
Amber turun dari mobil perlahan, matanya menatap rumah berwarna putih yang cukup indah, tak terlalu mewah dan sangat nyaman. Rumah ini berada cukup jauh dengan kota, melewati beberapa peternakan dan kebun yang begitu luas. Suara deburan ombak yang tak jauh dari sini sudah terdengar di telinga Amber. Benar-benar sebuah tempat yang cukup aman, tak akan ada yang mengenali Amber disini. Beberapa orang yang Amber temui tak ada satupun yang memegang ponsel, semuanya tampak ramah dan berbincang satu sama lain.
"Sinyal disini cukup sulit, aku harus mengabari rumah sakit terlebih dahulu, mulai lusa aku sudah bekerja di rumah sakit dekat sini," ujar Sean. Amanda menoleh kearah sekitar, ia menunjuk kearah barat.
"Coba kesana, aku mendapatkan sinyal cukup bagus disana," ucap Amanda kemudian. Sean menganggukkan kepalanya pelan, ia berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Amanda.
Setelah melihat kepergian Sean, Amanda berjalan mendekati Amber yang masih asik menatap bangunan rumah dengan halaman luas itu, Amanda membuka pagar kayu berwarna putih membuat fokus Amber beralih pada Amanda. "Kau menyukai suasana tenang bukan? Ayo masuk, aku sudah menyediakan tempat bermain yang menyenangkan untuk Earl," ucap Amanda. Ia menarik nafasnya panjang, melihat Amber yang sedari tadi tak banyak bicara cukup membuatnya tak tega, namun ini adalah jalan yang terbaik untuk Amber, ia harus menjauhkan Amber dari pria jahat yang sangat tak pantas mendapatkan cinta Amber kembali.
Semua ini adalah rencana Amanda awalnya, ia meminta Amber untuk menerima tawaran Carl sampai Earl sembuh, Amanda mengira cinta itu sudah mati, namun semuanya salah, bagaimana bisa Amber kembali menaruh hati pada pria yang salah? "Apa aku harus mengganti nama panggilan ku sesuai nama samaran ini?" Tanya Amber pelan. Amanda menoleh seketika dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja Amber, dan jika kau mengijinkan, aku ingin mewarnai rambut mu. Maksud ku, kita harus benar-benar mengganti penampilan kita, Carl seorang aktor dan tentu saja memiliki penggemar dimana-mana, aku takut Carl mencari mu di sosial media dan—"
"Baiklah, aku akan mengikuti saran mu Amanda. Aku sudah melangkah terlalu jauh, semoga saja aku bisa melupakannya," ucap Amber pelan. "Jasmine," lanjut Amber, mengucapkan nama samaran Amanda.
Amanda tersenyum kecil, ia mengusap bahu Amber pelan. "Ya, Monica," jawab Amanda pelan. Ia menatap Earl yang kini sudah terbangun. "Dan si kecil Sebastian," lanjut Amanda. Nama Earl memanglah Sebastian Earl, mereka hanya harus membiasakan diri memanggilnya Sebastian, alih-alih Earl yang sudah dikenal banyak orang.
"Sebastian pasti sangat menyukai maninannya, lihat lah ekspresinya," kekeh Amanda. Amber tersenyum kecil menatap Earl yang tampak ingin turun dan menyentuh mainan barunya. Amber menarik nafasnya pelan, ia belum terbiasa dan sangat aneh saat mendengar Amanda mengatakan Sebastian.
Suara pintu rumah yang terbuka membuat keduanya menoleh kearah belakang, "Biar aku yang menemui Sean, kau temani Sebastian disini," ucap Amanda. Amber hanya menganggukkan kepalanya, ia mulai menurunkan Earl dan menjaga Earl di setiap langkahnya yang masih pelan
"Dad," gumaman pelan Earl membuat kening Amber mengerutkan keningnya, pandangan Earl tertuju pada sebuah robot yang sama percis pernah diberikan Carl untuk Earl.
"Kau merindukannya sayang?" Tanya Amber pelan, ia berlutut dan memberikan robot tersebut pada Earl.
Suara televisi yang dinyalakan mulai terdengar, Amber fokus pada Earl yang mulai membuka sebuah bola kecil berwarna warni dalam sebuah jaring tipis, Amber berdiri mencari gunting untuk membuka bola-bola tersebut, Amber membuka beberapa laci yang ada disana, ia tersenyum melihat benda yang ia cari ada disana. Ketika ia berhasil mengambil gunting tersebut, tiba-tiba tubuh Amber membeku, telinganya berhasil menangkap sebuah berita di televisi. "—Seorang aktor muda, Carl Alvaron, dikabarkan mengalami kecelakaan di Washington pukul 1 siang tadi, bisa kita lihat sebuah mobil hitam begitu rusak parah akibat kecelakaan ini—"
Gunting yang ada di genggaman Amber terjatuh, tubuhnya seakan lemas seketika, tanpa memikirkan hal lainnya Amber berlari keluar kamar dan meninggalkan Earl seorang diri, ia berlari kearah ruang tamu dengan wajah panik. "Carl!" Teriak Amber kencang, disana Amanda dan Sean menatap Amber dengan wajah syok, mereka pun tampaknya baru mendengar kabar berita tersebut, Amber menatap tampilan gambar yang masih menyorot keadaan mobil yang rusak parah di pinggil jalan.