
Setelah mendapat pesan dari Istrinya Reza menyandarkan punggungya kebelakang di sertai dengan hela napas kasar, sejauh ini pernikahannya dengan Wanda sudah berjalan hampir tiga bulan lamanya namun Reza merasa belum mempunyai perasaan apa-apa kepada wanita yang menjadi istrinya tersebut atau dirinya hanya belum menyadari bahwa selama ini pertengkaran kecil dengan Wanda membuatnya ada perubahan yang terjadi di dalam hatinya.
Reza memejamkan kedua mata dan tangannya kini sudah berpindah memijat pelipis yang terasa agak pusing begitu mengingat betapa istrinya itu terkadang membuat masalah.
“Entah kekacauan apa lagi yang wanita itu perbuat di luar sana, aku jadi heran sendiri bagaimana bisa seorang wanita ceroboh bisa menjadi Polwan, sungguh aku tidak mengerti” gumannya pelan.
Suara ketukan pintu kembali terdengar dan tanpa di izinkan sekretarisnya yang tidak lain adalah putri kembali mendekati Reza secara perlahan.
“Reza, apa kau lelah?, mau ku buatkan kopi?” Tanya Putri dengan nada suara lembut.
Reza mengangkat wajah sekilas manatap Putri lalu
menganggukan kepala pelan, tanpa bersuara Putri atau sekretarisnya itu langsung melaksanakannya. Tiga menit kemudian Putri terlihat membawa secangkir kopi hitam di tangannya lalu segera meletakkannya di atas meja kerja Reza dengan
sopan.
Pria tersebut hanya melirik sekilas kopi di atas meja.
“Terima kasih, kau boleh keluar sekarang, aku tidak mau di ganggu”. Ucap Reza ketus kepada Putri yang tampak berdiri di samping mejanya, Putri hanya mengangguk pelan lalu sesegera mungkin pergi dari sana.
Putri berjalan keluar dengan pikiran bertanya-tanya tentang sikap Reza ketus yang baru kali ini dia tau selama mengenal pria itu, padahal sebelumnya
wanita itu sangat yakin bahwa Reza selama ini ada perasaan untuknya karena alasan itu lah Putri kembali untuk menemui Reza dan mengatakan perasaannya yang selama ini dia pendam diam-diam sejak lama. Tapi sekarang setelah melihat perubahan sikap Reza membuat Putri kembali ragu untuk mengungkapkan perasaannya.
“kurasa Reza berubah belakangan ini?” ucap Putri membatin dalam hatinya sambil menutup pintu ruangan Reza.
***
Di tempat lain Wanda selaku seorang istri tengah berada di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga yang mulai menipis walau dirinya tidak terlalu tau tentang apa saja yang harus di beli untuk kebutuhan sehari-hari tapi wanita itu tidak sebodoh yang di perkirakan, Wanda mulai mengambil beberapa macam sayur-sayuran dan juga buah, setelah itu Wanda berpindah ke tempat bagian penjualan daging dan membeli sebanyak 5 kilo.
"Hei.. Wanda, apa kabar.?" Tanya seseorang namun begitu dirinya melihat daging di keranjang Wanda orang itu kaget bukan main.
“Wanda kenapa kau membeli daging banyak sekali, apa kau gila?” ucap seseorang yang berdiri tepat di samping Wanda sontak membuat wanita itu menoleh dan terkejut.
“Hei kenapa kau diam?” tanyanya kembali, Wanda belum memberi tanggapan dan membungkam namun sorot kedua matanya tiba-tiba berpaling kearah lain.
Hening.
“Ehemmm, Wan..” ucapanya terputus begitu suara deringan ponselnya tiba-tiba saja berbunyi nyaring.
“Aku angkat telpon dulu, Tunggu sebentar.., ada yang ingin aku sampaikan kepadamu” Ucap orang tersebut melangkah agak menjauh dari posisi Wanda yang hanya diam tidak menanggapinya.
Begitu orang itu pergi Wanda tiba-tiba tersungkur ke lantai dengan wajah yang penuh kepedihan didalamnya rona wajahnya putih memucat, orang yang mengajaknya bicara tadi adalah Dokter yang menangani ibunya sewaktu masih hidup. Jujur saja debaran jantung Wanda berpacu dengan cepat seakan tidak terkontrol ia melepaskan keranjang belanjannya dan memegang dadanya yang terasa
sesak.
“kenapa dunia begitu.. sempit, ya Tuhan takdir apa ini kenapa aku harus bertemu dengannya lagi seharusnya sejak awal aku tidak keluar dari rumah”. Gumannya terdiam sesaat lalu langsung berdiri dengan terburu-buru.
“aku harus pergi secepatnya, aku tidak mau bertemu dengan orang itu lagi”
Wanda berajak pergi dan mengambil semua barang belanjannya dengan terburu-buru demi apapun dirinya tidak ingin berpapasan dengan Dokter itu, jika semakin lama Wanda bisa pastikan dirinya tidak akan bisa tahan untuk menangis menginggat beberapa memory tentang Ibunya yang sudah tenang di surga
sana.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Wkwkwk. Chan jarang
Up yah.. sorry kawan-kawan, chan lagi usahankan Up gila-gilan inih.. sabar
yahh.😁😁🙏🙏✍️lagi nulis nihh