
Setelah perdebatan mereka berdua, kini Reza maupun Wanda sama-sama merasa bersalah satu sama karena saling menuduh tanpa mau mendengar penjelasan masing-masing, kecanggungan terlihat melanda diantara keduanya, Reza bahkan tidak tidur hingga hari kegelapan berganti menjadi terang dengan semburan matahari pagi.
Lima menit berlalu, Reza beranjak berdiri dari kasur meninggalkan Wanda yang masih terlelap di sana, dengan perlahan pria melangkah hendak menuju dapur ia berencana untuk membuat sarapan untuk dirinya dan juga istrinya itu sebagai permintaan maaf karena menuduh yang tidak-tidak kepada istrinya membuatnya salah paham.
Setibanya di sana, Reza segera membuka lemari pendingin mengambil empat butir telur dan mengorengnya, setelah itu Reza menata piring dan juga roti gandum yang sudah ia panggang sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk menyiapkan sarapan pagi yang tergolong sangat simpel dan mudah untuk dibuat, Reza menatap hasil buatannya seutas senyuman tipis terlihat di wajahnya tak kala sarapan buatannya selesai.
"Hum, pasti Wanda akan suka." guman Reza membatin.
Selanjutnya pria itu kembali menuju kamarnya dengan niat untuk membangunkan Wanda dan mengajakanya untuk sarapan bersama-sama.
Pintu terbuka sebelum Reza memegang handel pintu kamar tersebut, ia dibuat mematung akan Wanda yang sudah bersiap-siap dan terlihat rapi dengan penampilannya yang terkesan elegan.
"Kau sudah bangun?" tanya Reza menatap Wanda dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Iya, aku akan berangkat sekarang, minggirlah!" ujar hendak melewati suaminya tanpa mau membalas tatapan pria itu mengingat pertengkaran mereka.
"Tunggu kita sarapan dulu, Wanda kumohon ...." pinta Reza terdengar lirih menahan langkah istrinya.
Sejenak Wanda menatapnya dengan mengerutkan kening lalu menghempaskan tangan Reza yang memegangnya.
"Baiklah ayo kita sarapan." jawab Wanda mendengus pelan.
^^
Reza memarkirkan mobilnya di pekarangan kantor polisi dimana istrinya bekerja, ia turun dari mobil dengan memasang wajah datarnya.
"Tuan ada keperluan apa Anda datang kemari?" seseorang tiba-tiba bertanya kepadanya tak kala saat itu dirinya hendak melangkah masuk melewati pintu kaca tersebut.
"Aku ingin bertemu dengan Wanda, apa dia ada didalam?" tanya Reza.
"Wanda? sepertinya dia tadi pergi keluar bersama dengan Andre, oh iya sudah dari sejam yang lalu." mendengar jawaban dari orang tersebut Reza tiba-tiba mengurungkan niatnya lantas berbalik kembali kearah mobilnya.
"Andre lagi, entah ada hubungan apa diantara keduanya ... aku tidak akan membiarkan lelaki manapun mendekati istriku." ucapannya, Reza di liputi dengan kecemburuan dari beberapa hari yang lalu istrinya itu lebih sering bersama dengan lelaki yang bernama Andre di bandingkan dirinya.
Reza dengan hati berat menyalakan mobilnya, ini sudah hampir lewat dari waktu istirahatnya dan ia harus kembali kekantor dimana dirinya bekerja untuk mencari uang demi masa depannya kelak bersama dengan keluarganya.
Setelah Reza meninggalkan kantor polisi, tidak lama setelah itu terlihat sebuah mobil masuk kedalaman sana dan kini sudah terparkir dengan rapi diantara jajaran mobil di sana.
Wanda turun dari kursi penumpang terlihat sekali raut wajah wanita itu kusut, Andre yang menyusul Wanda kemudian merangkul bahu sahabatnya tersebut mencoba menghiburnya.
"Wanda apa kau tau hal apa yang paling sering kita lakukan selama hidup di dunia ini?" tanya Andre.
