
Wanda melangkah perlahan menuju tempat makan, mengisi perut kosongnya tadi pagi ia hanya memakan Roti selai dan segelas susu saja. Wanda pergi bersama sahabatnya Fitri mereka duduk di pojokan saling berhadapan.
Fitri sahabat wanda melihat raut wajahnya begitu aneh dan juga di tekuk..
"Kau kenapa?, Wan, pengantin baru wajahnya murung" tanya Fitri antusias penasaran.
Wanda malah menghela napas kasar, hari ini Sudah dua orang yang bertanya seperti itu, Ia hanya terdiam menatap wajah Fitri penuh arti.
"Wanda!!, kau diam saja. Tidak biasanya kau begini pasti terjadi sesuatu kepadamu?"
"Jangan bertanya dan membuatku pusing, aku sedang kesal"
"Ayo makan, kau yang traktir semua makanku, " lanjut Wanda kini tersenyum miring, Fitri melotot ke arahnya.
"Tidak mau bayar sendiri kau bayar sendiri saja, aku tidak punya uang banyak." tolak Fitri, enak saja Wanda mau memanfaatkannya.
"Dasar pelit." cibirnya tidak mempengaruhi Fitri.
Wanda mendesah dalam hati, dirinya tidak bisa memaksa Fitri karena keadaan mereka berdua tidak jauh berbeda sama-sama kekurangan uang saku. Waktu terus berjalan makanan yang dihadapan mereka sudah habis tidak tersisa sedikit pun.
Tig.
Suara notifikasi Wa yang baru masuk, Wanda lantas melihat dan membacanya.
"Apa lagi sekarang, orang ini benar-benar memerintah semaunya saja." gerutu wanda ketika selesai membaca Wa dari suaminya.
"Wanda Ayo kita kembali, Komandan bilang ada kasus untuk kita" ajak Fitri, Dia juga baru mendapat Wa dari Rifan komandannya.
Mereka berduapun segera kembali ke kantor kepolisian, Wanda begitu bersemangat sebab ini akan menjadi kasus pertama setelah mengambil cuti beberapa hari.
***
Sore harinya Wanda pulang kerumahnya, badannya benar-benar terasa sangat lelah, tadi ia harus mengejar penjahat di gang sempit dan bau, Wanda melihat suaminya sedang bersih-bersih rumah mantap kosong ke arah Reza.
Reza melihat kedatangan Istrinya menaikkan satu alisnya.
"Kenapa kau berdiri saja di pintu, Masuklah ganti pakaianmu dan kita ke rumah mama" ucap Reza sinis menghentikan pekerjaannya beberapa detik lalu kembali lagi melanjutkannya.
"Huh.." Wanda langsung masuk dan tidak membalas ucapan pria itu.
Di kamar Wanda duduk di depan cermin memperhatikan wajahnya sendiri.
Beberapa menit Wanda menghabiskan waktu memandang wajahnya sendiri, Lalu berdiri menuju kamar mandi.
Sesuai dengan ucapan Suaminya Wanda berpakaian layak untuk mengunjungi mertuanya, Wanda mengambil tas kecil dan Ponselnya lalu keluar dari kamar.
"Kau sudah selesai, Ayo" ajak Reza melirik sekilas, lalu berjalan mendahului wanita yang tampak cantik itu.
Wanda mengikuti langkah pria di depannya itu tanpa banyak bicara.
"Mau duduk di mana kau, aku bukan supir taksi"ketus Reza ketika Wanda ingin membuka pintu mobil bagian belakang.
Wanda menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Reza.
"Apa?, bukannya kau tidak suka jika aku duduk di sampingmu, jadi lebih baik aku duduk di belakang saja, Berhentilah ngecoh tidur Jelas Reza" ujar Wanda melanjut gerakannya lalu masuk ke dalam mobil duduk di belakang tanpa mempedulikan ocehan dari suaminya.
"Terserah!" gerutu Reza sangat jengkel, wanita yang menjadi istrinya itu setiap hari menjadi menyebalkan di matanya.
Reza mulai menghidupkan mobilnya, melajukan menjauh dari rumahnya, sedangkan Wanda lebih fokus dengan ponsel miliknya entah apa yang di lakukannya, keheningan di dalam mobil mereka sama-sama tidak peduli satu sama lain tampak seperti Orang asing saja.
***
Sampai di depan rumah sang mertua wanda tiba-tiba mengubah mimik wajah menjadi ceria, Reza melihat perubahan itu merasa heran.
"Kenapa dengan wanita ini" Gumannya sambil melangkah.
Namun ia di kagetkan dengan Wanda yang merangkul lengannya manja, ketika ingin menepis tangan Wanda Mamanya sudah berada di depan pintu menatap kearahnya senang, Reza pun mengurungkan niatnya itu.
"Lepaskan." bisiknya di telinga Wanda, ia merasa sangat risih.
"Diamlah, nanti mama curiga lagi." balas Wanda tanpa menoleh, matanya lurus kedepan.
Reza memutar matanya, apa wanita ini ingin menujukkan kemesraan di depan keluarganya..
"Apa lagi?, berhentilah menatap ku, aku tau kau sangat kagum dengan kecantikanku" lanjut Wanda karena Reza tidak berhenti menatapnya, dan membuatnya malu.
"Hah.. Kau sangat narsis" Reza memalingkan pandangannya dan tetap berusaha menahan rasa marahnya.
Mereka melangkah sambil senyum di wajah yang di paksaan, sampai di depan pintu Wanda langsung di peluk erat oleh mertuannya melupakan bahwa Reza Juga berada di sana.
"Wanda sayang, bagaimana kabarmu, baik-baik saja bukan. Apa kau makan dengan baik" tanya ibu mertuanya. Wanda hanya tersenyum membalas pelukan hangat itu.
"Umm, mama tidak ingat kapadaku" guman Reza cemburu dengan Istrinya yang lebih dahulu mendapat pelukan hangat dari mamanya sendiri.
.
.
.
.
.
Tbc... !!!