
Wanda membangunkan Reza yang ternyata masih tertidur nyenyak di atas kasur padahal sudah pukul 07.40 dan tidak biasanya Reza bangun terlambat seperti ini.
“Reza bangun, kau harus bekerja ... ayo bangunlah” ujar Wanda mengguncang pelan bahu suaminya, tidak membutuhkan waktu yang lama setelah itu terlihat kedua mata pria tersebut mengerjap pelan sebelum tersadar sepenuhnya.
“hummm, memang sekarang sudah jam berapa, cepat sekali kau bangun” ujar Reza nada suaranya masih terdengar serak segera ia membangunkan tubuhnya.
“Sudah pukul 07.45, kau segeralah mandi ... aku sudah mau berangkat, dan untuk sarapan aku tidak membuatnya sebaiknya kau sarapan di kantormu
saja” Wanda hendak berlalu, Namun langkahnya terhenti karena tangannya tiba-tiba di tarik oleh Reza.
“Kau mau pergi kemana sepagi ini?” tanya Reza di iringin dengan senyumannya.
“Reza lepaskan tanganku, aku mau bekerja ... Cepat lepaskan!” perintah Wanda tengas.
“Kau ini galak sekali sama suamimu, apa kau lupa dengan yang terjadi semalam di antara kita ... Humm”
“Siapa yang galak, jangan mengingatkanku tentang itu lagi, aku sudah lupa ” seru Wanda berbohong mana mungkin ia melupakan pengalaman pertamanya, Wanda terus meminta hal sama namun Reza bukannya melepaskan tangan Wanda malah pria itu semakin menarik tangan istrinya hingga Wanda jatuh ke atas dadanya.
“Reza, Lepaskan aku ... aku bisa terlambat masuk kerja”
“Biarkan saja kau terlambat, mendin kita menghabiskan waktu berdua di sini bagaimana” Reza memberi saran sambil memperhatikan wajah istrinya, rambut yang terurai sepunggung seakan memambah pesona Wanita yang menjadi istrinya itu terlebih lagi dengan seragam kepolisian melekat di tubuhnya.
“Aku tidak mau, Cepat lepaskan atau aku berteriak” Tolak Wanda berusaha menjauhkan tubuh dari
dekapan Reza.
“usstttt, jangan berteriak suaramu sangat jelek kau tau”
“siapa yang peduli, lepaskan aku atau bahumu aku gigit” ancam Wanda tidak membuat Reza gentar, Kini Reza membalikan tubuh Wanda ke bawa.
“Gigit saja ...” ucap Reza lalu segera melummat bibir beberapa lama istrinya lalu setelah itu ia beranjak meninggalkan Wanda yang terbaring di atas kasur dengan wajah bersemu merah, Ia seakan tidak percaya bahwa pria yang pernah membencinya itu berubah menjadi mesum seperti ini.
***
Dalam perjalan menuju kantor, Wanda sesekali tidak fokus akan kemudinya, ia merasa cukup pusing akan perubahan sikap Reza kepada dirinya.
“Sepertinya Reza kehilangan akal sehatnya, aku harus mengajaknya besok untuk konsultasi kedokter psikologi” gumannya lalu kembali memperhatikan jalan raya mempercepat laju kendaraanya, tidak lama berselang Wanda berbelok masuk ke halaman kantor lalu memarkirkan kendaraanya di tempat seharusnya. Wanita itu lalu mengambil tas jinjin di samping tempat duduknya sesegera mungkin turun dari mobil.
“Ada apa dengan tubuhku, aku merasa kelelahan.” ucap Wanda begitu selesai menutup pintu mobilnya lalu meregangkan kembali tubuhnya, sebenarnya Wanda ingin sekali mengambil cuti namun ia sadar bahwa ia sudah keseringan mengambil cuti setelah menikah, Wanda tau posisinya yang hanya seorang bawahan dan semuanya dalam kendali komandannya.
Wanda menghembuskan napas lalu mengambil langkah yang cukup lambat, tujuan utamanya untuk datang tetap waktu sudah pupus, sekarang sudah pukul 08.45 dan itu semua gara-gara kelakukan aneh Reza pagi tadi.
