The Wife Police

The Wife Police
"Akhir Saja"



Perempuan itu masih mematung menatap pintu rumah Reza yang tertutup rapat dan rupanya ada wanita yang tinggal bersama dengan Reza, ia masih belum percaya akan Reza yang rupanya sudah memiliki istri dan wanita yang menjadi istri Reza itu ternyata lebih cantik dari dirinya.


"Aku sungguh tidak tau jika Reza sudah menikah." ucapnya masih di sana kedua matanya tidak berkedip menatap pintu rumah itu yang sudah tertutup rapat, butuh waktu beberapa saat untuk tersadar dari rasa terkejutnya.


Yah, perempuan itu adalah Putri sekretaris sekaligus teman Reza, Putri mengira jika perubahan Reza selama ini karena kesibukan akan pekerjaan namun sekarang ia mengerti semuanya.


"Aku tidak pernah menyangka jika Reza sudah menikah lagi pula di perusahaan sepertinya tidak ada yang tau akan hal ini." gumannya lagi dan Putri mencoba untuk memahami segalanya, ia benar-benar di buat terkejut, wanita yang ia yakin sebagai istri Reza ternyata sangat cantik dan pantas saja Reza selalu ingin pulang cepat dan saat bekerja di kantor pria itu selalu memperhatikan ponselnya.


Setelah beberapa saat ia menggelengkan kepala tidak mau berpikir lagi karena hal tersebut akan membuatnya pusing saja, apa lagi Putri selama ini mencoba mendekati pria yang sudah menikah sungguh di luar dugaan.


Putri pada akhirnya berbalik dan pergi setelah mengerti akan segalanya dan segera dirinya ingin pulang karena tadi ia memakai mobil Reza kini Putri harus pulang menggunakan taxi.


***


Wanda membantu suaminya mengganti pakaian, Reza sudah tertidur akibat mabuk pengaruh minum beralkohol, ia menatap pria itu sembari menautkan kedua lalisnya, Wanda merasa sedikit kecewa kepada suaminya itu, ia begitu membenci seorang peminum apa lagi yang suka mabuk-mabukan seperti suami sekarang ini.


Dengan wajah kesal Wanda tetap membantu keperluan pria yang tengah berbaring di atas kasur itu.


"Apa yang terjadi kepadanya, kenapa dia sampai minum sampai mabuk seperti ini?" ucap Wanda setelah mengganti pakaian Reza, ia menepis rasa malunya saat melihat tubuh Reza yang kekar, Wanda benar-benar mengabaikan hal itu.


>>


Pukul 02.00 dini hari, Reza membuka mata tak kala ia merasa haus, perlahan pria itu menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya, rasa pusing akibat minuman belum sepenuhnya hilang, Reza memegang kepalanya yang terasa agak pusing kedua mata terpejam, ia mengurungkan niatnya dan memilih kembali berbaring lagi.


Reza memijit pelipisnya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Apa Wanda belum pulang?" ucapan sambil membuang napas begitu pasrah, ia sudah mencoba mencari info keberadaan istrinya itu namun gagal hingga akhirnya ia berakhir di club malam meminum minuman beralkohol di sana hingga mabuk tidak sadarkan diri.


Sejak Reza mencoba mengingat semua yang terjadi kepadanya, namun satu hal yang membuatnya bingung siapa yang membawanya pulang membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menggantikan pakaiannya.


"Rasanya tadi aku melihat Wanda, apa aku bermimpi karena merindukannya." kata Reza membatin ia belum menyadari jika ada seseorang yang tidur lelap di sampingnya.


"Apa Wanda akan memintaku untuk berpisah dengannya, tapi entah kenapa hatiku tidak rela kehilangannya." Reza kembali bergumam, kini tatapannya lurus kearah langit-langit kamarnya.


Reza sudah mulai terbiasa akan kehadiran wanita yang selalu mengajaknya berdebat itu, walau mereka berdebat akan hal-hal yang tidak penting namun Reza sangat merindukan kebersamaan mereka.


"Aku tidak akan pernah melepasmu, kau adalah istriku dan kau adalah milikku tidak ada satu orang pun bisa merebutmu dariku sekalipun orang adalah kekasih gelapmu atau apa, aku tidak peduli yang aku inginkan hanya Wanda tetap bersamaku."


Suara kebisingan akibat Reza yang berbicara sendiri membuat Wanda yang terlelap di sisi sebelahnya merasa sangat terganggu.


"Apa yang kau gumankan! mengganggu orang tidur saja!" kata Wanda terbangun dari tidurnya.


