The Wife Police

The Wife Police
"Ayo Pulang"



“Wanda ... kau tidak mau pulang?” tanya Fitri, hari sudah sore ia mengambil tas dan mendekati Wanda yang masih terlihat sibuk di depan komputer.


“Kau pulanglah duluan, aku akan pulang begitu pekerjaanku selesai” jawabnya menoleh sekilas lalu kembali mengerjakan tugasnya.


Fitri menghela napas lalu menepuk pundak temannya “ Kau jangan terlalu memaksakan diri nanti kau sakit” ujarnya.


“Iya aku mengerti ... kau pulanglah”


Waktu terus bergulir kini sudah pukul 08.00 malam, Wanda masih belum beranjak sama sekali dari kursinya bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa pekerjaan wanita itu akan selesai, berkali-kali Wanda mengusap matanya yang terasa mengering.


Deringan suara ponselnya sedari tadi berbunyipun tidak ia hiraukan karena Wanda tau yang menghubunginya adalah suaminya dan satu-satu cara untuk menghidari Reza untuk sementara adalah dirinya bekerja lembur dan akan pulang begitu pria itu tertidur yang Wanda yakini Reza akan tertidur jika sudah pukul sepuluh malam lewat.


Masih saja dalam


keadaan sibuk dengan komputer dan keyboard jari-jarinya dengan cekatan mengetik setiap kata.


“Kau masih di sini” ujar seseorang tiba-tiba masuk menghentikan sejenak pekerjaan wanita itu, Wanda menoleh lalu menganggukan kepala tanpa mengucapkan satu kata pun.


“Kenapa kau tidak pulang?, apa pekerjaanmu belum selesai juga?, apa kau sudah makan malam?” tanyanya bertubi-tubi tanpa jeda di lontarkan untuk Wanda, lalu mendekati meja Wanda melihat pekerjaan wanita itu, kedua matanya menyipit begitu membaca setiap detail hasil ketikan Wanda tidak lama kemudian ia tersenyum.


“Aku harus menjawab yang mana, pertanyaamu begitu banyak” sahut Wanda bingung.


“Tidak perlu menjawabnya, sudah hentikan pekerjaamu ... kau tidak perlu melanjutkannya”


“Kenapa?” tanya Wanda dengan kening berkerut, enak saja pria ini mengajaknya pulang padahal dari tadi ia sangat ingin menyelesikan semua tugasnya agar besok ia bisa kembali bertugas di luar kantor.


“Ini sudah malam,  kau sebaiknya pulang nanti suamimu mencari keberadaamu” ujarnya lagi.


“Biarkan saja, aku mau selesaikan semua ini dulu” ujar Wanda.


“ Wanita ini, kau pulang saja ... kau bisa lanjutkan pekerjaamu besok lagi, jangan terlalu memaksakan diri bisa-bisa kau kelelahan dan suami pemarahmu itu memarahi kami semua” tukasnya, Wanda berpura-pura tudak mendegar kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertuda akibat gangguan dari pria di hadapannya ini.


Pria itu mengenduskan napas menggeleng menatap Wanda, ini tidak benar ia harus bisa membuat Wanda segera menghentikan pekerjaanya karena sedari pagi wanita itu sudah duduk di meja dengan sebuah komputer mengerjakan setumpuk dokumen, dan mungkin jika terus di lanjutkan bisa-bisa wanita itu seesokan harinya malah jatuh sakit.


“Kau ini keras kepala sekali, Ayo pulang ini sudah malam” ajaknya lagi kali ini ia dengan berani menarik lengan wanita itu dengan sedikit memaksa.


“Hei bodoh, lepaskan lenganku ... sakit” Wanda meringis mencoba melepaskan tangan pria itu dari lengannya namun ia merasa percuma saja.


“Ayo pulang, biarkan aku yang mengantarmu sampai rumahmu” Ajaknya mengembil tas dan ponsel Wanda,


dengan sekuat tenaga Wanda merontah namun tidak mengubah apapun sama sekali entah kenapa tubuhnya terasa sangat lemah.


“Aku tidak mau!, kau pulang saja sendiri jangan mencoba memaksaku atau kau kulaporkan kepada komandan”


Ancaman yang keluar dari mulut Wanda tidak mengubah apapun kini mereka sudah berada di luar kantor dari sebelumnya Wanda di seret keluar dari sana secara paksa.


