
Reza segera menghubungi istrinya, ia menatap ponselnya yang sudah terhubung itu namun Wanda belum mengangkat panggilannya.
“Sepertinya Wanda benar-benar sibuk” guman Reza tidak bersemangat memandang ponselnya, Nama untuk nomor telepon Wanda ia sudah ganti menjadi istriku dari sebelumnya wanita ceroboh.
Wajahnya menjadi murung, Reza tidak bisa menghubungi Wanda padahal dari tadi pria itu sangat ingin mengajak istrinya bicara walau sebentar saja namun apa daya wanita itu tidak mengangkat panggilan darinya.
“Aku harus bersabar, Wanda sepertinya sibuk” ucapnya mengusap wajahnya frustasi.
Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka sontak Reza langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, terlihat seorang wanita berpakaian formal dengan sebuah map coklat di tangannya, sesekali wanita itu tersenyum kepadanya namun Reza hanya menatap wanita tersebut dengan datar.
“Reza, maaf kalau aku menganggu aku hanya ingin memberikan dokumen ini untukmu agar kau memeriksanya” ucapnya menyerahkan map tersebut kepada Reza.
“Simpan saja, nanti aku akan memeriksanya” sahut Reza.
“Tapi Reza—“
“Tapi apa?, kau keluarlah aku sedang tidak mau di ganggu dan jangan menganggil namaku secara langsung saat berada di lingkungan perusahaan panggil dengan sebutan Tuan, mengerti!” perintahnya.
“iya aku mengerti Tuan Reza, maaf atas kelancangan ku”
“Sudah sana, cepat keluar!” usirnya dengan suara membentak, putri yang kala itu baru pertama kali mendengar Reza membentaknya langsung kaget dan menundukkan kepalannya.
“Kenapa kau masih saja di sini cepat keluar ... Keluar!” perintahnya.
Kedua mata putri berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa Reza akan membentakknya, padahal ia tidak melakukan kesalahan dan pria itu malah membentak dan mengusirnya.
“Kalau begitu saya pamit”
Putri pamit keluar dari ruangan Reza dengan hati bertanya-tanya akan perubahan sifat Reza kepadannya.
“Mungkin Reza lagi banyak pikiran makanya dia marah – marah seperti itu” pikirnya sambil melangkah
keluar dari ruangan Reza.
Sedangkan Reza memijit keningnya yang terasa pusing, istrinya sama sekali tidak menghubunginya kembali setelah beberapa lama.
“Awas saja nanti aku membuatmu agar selalu menghubungiku” guman Reza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya.
***
Pukul 12.30 waktunya makan siang..
Kantin Perusahaan, Putri duduk di sebuah kursi kosong tatapanya terahlihkan dengan kehadiran Reza yang juga duduk tidak jauh dari tempatnya kini, seutas senyuman terselip di wajahnya. Wanita itu segara mengangkat nampang makanannya berjalan mendekati Reza dengan niat makan siang dengannya.
“Maaf apa aku bisa duduk di sini?” tanya Putri, tidak ada jawaban Reza terlihat sibuk mengutak – atik ponselnya.
“Reza” panggilnya.
“Iya ada apa?” tanya Reza tanpa menoleh.
Putri langsung duduk di hadapan Reza dan mengambil ponsel pria itu, ia menatap Reza dengan kening berkerut.
“Reza..”
“Ada apa sih Putri, kemarikan Ponselku” pintanya, namun Putri menggeleng.
Reza mengenduskan napasnya, seluruh perhatian kini tertuju kearah mereka.
“Kau!” geramnya.
“ayo makan, oh iya apa bekal itu buatan ibumu ... boleh aku mencobanya?” tanya Putri.
“Tidak boleh, ini masakan seseorang yang spesial aku tidak akan mau membanginya dengan siapa pun
termasuk dirimu” Tolak Reza, ia lalu membuka bekal makan siangnya.
“Orang spesial?, siapa?” tanya Putri, Reza sekilas menatap ke Putri dengan tampang tidak bersahabat.
“Kau tidak perlu tau semua tentang diriku berhentilah bertanya dan kau cepat habiskan makan siangmu lalu berikan ponselku”
Putri terdiam, pria di hadapannya ini benar – benar berubah dan perubahannya terlalu drastis hingga ia tidak bisa mengenali Reza kali ini, ia pun memakan makan siangnya sembari memperhatikan Reza dengan penuh tanda tanya dalam hatinya.
___
Sedangkan di kantor polisi, Wanda masih saja terlihat sangat sibuk mengetik matanya fokus dengan komputer di hadapannya, tugasnya menumpuk banyak terlebih lagi Komandanya itu mengigingkan agar tidak ada kesalahan dalam pengetikan satupun membuat Wanda berulang kali mengecek apa ia melakukan kesalahan atau tidak.
“Wanda kau ayo makan siang, kau dari tadi belum istirahat” ajak Fitri menganggu Wanda.
“Tidak, kau duluan saja ... aku masih sibuk” sahut Wanda tanpa menoleh dan tetap melanjutka tugasnya.
“Wanda ayo makan siang dulu, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu setelah makan siang, Ayo makan siang bersama denganku” ajaknya lagi.
“Aku sudah bilang aku tidak mau, jangan memaksaku, kalau kau mau makan siang pergi sendiri saja ... apa kau tidak melihat aku sangat sibuk” kata Wanda.
Fitri memejamkan matanya, temannya ini adalah wanita keras kepala jika dan susah di paksa, namun ia tidak mau Wanda kelaparan lantas berkata.
“Baiklah kalau kau tidak makan siang, aku duluan saja tapi aku akan membelikan kamu makan siang dan kau harus memakannya nanti, Ok” sarannya, Wanda sejenak berpikir melirik temannya serius lalu mengangguk.
“umm, iya ... iya ... iya” jawabanya lagi.
“semangat Wanda, kau cepat selesaikan tugasmu itu, aku pergi dulu” ujarnya melangkah pergi meninggalkan Wanda di ruangan itu sendirian, semua anggota kepolisian di sana sudah pergi untuk mencari makan siang hanya ada Wanda saja dan kompoternya.
Begitu Fitri sudah tidak terlihat Wanda tiba – tiba berdiri hendak mengambil minuman karena tengorokannya terasa sangat kering, Wanda meraih sebuah gelas kaca di samping despenser lalu mengisi gelas itu dengan air mineral setelah itu ia mengeguknya beberapa kali hingga gelas yang awalnya penuh dengan air kini habis tidak tersisa.
“Aku benar – benar haus” ucapnya merasa lega.
Wanda mengisi gelas itu dengan air lagi hingga penuh lalu kembali ke mejanya melanjutkan setumpuk pekerjaan menunggunya.
“Pria itu sangat keterlaluan, mustahil untuk menyelesaikannya sampai sore”
.
.
.
.
Tunggu Up selanjutnya.. 😁🙏