Reza sejenak di buat mematung merasa heran ada orang yang berbicara di sampingnya, perlahan ia menoleh ke samping.


"Wa-nda ...." lirih Reza menyengirkan kening lalu menggeleng cepat siapa tau ia berhalusinasi.


"Hei, kenapa kau bangun di jam seperti ini apa kau tidak merasa mengantuk dan kau ini sungguh aneh berbicara sendirian, apa kau sudah gila." ujar Wanda terkekeh meledek suaminya tersebut.


Reza masih mengumpul kesadarannya, ia berbaring ke samping, kedua matanya melihat Wanda berada di atas tempat tidur bersama dengannya, Reza seakan tidak percaya ia memejamkan matanya mengira Wanda ada dalam halusinasinya, pria itu kembali membuka mata namun kedua matanya kembali menangkap sosok wanita berada di hadapannya tengah menatapnya juga.


"Kau kanapa dan tidak menjawab pertanyaanku!" seru Wanda, Reza tidak merespon justru pria itu hanya menatapnya dengan wajah datar.


"Hem, apa aku sekarang sudah kehilangan akal, dia berbicara kepadaku." guman Reza sejenak mengusap matanya kembali ia mungkin saja masih berada pengaruh alkohol sampai-sampai terus melihat bayangan istrinya.


"Hei bodoh ada apa denganmu?" tanya Wanda meletakkan kedua tangan di atas kening suaminya merasakan suhu tubuh Reza yang tergolong normal.


"Kau ini, apa yang kau pikirkan, ini aku Wanda ... apa kau berpikir aku adalah halusinasimu?" tanyanya.


Reza seketika tersentak, lantas dengan cepat dirinya menarik Wanda kepelukannya begitu erat, rasa khawatir akan di tinggalkan oleh Wanda seketika hilang begitu saja.


"Kau dari mana saja, apa kau tidak tau kalau aku tidak suka berada di rumah sendirian." ujar Reza mengelus kepala istrinya dengan penuh kelembutan.


Wanda hanya menghela napas diam-diam wanita itu ingin membalas pelukan Reza namun ketika mengingat akan perempuan yang membawa suaminya itu pulang Wanda langsung mengurungkan niatnya.


"Sebaiknya kita kembali tidur saja, besok aku harus berangkat cepat dan oh iya kau tidak perlu khawatir karena ada Andre yang akan selalu menjemputku setiap pagi karena mobilku akan aku simpan di kantor saja, ayo tidur ...." ajak Wanda mencoba melepaskan pelukan suaminya.


Raut wajah Reza seketika mengeras saat mendengar perkataan dari istrinya tampak kedua tangannya terkepal, rahanya mengeras, ia kini teringat akan yang terjadi tadi sore dan ia tau bahwa istrinya itu pergi dengan seorang pria dan terlihat sangat dekat Seketika Reza melepaskan pelukan dan menatap tajam kepada Wanda.


"Siapa itu Andre?" tanya Reza tiba-tiba murka begitu ia mendengar nama pria lain.


"Apa dia selingkuhmu?.apa dia yang kau ajak untuk keluar kota agar kalian bisa menghabiskan waktu bersama tanpa-"


Plak!


"Diam! jaga bicaramu itu, kau menuduhku hal tidak-tidak, ia menang aku pergi ke keluar kota karena ada alasan tertentu kau tidak perlu mengetahuinya dan untuk yang kau tuduhkan kepadaku itu adalah hal yang tidak benar." ucap Wanda membantah.


"Wanda kau itu adalah istriku! kau jangan berani berselingkuh di belakangku!" serunya bangkit dari. tempat tidur walau sedikit sempoyongan.


"Apa yang kau katakan! siapa juga yang berselingkuh atau jangan-jangan justru dirimu yang berselingkuh, apa kau lupa jika seorang perempuan membawamu pulang kerumah dan pasti dia adalah kekasihmu, makanya kau dari dulu tidak menginginkan pernikahan ini." balas Wanda ikut berdiri dari kasur, kini mereka saling berhadapan satu sama lain memasang wajah yang sama-sama datar.


"Tutup mulutmu itu, berani sekali kau membalas perkataanku!"


"Kenapa tidak, Reza kau ini pria yang tidak memiliki pedoman hidup, kau itu pling-palng."


"Diamlah!"


"Tidak mau! kau siapa berani mengancamku."


"Wanda!" seru Reza.


Wanda menatap wajah suaminya itu seutas senyuman miring ia berikan kepadanya.


"Kita akhiri saja." ucap Wanda terdengar serius dan melototkan kedua matanya..


.


.


.


.


🙋‍♀ Hai.