The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 25



Keesokan harinya Carl sudah berpamit pergi sedari pagi, kini Amber sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Sebelum ia mengambil kunci mobil, Amber seakan teringat sesuatu, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nomor Amanda. "Hai Amber!" pekik Amanda di seberang sana dengan begitu antusias. "Bagaimana Earl? Kau sudah menikah dengan Carl?"


"Sudah, 1 bulan yang lalu. Bagaimana kabar mu?" tanya Amber. Ya menatap jari-jemarinya, pikirannya kembali melayang.


"Kabar ku cukup baik di sini, hanya saja Sean selalu kembali dan menanyakan mu. Dia sangat marah karena aku tidak memberitahunya tentang keberangkatan mu waktu itu."


Amber menghela nafasnya pelan. "Sampaikan permintaan maaf ku kepada Sean, keadaan Earl sudah sangat membaik, dan Carl memberikan sebuah kartu untuk ku."


"Bagus jika begitu, kita bisa menabung untuk kebutuhan hidup kita selama ditempat baru. Semoga saja Earl bisa cepat pulih dan aku akan langsung menjemput mu," ucap Amanda. "Maaf menyarankan mu seperti ini, pasti kau sangat tidak nyaman di sana bersama pria yang kau benci," lanjut Amanda dengan nada bersalah.


Tanpa sadar Amber menggigit bibir bawahnya sendiri, ia ingin menceritakan tentang perasaannya yang menjadi tak menentu. "Sebenarnya ada yang ingin ku katakan," jawab Amber pelan. Amber menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali. "Entah kenapa perasaan ku seakan berdebar di dekat Carl, kau tahu? Rasanya seperti aku kembali jatuh cinta kepadanya, aku sendiri—"


"Tidak Amber! Itu tidak boleh terjadi, ingat sudah berapa tahun dia menelantarkan mu, sekarang kau hanya kembali untuk meminta pertanggung jawaban nya, bukan untuk mendapatkan cintanya kembali. Ingat Amber, kita sudah membahas ini, cinta hanya manis diawal, kita pernah hancur karena cinta bukan?" tanya Amanda.


Amber terdiam. Ia mendengus samar, Amber menyandarkan tubuhnya pada belakang sofa. "Ya! Aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa, perasaan ku masih mengatakan jika aku mencintainya," jawab Amber frustasi.


"Amber dengarkan aku, tenangkan diri mu. Baiklah, bagaimana jika begini, kau bisa menikmati peran mu sebagai seorang istri selama Earl masih belum sehat betul, namun hanya itu waktu yang kau miliki, setelah Earl sembuh, aku akan menjemput mu dan kita akan hidup seperti biasa. Percayalah, Aku hanya tidak ingin kau kembali tersakiti oleh orang yang sama."


Baru saja Amber akan menjawab, suara bel terdengar disusul ketukan pintu. Kening Amber mengkerut samar, apakah Carl pulang kembali? Tidak mungkin bukan jika Carl yang pulang harus mengetuk pintu. "Amanda sebentar, sepertinya ada tamu," ucap Amber seraya mematikan panggilan tersebut.


Amber pun berjalan pelan menuju pintu, ia mengintip lewat kaca kecil yang terletak di atas gagang pintu. Di sana Tengah berdiri Valerie dan Ken. Tanpa menunggu lama lagi, Amber pun membuka pintu itu dengan perlahan. "Hai kalian," sapa Amber bingung.


Valerie tersenyun kearah Amber. "Kami terlalu pagi datang ke rumah sakit, rupanya kalian belum ada disana," kekeh Valerie. "Kami membawakan hadiah kecil untuk kalian, kemarin kalian pulang lebih awal, aku lupa memberikan ini," lanjut Valerie ceria.


"Hadiah kecil? Untuk apa? Apa tidak merepotkan mu?" tanya Amber tak enak. "Masuklah dulu, biar aku siapkan minum untuk kalian," ucap Amber dengan sopan.