“Ayo masuk kedalam mobil”


“Kenapa aku  tidak berani, hei wanita seharusnya kau sadar kalau kau sudah menikah dan pasti sedari tadi suamimu sudah menunggumu pulang apa kau tidak berpikiran seperti itu hah!, jika saja aku sudah mempunyai istri dan tingkah lakunya seperti dirimu mungkin sudah aku marahi” ujarnya sambil melirik wanita yang kini duduk di dalam mobil bersama dengannya.


Seketika keadaan menjadi hening, Wanda menutup mulutnya perkataan Andre memperngaruhi pikirannya, apakah suaminya itu juga berpikiran seperti Andre, sejenak Wanda menyandarkan punggungnya ke sadaran kursi mobil tempatny duduk sekarang ini, ia seakan sadar bahwa dirinya bukan wanita sempurna yang bisa mengurusi pekerjaan rumah, terlebih lagi pernikahannya sama sekali tidak di harapkan oleh Reza dan yang terjadi kemarin malam itu pasti hanya sebuah kesalahan.


Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan tidak mellibih batas normal, mengantar Wanda pulang merupakan salah satu tugasnya karena perintah dari komandannya secara langsung dan lagi pula dirinya dan Wanda adalah sahabat jadi tidak jarang perdebatan seperti ini menjadi makanan mereka setiap kali bertemu, sebuah lirikan ia berikan kepada Wanda entah kenapa sahabatnya ini menjadi sangat pendiam.


“Emm, Wanda aku minta maaf” ucapnya tiba-tiba.


“Untuk apa?” tanya Wanda.


“lupakan saja, oh iya apa lenganmu masih sakit?” tanyanyaa, Wanda spontan memegang lengannya.


“Tentu saja masih sakit tapi sudah mendingan” Jawab Wanda singkat.


Kembali tidak ada.percapan di antara keduanya, Andre kembali terfokus akan kemudinya dan Wanda menatap jalan raya penuh dengan lampu jalan menerangi gelapnya malam.


Tidak lama setelah itu mobil Andre berbelok masuk keareh perumahan dekat pusat kota sesuai.dengan arahan Wanda, terlihat di sana ada berbagai rumah mewah berjajaran.


“Apa ini tidak salah, apa kau tinggal di perumahan ini?” tanya Andre seakan tidak percaya,.sumpah demi apapun Andre tidak tau apa sebenarnya pekerjaan suami sahabatnya ini karena tepat hari pernikahan Wanda dirinya sedang berada di luar pulau dan baru beberapa minggu yang lalu ia kembali.


“iya memang kenapa, apa kau sekaget itu”


“Tidak, Sebenarnya suamimu bekerja dimana?, sungguh tidak mungkin dirimu mampu membeli salah satu rumah di sini karena kau pelit dan bisa ku pastikan suami yang membelinya ... bukan?” ujarnya dengan nada meledek.


“Kau bicara apa?, sembarangan saja” kesal Wanda. Belum sempat melanjutkan ucapanya ia meminta Andre untuk menghentikan laju mobilnya.


“Ini rumahmu?” tanya Andre, Wanda mengangguk lalu segera keluar dari sana tanpa berterima kasih kepada orang yang telah mengantarnya pulang dengan selamat.


Kedua mata Andre menatap Wanda hingga wanita itu benar-benar masuk ke pagar rumahnya.


“Lihatlah wanita ini sama sekali tidak tau terima kasih, ah biarkan saja sebaiknya aku pulang juga” gumannya berbelok hendak pergi dari sana.


Sedangkan Wanda kini sudah berada di depan pintu rumahnya mengetuknya berulang kali namun tidak ada sahutan maupun suara dari dalam sana dan juga  rumahnya terlihat gelap gulita tidak ada satupu lampu yang menyala di dalam sana saat ia mengintip melalu jendela.


“Kemana perginya Reza, apa dia sudah tidur” guman Wanda mengaruk kening, ia bingung bagaimana caranya ia masuk kedalam rumah.


“Apa dia belum pulang?” tanya Wanda dalam benaknya, lantas ia duduk di kursi teras rumahnya, sambil menunggu Reza pulang.


.


.


.


.