The Wife Police

The Wife Police
"Sendirian"



Sudah satu hari terlewati, Reza melakukan kegiatan sehari-harinya tanpa ada Wanda yang menemaninya, entah kenapa dirinya merasa kesepian tanpa adanya wanita itu. Reza semalaman tetap menunggu istrinya pulang bahkan dirinya tertidur di sofa karena ia sempat berpikir bahwa Wanda akan pulang seperti beberapa waktu yang lalu.


Namun nyatanya, perkataan Wanda bahwa dirinya tidak pulang dan bertugas di luar kota benar-benar terjadi.


"Rupanya Wanda serius, huh ... enak sekali ia meninggalkan diriku sendirian di rumah ini." gumannya.


Pria tersebut sejenak memandang ponselnya berhadap Wanda menghubungi dirinya.


"Kenapa dia tidak memberi kabar sama sekali, apa dia tau kalau aku mengkhawatirkannya, tapi jika aku yang menghubunginya duluan takutnya ia tidak mengangkat panggilanku." gumannya, Reza terus menatap ponselnya lalu mengusap wajah merasa frustrasi.


***


Wanda di luar kota menyewa satu kamar hotel untuk dirinya sendiri namun bukan dirinya yang membayar melainkan Andre karena wanita itu terus meminta kepada Andre agar menyewakannya salah satu kamar sebagai tanda persahabatan mereka.


Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk itu, semua beban pikirannya tiba-tiba menghilang, untuk masalah keluar kota hanya sebuah alasan karena Wanda ingin menghindari seseorang terlebih dahulu,


"Wanda, kenapa kau sampai berbohong kepada suamimu?" tanya Andre yang ternyata berada di dalam sana bersama dengan Wanda.


Wanda menghela napas lalu bangun dari kasur mendudukkan tubuhnya.


"Jika aku tidak berbohong, Reza pasti tidak akan membiarkan aku untuk keluar kota untuk sekadar menenangkan pikiranku, lagi pula aku menikah dengannya tanpa ada rasa satu sama lain, jadi ia tidak akan mempedulikanku sama sekali." ujar Wanda begitu santai, Andre mengerutkan kening bukannya kemarin siang sahabatnya ini tampak berhubungan baik dengan suaminya.


"Kenapa kau berkata seperti itu?, aku lihat kemarin kalian baik-baik saja, dan kau tau Wanda bagi seorang pria jika mencintai seorang wanita ia pasti akan melindunginya." kata Andre melipat kedua tangan.


Wanda hanya tersenyum miring, Reza tidak mungkin menyukainya ia yakin yang di inginkan oleh pria itu hanyalah tubuhnya saja.


"Reza tidak seperti itu ..., aku memang sudah tidur bersamanya namun ia hanya menginginkan tubuhku saja dan itu tidak lebih, dari awal dia tidak menyukaiku sama sekali."


"Yah mungkin seperti perkataan mu waktu itu, Reza memang terkadang tidak tahan dengan kelakuanku selain aku ceroboh aku juga tidak bisa mengurus rumah. bisa di katakan aku payah." ucap Wanda, ia berdiri lalu mendekati jendela hotel, mereka sekarang ini berada di lantai 20 bisa melihat pemandangan dari atas sana.


Sudah sekian kalinya Wanda berpikir untuk mengambil keputusan apa untuk hidupnya kedepan, amanah dari ibunya sudah ia laksanakan walau sampai sekarang ia akan tau siapa ayahnya.


Wanda juga sudah tidak mempedulikannya.


"Oh iya, Andre kau mau tau alasanku kesini." ujar Wanda.


"Apa?" tanya Andre.


"Apa ada masalah di antara kalian?" tanya Andre kembali.


Wanda hanya menggeleng, Reza bukanlah alasan dirinya untuk pergi kesini.


"Terus?"


"Apa Deni?, mantan kekasihmu?, apa dia memintamu untuk kesini menemuinya dan menurut begitu saja!" tanya Andre penuh selidik nada suaranya membentak sahabatnya itu.


"Bukan, bukan seperti itu ... tapi kemarin aku tanpa sengaja selalu berpapasan dengannya entah itu di sengaja atau tidak, Andre aku benar-benar tidak ingin menjumpainya lagi karena aku takut, suatu saat nanti dia mengoyahkan perasaanku lagi." ucap Wanda tersirat sebuah ingatan masa lalunya yang cukup indah saat menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu sebelum dirinya menikah dengan Reza.


"Aku ingin menghindarinya ...." ucap Wanda lirih.


Andre mengusap bahu Wanda, tidak bisa di pungkiri kedua sahabat itu sangat dekat bahkan sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara yang saling menyayangi.


Andre menyayangi Wanda sebagai mana seorang kakak mencinta adik perempuannya. Tidak heran lagi kenapa Wanda justru lebih dekat dengan Andre di bandingkan Fitri.


"Lupakan semuanya Wanda, ingat kau sudah menikah dan memiliki suami sebaiknya kita pulang hari ini saja, kau tenang saja aku akan memantau setiap saat agar Deni tidak bisa menemuimu lagi."


Wanda berbalik menatap wajah Andre, sahabatnya ini memang selalu bisa mengerti akan dirinya, setiap ia mempunyai masalah pasti Wanda tidak akan ragu untuk membagi cerita kepada sahabatnya itu.


"Maafkan aku." ucap Wanda pelan.


"Kenapa minta maaf?"


"Aku selalu menyusahkanmu, jujur saja Andre hanya kau yang selalu bisa membaca isi pikiranku." ucapnya.


"Kita sahabat, kau tenang saja. Aku menyayangi mu, ayo pulang, sebaiknya kita pulang sekarang, kau tau komandan akan pulang besok dan pasti akan bertanya kemana kita perginya hari karena tidak masuk bertugas, ayo pulang. " ajak Andre, Wanda mengangguk menyetujuinya.


Lantas keduanya langsung beranjak dan mengambil beberapa barang-barang bawaannya yang tidak banyak.


"Aku akan kekamar sebelah mengambil barang-barang dan kunci mobil dulu kau tunggu di lobi." ujar Andre memegang handel pintu kamar Wanda.


"Baiklah." jawab Wanda.


.


.


.


.


.


Cepat.. 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀💔