya.
“sungguh konyol, kenapa aku begitu bodoh ” kesalnya atas kebodohannya.
Reza memijit pelipisnya seharusnya ia tidak sebodoh ini, pagi-pagi ia berusaha membangungkan Wanda bahkan sampai berteriak seperti orang gila dan apa yang sekarang yang ia lihat, wanita yang ia khawatirkan dari pagi tengah berada di pinggir jalan bertugas dengan raut wajah ramah, perlahan laju mobil Reza mendekati Wanda, Reza sadar ia seharusnya bisa bersyukur menikah dengan wanita cantik berprofesi sebagai polisi wanita yang kini terhalang dengan kaca jendela mobilnya saja.
“pak, tolong buka jendela kaca mobilnya.., saya meminta kelengkapan surat-surat anda” kata Wanda sambil mengetuk-getuk jendela mobil yang berwarna gelap tersebut.
“Pak..” panggil Wanda lagi.
Reza secara perlahan menurungkan kaca mobilnya lalu menoleh menghadap ke arah Wanda beriringan sebuah senyuman terpaksa untuknya, Wanda yang kala itu tidak menyangka akan bertemu dengan suaminya menatung di tempatnya tidak sadar bahwa Reza memyodorkan semua surat-surat kelengkapan m kendaraanya.
“Ini yang kau minta ibu polisi” ujar Reza dengan senyuman usilnya, Wanda hanya terdiam tidak meyahutinya sama sekali.
“hummm, iya” sahut Wanda pada akhirnya, ia mengambil surat itu lalu memeriksannya sekilas.
“lengkap, silakan lanjutkan perjalan anda Tuan, maaf telah menganggu” ucap Wanda kembali menyerahkan kepada Reza namun enggan menatap wajah suaminya sendiri, Reza mengambil surat-surat miliknya lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.
“Wanda..” panggil Reza.
“Humm, ada apa?” tanya Wanda menghentikan niatnya untuk pergi dari hadapan Reza.
“Kapan kau kembali, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu”
“kenapa kau bertanya hal seperti itu tidak bisanya kau seperti ini” sahut Wanda mengerutkan keningnya.
“jawab saja Wanda”
“memang kenapa kau mau tau, Hah.., jangan mengangguku Reza aku sedang melakukan perkerjaanku, aku mohon kau pergi saja, aku akan pulang jika sudah waktunya, jadi kau pergi saja dari sini” Kata Wanda lalu segera membalikkan tubuhnya
berjalan tanpa menghiraukan Reza sama sekali.
“cihh, Wanita itu kenapa akhir-akhir ini sikapnya malah ketus seperti itu” guman Reza, niatnya untuk mengajak istrinya berbicara lagi-lagi gagal karena tampak kesalahpahaman diantara keduanya sudah lebih besar dari sebelumnya dan ini semua gara-gara dirinya sendiri.
“sudahlah sebaiknya aku menunggu dia pulang saja”
Reza lalu menarik pedal gas mobilnya lalu kembali melajutkan perjalanannya pulang kerumah, jalan raya yang sudah lancar begitu melewati para polisi lalu lintas yang bertugas disana.
***
Pukul 09.00 malam, Wanda memarkirkan mobil di garasi tepat samping mobil hitam milik suaminya, ia sekilas memperhatikan mobilnya dan mobil Reza yang tampak sangat jauh berbeda, melihat dan membandingkannya Wanda menghela napasnya pantas saja Reza mengatakan bahwa mobilnya adalah mobil tidak canggih ronsokan, Mobil Reza begitu mewah dengan warna hitam yang sangat menkilap di setiap sisinya berbeda dengan miliknya yang warnanya agak kusam.
“sabar Wanda, kau harus rajin-rajin menabung agar bisa membeli mobil yang lebih bagus dari pria sombong itu” gumannya.
Wanda sejenak menarik napasnya lalu berjalan menjauh dari garasi menuju rumah.
“ting tong..ting tong” (Suara bel pintu Rumah).
Wanda terus menekanya berkali-kali, ia tidak membawa kunci rumah karena pagi tadi ia begitu terburu-buru, Wanda terus berdiri dan menekan bel pintu rumahnya namun belum mendapat respon.
“Kemana pria itu, kenapa tidak membukakan pintu untukku” gerutu Wanda mulai kesal.
.
.
.
.
.
Bersambung..