
Reza sampai di rumah sakit dengan wajah penuh rasa khawatir dan takut, pria itu baru saja melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa Wanda dalam keadaan yang kritis dan berada di ICU.
Reza sudah menghubungi ibu dan ayahnya agar segera datang ke rumah sakit, selama itu Reza hanya duduk di kursi tunggu depan ruangan ICU sembari berdoa agar Wanda baik-baik saja.
Tiga puluh menit kemudian.
Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan ICU itu, Reza lantas berdiri menghampirinya.
"Dok, Bagaimana kondisi istriku?" tanya Reza tidak sabar.
"Maaf, Anda siapa Tuan dan siapa istri Anda?" tanya Dokter itu balik, ia mengerutkan kening menatap Reza dengan tidak suka.
"Saya Reza, suami dari polisi wanita yang Anda tangani barusan, tolong katakan bagaimana keadaan Wanda saat ini, apa dia baik-baik saja tidak terjadi sesuatu yang buruk bukan?" tutur Reza bertanya, Dokter pria itu membulatkan kedua bola matanya kaget akan penuturan Reza.
"Suami? Apa? Jadi Wanda sudah menikah?" tanya dokter itu, bukannya menjawab pertanyaan Reza.
Reza menyengir merasa ada yang aneh, kenapa reaksi dokter yang di hadapan ini berlebihan bahkan ia tidak mengenal pria ini sama sekali. Ia masih menunggu jawaban dari dokter itu namun mereka hanya saling bertatapan begitu dalam menunggu jawaban dari pertanyaan masing-masing.
"Iya, Wanda dan aku sudah menikah aku adalah suaminya, apa Dokter mengenal istriku?" tanya Reza menjawab terlebih dahulu. Mata dokter itu langsung terbelanak kaget mendengar jawaban Reza seakan dirinya telah gagal melakukan sesuatu.
Hingga Dokter itu pergi dari sana Reza tidak mendapat jawaban dari setiap pertanyaannya langsung masuk keruangan ICU, karena tidak bisa menahan diri untuk menemui Wanda secara langsung, bagaimanapun Wanda adalah satu-satunya wanita yang pantas menjadi istrinya dan selamanya akan seperti itu dan wanita itu tidak boleh meninggalkannya.
Sampai di dalam, Reza menatap Wanda yang terbaring dengan ifus di salah satu tangannya, rupanya kondisi Wanda tidak seburuk yang ia pikirkan tadi, seketika Reza merasa lega setidaknya istrinya itu tidak berada dalam keadaan yang membuat detak jantung Reza hampir copot.
Kedua matanya menatap seduh tubuh istrinya yang berbaring di atas bed sana, Reza bisa melihat jika beberapa luka yang sudah di balut perban di beberapa bagian tubuh Wanda yang terluka.
"Wanda tolong buka matamu." ucap Reza perlahan meraih tangan istrinya dan mendekapnya.
"Tolong jangan seperti ini, Wanda aku minta maaf atas sikapku selama ini, sayang." ucap Reza sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut, namun Wanda masih setia menutup matanya.
"Wanda apa kau marah kepadaku, kenapa kau belum membuka matamu sampai saat ini?" tanya Reza ia sudah berada di sana hampir satu jam dan tidak mendapat reaksi sama sekali dari istrinya, Wanda masih setia menutup matanya.
Reza yang mulai sedikit lelah akhirnya merebahkan kepalanya di samping Wanda dan ikut tertidur di sana.
Tidak lama setelah itu, Wanda membuka mata dan hal pertama yang ia liat adalah wajah suaminya senyuman terukir di wajah wanita itu.
"Reza ...." panggil Wanda pelan mengelus kepala suaminya menggunakan satu tangannya.
Ia hendak bangkit dari tempat tidur namun seluruh tubuhnya terasa sangat sakit semua, Wanda baru ingat bahwa dirinya habis kecelakaan bersama dengan Andre, tunggu dulu Andre ada dimana sekarang kenapa sahabatnya itu tidak terlihat.
Reza yang mendengar suara panggilan seseorang lantas mengerjap dan membuka mata, pria itu tertegun melihat istrinya sudah bangun.
"Wanda, kau sudah sadar?" ucap Reza terdengar bahagia, ia memeluk Wanda merasa benar-benar lega.
"Iya, tapi lepaskan pelukanmu, tubuhku masih sakit." ujar Wanda.
"Maaf, bagaimana perasaanmu? Apa kau butuh sesuatu katakan saja padaku." ujar Reza.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Oh iya, Andre ada dimana? Apa kau melihatnya? Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Wanda sembari berusaha mendudukkan tubuhnya, Reza yang peka membantu Wanda.
"Aku tidak melihatnya." jawab Reza menggelengkan kepala.
"Kau istirahatlah, jangan banyak bergerak." perintah Reza.
"Tidak mau, aku harus memastikan keadaan Andre dulu." tolak Wanda lalu berusaha turun dari bed namun segera di tahan oleh Reza.
"Jangan banyak bergerak, apa kau tidak sadar jika pria itu hampir membuatmu kehilangan nyawa tadi, kau tidak perlu khawatir tentangnya pikiran saja kodisimu saat ini." kata Reza menahan Wanda, ia menatap tajam istrinya itu.
"Jangan mencegahku, Andre adalah sahabatku, bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkannya."
"Wanda!" bentak Reza tanpa sadar.
Wanda seketika terdiam tidak bergeming, wanita itu menghela napasnya.
"Baiklah, aku tidak akan kemana-mana." ucap Wanda mengalah.
.
.
.
.