
"Aku tidak akan kembali sebelum aku tahu siapa Earl," jawab Carl. Hal itu tentunya membuat kesabaran Amber menipis. Amber menarik nafasnya pelan, ia lelah, siang ini ia mendapatkan panggilan dari Amanda dan harus meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk. Operasi rupanya tak menyembuhkan Earl secara total, Earl kembali rewal dan tidak bisa diam padahal dokter sudah melarang keras agar Earl tidak terlalu banyak bergerak.
Amber menatap Carl dengan datar, tidak bisakah Carl pergi dan tidak membuat perasaannya kembali goyah! "Apa yang ingin kau tahu Carl? jangan mempersulit keadaan!" Amber nyaris berteriak, demi tuhan hidupnya sudah cukup tenang tanpa kehadiran orang-orang dari masalalu.
"Apa Earl anak ku? Kau berbohong bukan saat mengatakan kau menggugurkannya?" Amber terdiam, raut wajah kebencian ia berikan pada Carl.
"Sejak kapan kau mengakuinya?" sindir Amber dengan tajam.
Carl melepaskan maskernya dengan kasar, dan hal itu membuat Carl dapat dengan leluasa berbicara. "Dengar Amber, saat itu aku sedang mengejar karir ku–"
Amber mengangkat tangannya cepat. Ia tidak membutuhkan penjelasan apapun. "Aku tidak peduli Carl, jangan ikuti aku lagi dan kembali lah dengan karir mu," potong Amber cepat. Carl mencoba kembali berbicara dan menggapai tangan Amber, namun Amber memukul dada Carl terlebih dahulu dengan tangan yang menggenggam kacamata lalu melepaskan nya begitu saja, Amber kesal dan bercampur marah, ia berbalik meninggalkan Carl.
Carl tidak memperdulikan kacamata itu jauh ke tanah, dengan cepat ia menarik tangan Amber.
"Ijinkan aku melihatnya sekali, setelah itu aku akan pergi," mohon Carl. Amber menggelengkan kepalanya. Perdebatan pun di mulai, Amber mengeluarkan segala kata-kata pedasnya, sedangkan Carl tetap dengan keinginannya. Perdebatan itu menarik perhatian beberapa orang yang tengah berjalan, hingga sebuah ucapan seseorang membuat keadaan bertambah rumit. "Bukan kah itu Carl?" ,
"Ya. Astaga itu benar-benar Carl." Carl menundukkan kepalanya, tidak boleh ada kamera yang menangkap nya. Ia sedikit lega saat melihat Chris berlari kearahnya, menahan beberapa orang yang tengah berkerumun ditepi jalan.
"Kau benar-benar merepotkan," ujar Amber sambil menarik Carl, ia pun tidak ingin menjadi perbincangan publik, menjadi perbincangan para tetangga saja membuat kepalanya pening apalagi harus berurusan dengan media.
Mereka masuk kedalam rumah berukuran kecil, Amber mengunci pintu itu dan menutup jendela rumahnya. "Tunggulah disini, dan pergi setelah semuanya tenang," ujar Amber dingin, namun lagi-lagi Carl menahan langkah Amber.
"Aku ingin melihat Earl. Aku berjanji akan pergi dan tidak akan mengganggu mu lagi." Amber menghembuskan nafasnya kasar, menatap Carl dengan kesal.
"Amber? Dia...?" tanya Amanda dengan raut wajah kebingungan melihat Amber membawa seseorang yang tidak asing, wajahnya sering tampil di televisi, namun Amanda tidak yakin dengan nama pria itu.
"Dia teman lama ku, ingin melihat Earl sebentar," jawab Amber. Carl nyaris tak percaya, anak laki-laki itu benar-benar mirip dengannya saat kecil, rambut yang sedikit ikal dan bola mata dengan warna indah, senyumnya pun begitu manis walau dengan keadaan wajah pucatnya.
"Hallo uncle. Aku Sebastian Earl," ujar Amanda dengan nada anak kecil. Carl mendekati Amanda yang kini tengah memeluk Earl dengan hangat. Sedangkan Amber, ia membuang wajahnya di dekat pintu kamar, pemandangan ini terlalu menyakitkan hatinya.
"Hai anak tampan. Aku Carl," jawab Carl ramah. Matanya kini menatap nanar pada sebuah selang infus bening yang terpasang ditangan mungil itu. Carl pun baru menyadari kamar ini memiliki beberapa peralatan medis, sebuah tabung dan beberapa obat.
"Kau sudah melihatnya bukan? lebih baik kau segera pulang," peringat Amber.
Carl berbalik menatap Amber. "Mengapa kau tidak merawatnya dirumah sakit? mereka lebih mengerti dan kesehatan Earl akan terjamin," ucapan itu membuat Amber tersenyum sinis.
"Kau pikir aku tidak menginginkan itu? biaya rawat inap begitu mahal dan gaji ku hanya mencukupi obat dan perlengkapan medis nya saja. Kau pikir aku tidak tertekan saat dituntut harus bisa memasangkan infusnya setiap hari!" Kemarahan Amber meluap. "Aku pun tidak akan semenderita ini jika Earl tidak memiliki penyakit apa-apa. Kau pikir ini tidak membebani ku? saat Earl tiba-tiba kritis seperti kemarin aku harus rela menjual diri ku!"
"Amber!" desis Amanda memperingati.
"Mulai sekarang aku yang akan membiayai semua keperluan Earl, ijinkan aku bertanggung jawab sebagai ayah Earl." Amanda tampak terkejut mendengar itu.
"Tidak perlu Carl, lebih baik kau pergi sekarang dan jangan ganggu aku lagi!" pekik Amber.