Wanita itu benar – benar tidak habis pikir dengan suaminya, sejak pagi ini Wanda merasakan perubahan drastis pria itu, mulai dari Reza yang memintannya untuk memakaikan dasi untuknya sampai menyiapkan bekal untuknya.
Sampai di pintu masuk yang terbuat dari kaca hitam, Wanda menarik gagan pintunya segera masuk kedalam sana ... namun belum berapa langkah ia tiba – tiba saja di kejutkan dengan Rifan yang berdiri menatapnya dengan tajam dan kening mengerut seakan marah kepadanya. Wanda menelan air liur mengambil langkah dengan sangat pelan wajahnya tertunduk, ia tidak berani menatap wajah komandannya secara langsung.
“Kau tau ini sudah jam berapa?” tanya Rifan sontak membuat Wanda mengangkat wajahnya perlahan.
“Wanda apa kau tau, sebenarnya aku itu sudah memberikan tolerensi kepadamu beberapa hari belakangan ini dan hari ini kau terlambat lagi” ucapnya.
“Maaf, besok aku tidak akan terlambat lagi Komandan, Tolong maafkan aku”
“Kau ini pegawai sipil Negara tapi kau seakan melupakan pekerjaanmu setelah menikah Wanda, yah aku akui memang setelah seseorang menikah pasti akan banyak kewajiban dan kebiasaan baru, tapi tetap saja kau harus tetap bisa mempertahankan reputasimu” omel Rifan.
“Iya Komandan, aku tau ... maaf aku tidak akan mengulanginya lagi” ujar Wanda.
Rifan menatap wanita di hadapannya keningnya yang sedari berkerut kini memasang wajah tanpa expresi.
“yah ... sudah kau kumaafkan, jika besok – besok kau mengulanginya lagi jangan harap aku tidak akan mengambil tindakan, camkan itu, nah sekarang kau kerjakan tumpukan berkas di atas mejamu aku tidak mau tau hari ini semuanya harus selesai dan tidak ada kesalahan pengetikan satupun kalau aku dapat salah satu huruf saja, bersiaplah pekerjaanmu bertambah”
Rifan lalu pergi dari hadapan Wanda dan mengajak yang lainnya untuk mengikuti dirinya ke suatu tempat melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda, Wanda menghela napas berdecak kesal menatap punggung pria yang sama menyebalkannya dengan suaminya itu.
“Nasibku benar-benar sial, kenapa aku selalu di kelilingi dengan orang – orang tukang perintah bahkan perkejaannya dia berikan kepadaku, sungguh konyol.” Ucapan itu lolos dari mulut Wanda begitu saja.
“Huhhh”
***
Sedangkan Reza yang berada di kantornya berkali – kali menatap jam tangan berwarna silver hadiah dari sang ibu saat ia dan Wanda resmi menjadi suami istri beberapa bulan yang lalu.
Sejak tadi ia tidak bisa di buat tenang bahkan laporan keuangan yang sudah sejak tadi harus ia tanda tanganngi terabaikan olehnya, Reza kemudian meraih ponsel dan hal yang pertama kali ia cari adalah nomor istrinya.
“Apa kau harus menghubunginya, ahh tidak ... tidak, kalau aku menghubunginya Wanda pasti akan marah lagi kepadaku karena menganggu waktu kerjanya” gumannya mengeleng lalu kembali meletakkan ponsel mengurungkan niatnya, Reza mencoba memfokuskan dirinya untuk melakukan pekerjaan kantor yang menumpuk namun tetap saja ia tidak bisa fokus dan di kepalanya hanya di penuhi dengan keraguan untuk menghubungi Wanda atau tidak.
Reza berdiri dan mengambil ponsel kini ia berada di depan jendela yang merlihatkan pemandangan Kota dari ruangannya.
Reza memandang ponselnya berkali-kali dirinya mengaruk kepala bingung.
“Apa yang sedang dilakukan Wanda yah, apa ia masih berkerja sampai sekarang”
“Aku akan tau jika menghubunginya” putusnya lalu menghubungi istrinya.
.
.
.
.
Besok lanjut lagi. Maaf karena keterlambatann up.🙏🙏🙏🙏😭