
“capek..?” Tanya Wanda begitu Reza selesai meletakkan semua barang belanjaannya diatas meja
makan.
“kau pikir apa bodoh!, tentu saja aku lelah” saru Reza
kesal.
“Mau minum?” Tanya Wanda lagi, Reza meliriknya sekilas lalu memalingkan wajah kearah lain, Wanda pun segera mengambil gelas dan menuangkan air hingga gelas itu hampir penuh lalu memberikan kepada Reza.
“ini minumlah, aku mau kekamar dulu” ucap wanda segera beranjak pergi meninggalkan Reza di dapur.
Belum sempat melangkah dua langkah Reza tiba-tiba menarik pergelangan tangan Wanda menghentikan langkah wanita tersebut.
“Apa kau masih marah?” Tanya Reza, Wanda tidak menjawab dan malah melepis tangan Reza namun rasanya percuma saja.
“Wanda jawab, aku bertanya apa kau masih marah kepadaku gaga-gara kejadian tadi pagi?”
“Lepaskan!” perintah Wanda, Reza bukannya menuruti perkataan istri nya malah semakin mempererat cengramannya. Seketika wanita memekik merasakan sakit dan langsung melototkan kedua mata menahan amarahnya.
“Rez-“ panggil wanda terhenti, Suaminya itu tiba-tiba
menariknya kepangkuannya dan memposisikan Wanda di atas pahanya.
“Wanda aku minta maaf tentang kejadian tadi pagi, sebenarnyabbukan masalah sih aku melihat tubuhmu cuci-cuci mata” ucap Reza pelan sambil terkekeh pada kalimat terakhirnya, Wanda tentu saja mendengarnya dengan jelas.
“Plak!” sebuah tamparan mendarat tepat di wajah Reza, Wanda sudah begitu kesal dan tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, ia segera berdiri begitu pria itu lengah.
“kau sungguh kurang ajar, Reza aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu yang plinplan..” ucap wanda.
“Bukan itu maksudku—“
“ DIAM!”
“Reza aku tidak akan menyerahkan tubuhku kepada pria yang kurang ajar sepertimu, sebaiknya kau cari wanita pangila di luar sana, aku tidak akan mau melayanimu.., kau sendiri yang bilang bahwa ingin menceraikanku, baiklah aku setuju” Omel Wanda spontan, ia tidak sadar dengan ucapannya.
“kau salah paham, bukan begitu yang ku maksud” elak Reza dengan cepat, tubuh yang tadinya duduk itu kini berdiri tepat di hadapan istrinya.
“kau sungguh menyebalkan” kata Wanda.
Reza hendak meraih tubuh Wanda namun gagal karena Wanda langsung menghindar, Reza berjalan maju ia bukan ingin menambah perkara dengan
istrinya itu tapi ingin meluruskan semua kesalahpahaman di antara mereka dan kini semuanya kacau.
“menjauhlah, aku sibuk” kata Wanda, ia membalikan tubuhnya secepat mungkin melangkah mejauh dari suaminya itu.
“baikalah aku akan menyiapkan makan malam, kau tunggu sampai aku memanggilmu” Ucap Reza.
Wanda tidak mendengar perkataan suaminya ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri karena sudah tidak satu kamar dengan suaminya.
___
Pukul 08.00 malam, Wanda tampak menyusun beberapa kertas dokumen yang baru saja dia kerjakan sebagai hukuman karena membolos, Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
“Lelah sekali, kenapa komandan memberiku tugas yang seperti ini” Gumannya pelan lalu menyandarkan tubuhnya kekursi bersantai untuk mengilangkan sedikit rasa penatnya.
Jika dipikir-pikir tidak banyak yang tau bahwa wanita itu sangat berprestasi dalam bidang perkantoran walau seperti itu Wanda lebih suka menjadi seorang Polwan karena dari sejak kecil ia sudah memilih profesi tersebut sebagai cita-citanya kelak dan kini sudah tercapai, Wanda lebih di kenal oleh orang-orang sekitar dengan profesi sebagai Polwan yang cantik dan menawan, bahkan tidak jarang saat dirinya bertugas di lampu lalu lintas banyak pria-pria hidung belang mengodanya namun sebagai seorang wanita terhormat Wanda tidak sekalipun mau mencari perkara dengan para-para pria hidung belang dan lebih memilih untuk mengebaikannya jika tidak bertindak kurang ajar.
“ada apa?” Tanya Wanda dengan nada malas. ia menghindari tatapan langsung dengan Reza.
“ayo kita makan malam” ajak Reza, Wanda menggeleng pelan menolak ajakan suaminya tersebut, Wanda sebenarnya merasa sangat lapar tapi ia
begitu kesal dan sudah tidak mau mencari perkara dengan Reza memilih untuk menahan rasa laparnya saja.
“aku tidak mau, kau makan saja sendiri dan selamat malam”
Wanda langsung menutup pintu kamar tersebut tanpa menunggu Reza mengeluarkan sebuah kata. Reza terpaku di tempatnya karena kaget akan Wanda yang tiba-tiba menutup pintu kamar dengan keras bahakan suara dentumannya sempat membuat Reza reflek memundurkan tubuhnya.
“Sial wanita ini selalu saja” kesal Reza.
“Tapi kalau dia tidak makan bisa gawat, kalau dia sakit malah aku yang repot” Guman Reza berpikir kembali.
“aaarrrrrrhhhh, Wanda buka pintunya ayo makan malam nanti kau semakin kurus tidak berdaging” Teriak Reza sambil mengetuk-getuk pintu kembali secara berulang-ulang.
“WANDAAAA!!!!” Teriak Reza.
Seketika pintu itu terbuka lebar menampakkan Wanda di ambang pintu dengan raut wajah penuh dengan kekesalan di dalamnya, “kenapa kaau berteriak” ucap Wanda, Reza tidak mau kehilangan kesempatan langsung menarik tangan Wanda tidak peduli wanita itu menolak dan terus meronta.
“Reza apa yang kau lakukan?”
“Berhentilah bertanya, ayo kita makan malam.., aku tidak mau di bantah”
“kerasukan apa kau?” Tanya Wanda dengan suara meninggi.
“Diamlah, mau kualat”
“Rezaaaa”
“Ribut”
“Lepaskan aku bodoh, kau ini selalu saja ingin mencari
masalah” Ucap Wanda dengan tubuh terseret akibat tarikan Reza.
“Diam, jangan membantah atau ku borgol” kata Reza dengan penuh penekanan, Wanda terus morontah dan berteriak minta di lepaskan namun apa daya lengannya yang kecil tidak sekuat lengan Reza yang berotot padat.
Begitu sampai di meja makan Reza dengan paksa mendudukan tubuh Wanda di kursi makan tepat di samping kursinya, ia menginjak satu kaki Wanda agar istrinya itu tidak kabur.
“cepat makan , nanti kalau kau sakit malah akan merepotkan, makanlah yang banyak..”perintah Reza, ia mulai mengambil makanan sendiri untuknya, sedangkan Wanda mau tidak mau mulai mengambil makanan ke atas piringnya sendiri karena sudah sangat kelelahan menghadapi Reza.
“anak pintar” ucap Reza pelan menarik senyuman di bibirnya.
.
.
.
.
.
Bersambung..