"Tidak, memang apa yang paling sering dilakukan saat hidup, makan? minum? tidur? atau berbelanja?"
"Bukan itu ...."
"Terus apa? kau jangan aneh-aneh lagi." ujar Wanda menata sinis Andre dan melepaskan rangkulan tangan Andre yang berada di pundaknya lalu mempercepat langkah kakinya.
Andre hanya tersenyum lalu segera mengikuti Wanda, ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan jawaban abstruk.
"Jawaban bernapas bodoh." jawab Andre berteriak membuat Wanda kesal mendengarnya.
"Dasar sinting!" ucap Wanda sejenak berhenti lalu menoleh sekilas kepada orang yang ia panggil sinting tersebut.
Keduanya hampir masuk kedalaman namun tiba-tiba salah rekan kerjanya menghentikan langkah Wanda maupun Andre.
"Maaf, tapi aku hanya mau menyampaikan jika tadi ada seorang lelaki yang mencari Wanda sampai dia datang kesini."
"Seorang lelaki? siapa?" tanya Wanda menyahut mendahului Andre.
"Aku tidak tau tapi penampilannya sangat rapi dan memakai jas hitam."
"Jangan-jangan itu Reza." guman Wanda bisa menebaknya.
"Siapa?" tanya Andre.
"Tidak tau, aku sudah mengatakannya kepadamu dan sekarang aku mau pamit." ujarnya, setelah itu Wanda segera mengambil ponsel dan menghubungi Reza.
Sedangkan Andre yang tidak tau lantas masuk kedalaman terlebih dahulu.
***
Sepulang kerja, Wanda terlihat sedang menunggu seseorang, sesekali wanita itu berdecak kesal entah sudah hampir lima belas menit ia menunggu di sana.
"Kenapa kau belum pulang? apa mobilmu rusak lagi, kalau begitu naiklah mumpung aku berbaik hati hari ini, ayo naik." kata Rifan saat melihat anak buahnya masih berdiri di depan kantor tersebut.
"Tidak, terima kasih, komandan." tolaknya.
"Tumben, kau menolak ajakanku atau kau menunggu Andre yang mengantarmu pulang." ujarnya. Wanda menggeleng tanpa menyahuti perkataan komandannya.
"Terus kenapa kau masih di situ. Ayo naik biarkan aku yang mengantarmu pulang."
"Tidak perlu Komandan." tolak Wanda kembali, Rifan menghembuskan napas panjang lalu segera keluar, kini ia berdiri di hadapan Wanda dengan bingung.
"Ayo masuklah, tidak baik menolak bantuan orang lain." Rifan menarik tangan Wanda memaksa wanita itu masuk, Wanda memberontak ia sudah berjanji kepada Reza bahwa akan menunggu menjemputnya di sini.
Rifan tidak memindahkan penolakan Wanda, ia masih saja memaksa wanita itu masuk namun sebelum pintu mobilnya terbuka saat ingin mengajak Wanda masuk tiba-tiba ada seseorang yang menarik Wanda hingga terlepas dari cengkeramannya.
Rifan hendak memaki namun kedua matanya di kejutkan akan kehadiran seorang pria yang sudah memasang wajah tidak bersahabat sama sekali.
"Hei berengseek, jangan menyetuh istriku, Wanda adalah istriku kau mengerti!" bentak Reza menunjuk wajah Rifan dengan wajah yang sudah merah menyala.
"Reza kau jangan berkata seperti itu, dia ini Komandanku, kau jangan kurang ajar kepadanya." ujar Wanda.
"Kau membelanya?"
"Tidak, siapa juga yang membelanya tapi kau tidak boleh berperilaku seperti ini, atau aku pulang duluan saja bersama Andre." Ancamannya, Reza menghembuskan napas kasar lalu mengatur napasnya kembali normal.
"Maafkan Reza Komandan, kami pamit dulu."
.
.
.
.
.
🙃 Udah mau End nya.