
Carl mengangguk perlahan, "Sepertinya, dan itu yang aku takuti. Aku takut kakak hanya melakukan balas dendam dan akan menyakiti hati Valerie, aku takut Valerie tidak bahagia dengan pernikahannya. A-aku benar-benar minta maaf pada kalian semua. Ini semua berawal dari kesalahan ku, aku-"
"Aku tidak terima jika cucu ku mendapatkan perlakuan seperti ini!" kini Alex yang bersuara, keadaan yang semakin rumit membuat Amber gelisah.
"Anak-anak yang tidak berguna," desis Ken. Sedangkan Justin sudah mengepalkan tangannya, ia membuang wajahnya. Rasa amarah pun mulai menyala. Anak yang sudah ia besarkan dengan kasih sayang diperlakukan seperti ini, rasanya seperti penghinaan yang sangat merendahkan keluarga besar mereka.
"Tenanglah sebentar, aku akan menelpon Ken agar segera kembali dari acara makan malam keluarga Siena," ujar Alicia.
"Tidak Alicia, biarkan mereka menikmati waktu mereka. Sayang, Dad lebih baik kita pulang sekarang, terimakasih untuk acara yang sangat penting ini," ujar Jessy tanpa dengan nada sindiran yang tajam.
"Tidak. Jessy, kita belum mendengar bagaimana tanggapan Ken dan Valerie. Aku tidak ingin ada salah paham," bujuk Alicia, ia panik dan semakin histeris.
"Semuanya sudah jelas, tidak perlu tanggapan. Ini tampak masuk akal sekarang." Jawab Jessy sambil berlalu, keluarga Valerie tampak murka dan kecewa, mereka ingin marah dan berteriak, namun tidak bisa, hubungan mereka terlalu dekat.
"Oh, Jessy." Alicia tampak sedikit mengejar, namun ketiganya tampak tak memerlukan penahanan apa-apa, semuanya tampak kacau, tidak terkendali.
Wajah Richard memerah, tangannya mengepal erat. "Bagaimana kau mendidik mereka bisa menjadi seperti itu?" bentak Richard keras pada Alicia, membuat Alicia mematung seketika.
"Apa maksud mu? Kau menyalahkan ku?!" bentak Alicia balik.
"Ya! Aku bekerja sedangkan kau dirumah, waktu mu lebih banyak bersama kedua anak itu! Kau yang mendidik mereka! Benar-benar memalukan ku dan tidak berguna!"
"Aku mendidik mereka dengan benar, bagaimana jika mereka menurun dari sikap mu?! Berkacalah bagaimana sikap mu dulu!." teriak Alicia.
Agatha dengan cepat berdiri ditengah mereka, mencoba untuk meleraikan mereka. "Astaga, kalian tenanglah. Kita berbicara dengan kepala dingin." Richard membuang wajahnya, ia berjalan keluar dari ruangan makan. "Richard!" panggil Agatha. Alicia yang masih bergejolak amarah tampak begitu menahan emosinya, mata yang berkaca tengah berusaha menahan air mata untuk tidak jatuh.
Amber mematung ditempat, jantungnya berdebar kencang. Apa ini semua karenanya? lagi-lagi ia mengacau kan semua orang. Apa kini Ken akan menjadi terkena masalah? tapi Amber tidak terlalu mengerti dengan kisah Ken dan Valerie. Amber menoleh kearah Carl yang kini duduk dengan lemas, pandangannya seakan kosong dan semua tenaganya seakan menghilang.
**
Beberapa saat kemudian, saat semuanya sudah agak tenang dan Amber mulai menguatkan Carl, suara decitan mobil diluar tampaknya menjadi pertanda jika semua ini belum usai. Ken keluar dari dalam mobil, melangkah dengan penuh amarah yang siap ia keluarkan. "Dimana Carl?" tanya Ken dingin pada seorang pelayan dirumah mereka.
Tanpa menundanya, Ken masuk kedalam ruangan itu, makanan yang masih utuh membuat Ken ingin tersenyum sinis, tampaknya acara ini sudah berantakan sejak awal. "Apa yang kau katakan pada keluarga Valerie!" Ken benar-benar mengeluarkan suara beratnya. Langkah yang sudah tertuju pada Carl yang tengah terduduk lemah.
"Ken!" jerit Agatha saat tiba-tiba saja Ken menarik kerah Carl, membuat Carl sontak berdiri. 'Bhuk' Ken melayangkan pukulannya dengan keras, tepat disudut bibirnya, menggantikan pukulan Justin yang tadi mengenai wajahnya. 'Bhuk' dan kini, pukulan dari Ken untuk Carl, kepalan tangannya menghantam keras perut Carl.
Mata Amber membola. "Astaga, Ken!" Amber yang tampak syok langsung berdiri, menghentikan Ken dan berdiri diantara mereka. Dengan rasa muak, Ken menepis tangan Amber yang menyentuh lengannya dikerah Ken, pasangan memuakan ini benar-benar sudah merusak hidupnya.
"Ken, cukup sayang, tenangkan lah diri mu," bujuk Agatha, nafas Ken masih memburu saat melihat Carl yang tidak berniat membalas pukulannya, wajah Carl hanya menahan sakit dan tampak kacau seperti dirinya.
"Jadi ini mengapa kau pergi dihari pernikahan ku? Kau merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahan ku dan Valerie bukan?" bentak Ken muak. Carl seketika mengangkat wajah, menggeleng kan kepalanya keras. Ia tidak pernah berpikir seperti itu, semua ini murni karena Earl. Carl pun tidak ingin Amber salah paham dan terpengaruh dengan asumsi Ken.
Amber menelan salivanya. Ia terdiam, apakah ini memang rencana Carl untuk menghancurkan pernikahan Ken? Namun dengan cepat Amber menepis pikiran itu, bukan masalah apapun itu rencana Carl, ia hanya membutuhkan biaya untuk Earl, tidak peduli ia hanya dijadikan alat balas dendam sekalipun. Amber menarik nafasnya dalam, rasa sesak itu ada didalam hatinya.
"Tidak kak. Aku benar-benar akan bertanggung jawab pada anak ku. Semua ini murni. Tidak ada rencana seperti yang kau pikirkan. A-aku minta maaf, aku tidak menyangka semuanya akan rumit seperti ini."
"Munafik!" decak Ken.
Agatha tidak kuat, semua ini terlalu menguras emosi dan air mata. "Ken, aku mohon tenanglah. Melihat pertengkaran orangtua kalian saja sudah membuat aku lemas," lirih Agatha.
"Tapi pernikahan ku dengan Valerie hancur karena dia!" bentak Ken sambil menarik kembali kerah Carl.
"Ken! Cukup!" bentak Amber. Ia tidak ingin ada perkelahian. Ia pun sedikit kesal dengan Carl yang tak ingin menahan Ken. "Aku minta maaf untuk semua kekacauan ini."
Mata Ken tampak menyala, ia memandang Amber dengan penuh kemuakan. "Dari dulu yang bisa kau ucapkan hanyalah maaf. Dan aku menyesal kenal dengan mu Amber, KAU. ADALAH. PENGACAU. DIHIDUP KU!" desis Ken.
***
Jangan lupa Vote ya buat penyemangat Authorš¤