
Mendengar kabar dari rumah sakit jika Earl baru saja menjalan operasi membuat Sean dengan cepat kembali ke Washington. Kini Sean menatap Amber dan Amanda bergantian. "Kalian tidak mengabari ku?" tanya Sean tak percaya.
Amanda yang sudah merasa kesal dengan sikap Sean pun hanya menghela nafasnya kasar. "Percayalah Sean, kau bahkan tak mengangkat satupun panggilang dari ku, bahkan Amber pun sudah berusaha meminta bantuan mu tapi kau sama sekali tidak bisa dihubungi," jawab Amanda.
"Tidak ada satupun panggilan bahkan pesan dari kalian," jawab Sean bingung, bahkan ia memperlihatkan riwayat panggilannya. "Justru aku yang kesulitan menghubungi kalian," lanjut Sean.
"Biar aku tebak ini adalah perbuatan Deliah. Mantan istri mu itu memang sedikit menyebalkan kepada kami," gerutu Amanda.
Amber dengan cepat menyenggol lengan Amanda untuk menghentikan ucapannya. "Sudah, lagi pula semuanya sudah teratasi, perusahaan memberikan ku pinjaman yang lumayan besar untuk operasi ini. Earl juga sudah membaik dan operasi berjalan dengan lancar," jawab Amber.
Sean pun terdiam sesaat, hubungannya dengan Amber sudah tidak sedekat dulu, bahkan beberapa kali juga Amber memanggilnya dengan embel-embel dokter, membuat Sean semakin merasa jauh dengan Amber. "Aku akan fokus merawat Earl mulai besok, ijinkan aku mendatangi Earl kapan pun aku mau," ujar Sean. Baru saja Amanda akan protes, Sean mengangkat tanganya. "Percayalan, ini semua demi kebaikan Earl, ia perlu pengawasan dan merawat seorang anak kecil setelah operasi di rumah tidak semudah itu Amanda. Amber, kau mengijinkan ku bukan?"
***
Carl mengerutkan keningnya, ini sudah ketiga kalinya ia melihat dokter masuk kedalam gang itu. Bahkan Carl sudah dapat menebak saat dokter itu pulang Amber selalu menemaninya sampai ujung gang.
Pikiran Carl berkecamuk, ada dua hal yang ia curigai. Ada orang sakit didalam sana, atau Amber menjadi simpanan dokter itu. Earl, nama itu melintas seketika, apa pria itu yang dimaksud? "Carl, jika kau memang menginginkan informasi lebih, temui saja dokter itu dan berikan uang yang cukup untuk menutup mulutnya." ujar Chris, teman yang merangkap menjadi asisten nya. Sudah beberapa hari ini mereka seakan menjadi detektif, hanya mengawasi dan menerima informasi dari luar. "Wanita itu adalah mantan dari kakak mu, sedangkan kakak mu sudah menikah. Untuk apa lagi kita menggali informasi tentangnya?"
Carl berdecak dan menatap Chris dengan wajah tidak suka, mood nya tidak stabil. "Bisa kah kau tutup saja mulut mu itu? aku membayar mu hanya untuk menemani ku, jangan banyak bicara."
"Aku hanya memberi mu saran. Turunkan sedikit ego mu dan bertanyalah. Beberapa hari lagi kau akan memulai peran film adaptasi novel, persiapkan diri mu, bukan menjadi penguntit seperti ini," gerutu Chris.
Tak sampai satu jam, dokter itu mulai keluar dari gang, Amber tersenyum sampai di ujung gang kecil, wanita itu tengah mengenakan pakaian kerjanya yang formal, rambut panjangnya di ikat kuda. Bahkan penampilan Amber begitu berbeda dengan tiga tahun lalu yang begitu update dengan fashion terbaru.
Setelah dirasa aman dan Amber sudah kembali masuk kedalam rumah yang tak jauh dari gang, Carl bersiap, memakai masker dan kacamata lengkap dengan topinya. Ia keluar dari dalam mobil, berlari kecil untuk menyebrang dan memanggil dokter itu untuk tidak masuk kedalam mobilnya. "Permisi, boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" tanya Carl langsung pada intinya. Dokter itu tersenyum lembut walau terlihat raut wajah kebingungan yang begitu ketara.
"Wanita yang bersama mu tadi, apakah dia sakit?" kini raut wajah dokter itu tampak menilai Carl, dengan ragu ia menatap Carl fokus.
"Maaf, aku menjaga setiap informasi pasien ku." Carl berdecak, ia benci orang seperti ini. Mempersulit semua yang ia inginkan.
"Sean!" teriak Amber dibelakang, membuat Carl langsun mematung, ia semakin mendorong topinya kebawah. "Kau meninggalkan paper bag ini."
"Tidak, Amber. Aku sengaja membelikan mainan untuk Earl, dia pasti menyukainya," jawab dokter itu dengan lembut. Carl membuang wajahnya, mencoba agar Amber tak mengenalinya.
"Oh, tidak perlu Sean. Kau sudah banyak membantu ku. Ambilah, jangan seperti ini," tolak Amber pelan.
"Aku menyayangi Earl, dia anak yang kuat. Jangan menolak pemberian ku, Amber." pria itu benar-benar lembut dan mampu mengambil hati para wanita, namun itu membuat Carl muak, ia berbalik dan hendak menyebrang, dan perkataan dokter menyebalkan itu membuat Carl geram. "Amber, apakah dia teman mu? dia menanyakan dirimu tadi."
'Sial' gerutu Carl, semuanya kacau,
Amber mengerutkan keningnya samar, ia menatap orang yang Sean maksud. Parfum ini, bentuh tubuh ini, Amber mengenalinya. "Carl?!" panggil Amber yakin. "Dia teman ku," ucap Amber cepat pada Sean.
Sean tersenyum tenang jika Amber mengenali orang itu, tidak ada hal yang harus dikhawatirkan jika Amber sudah mengenal pria ini. "Kalau begitu aku harus kembali kerumah sakit, jaga diri mu baik-baik," pesan Sean. Ia tersenyum dengan begitu lembut, beberapa hari ini hubungannya dengan Amber mulai membaik seperti awal mereka dekat, tidak membatasi diri untuk bertemu Earl juga Amber.
Amber mengangguk cepat, ia tersenyum lebar dan semua itu adalah senyum yang paksakan. "Ya, Sean. Terimakasih sekali lagi." Setelah mendengar suara mobil yang melaju, Carl rasanya ingin menggeram, Amber menghampiri nya. "Apa yang kau lakukan disini? Ba-bagaimana bisa kau menemukan ku?" tanya Amber syok.
Carl bergerak ragu, jalanan yang mulai ramai membuatnya sedikit panik dan takut, ia tidak bisa memastikan kamera dan orang-orang yang mengenalinya. Ia harus memastikan semuanya aman.
Seakan mengetahui, Amber menarik Carl kedalam gang, ia melepaskan kacamata Carl dengan sedikit kasar. "Kembali lah ke Los Angeles, Carl!"