"Kemana Carl?" tanya Ken membuka suara.


"Carl mulai syuting hari ini, dia akan pulang malam nanti," jawab Amber cepat. Ia membawa sebuah paper bag yang ada di atas meja, membukanya pelan lalu menatap Valerie.


"Terimakasih untuk hadiahnya, ini sangat menggemaskan," gumam Amber. Ia melihat sebuah mainan mobil keluaran terbaru lengkap dengan pakaian kostum polisi yang masih terbungkus rapi pada sebuah kotak dengan mika bening di atasnya.


Valerie tersenyum mendengar itu, "Dua hari yang lalu, aku dan Ken melihat mainan ini sangat cocok untuk Earl, sebenarnya aku ingin memberikannya saat sore, namun badan ku terasa sakit saat itu dan besoknya aku periksa ternyata aku hamil," kekeh Valerie. "Aku melihat tadi Earl sudah sangat sehat, kapan Earl pulang dari rumah sakit?" tanya Valerie.


"Dokter mengatakan bulan depan aku sudah bisa membawa Earl pulang," jawab Amber sambil tersenyum ceria, ia pun menunggu moment itu tiba, dimana Earl sudah tak memerlukan selang bening yang menempel ditubugnya.


Setelah berbincang-bincang kecil, Valerie pun meminta izin untuk ke kamar mandi, meninggalkan dua orang yang terlihat tak begitu akrab. Mungkin bagi Ken ini sudah biasa saja, namun bagi Amber ini sangat canggung. Ken terdengar berbatuk kecil sambil menoleh kearah Amber. "Tempat ini tidak banyak yang berubah," gumam Ken. Amber hanya tersenyum kaku, entah mengapa Amber merasa kata-kata yang lontarkan Ken adalah sindiran saat dulu Ken memergoki pengkhianatan yang dilakukan Amber ditempat ini.


"Ya. Masih sama seperti dulu," gumam Amber. Ken tertawa kecil mendengar itu, bahunya terlihat terguncang samar.


"Ya, astaga, dulu," ulang Ken. "Amber," panggil Ken kemudian saat tawanya terhenti. Amber menoleh dengan ragu, wajah Ken terlihat serius. "Sebenarnya aku ingin minta maaf atas sikap ku dulu. Aku pun merasa bersalah pada mu dan juga Earl. Aku tak membantu mu sama sekali saat Carl tak bertanggung jawab. Saat itu diri ku benar-benar dikelilingi oleh rasa benci, aku tak pernah ingin memikirkan keadaan mu, juga Earl, keponakan ku sendiri. Andai saja saat dulu aku tidak terlalu egois, mungkin Earl tidak akan seperti ini."


Amber dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak Ken, ini bukan salah mu, memang sudah seharusnya jalan yang ku tempuh seperti ini, banyak pembelajaran yang aku ambil dari kebodohan ku sendiri," kekeh Amber pelan. "Aku yang seharusnya minta maaf sudah mendatangi mu saat itu, aku seperti tidak tahu malu saat sudah mengkhianati mu lalu meminta pertolongan mu."


"Sudah, kita tidak perlu saling meminta maaf, bagaimana jika kita membuka lembaran baru? Aku Kakak ipar mu, dan kau adik ipar ku. Lagipula atas kejadian itu aku menemukan seseorang yang mencintai ku dengan tulus," ucap Ken. Wajahnya menengok kearah Valerie yang baru saja muncul dari arah kamar mandi, ia tersenyum dengan begitu lebar.


Amber tak mampu menahan senyumnya, ia senang melihat Ken bahagia seperti ini. Hanya saja Amber mulai berpikir, kapan ia dan Carl bisa seperti itu? Amber ingin bahagia, namun Amber takut terluka lagi.


"Hai, maaf jika aku lama," kekeh Valerie. "Bagaimana jika kita berangkat sekarang?" Tanya Valerie. Mereka akan pergi ke rumah sakit bersama-sama, melihat perkembangan Earl lebih lanjut.