
[Sesuai peringatan di atas, isi bab ini mengandung adegan sensitif dan author harap perhatikan umur masing-masing sebelum membaca.]
~
Carl menuangkan sebuah wine pada dua gelas di atas meja, ia sedikit terkekeh mengingat pemandangan ini. "Gara-gara wine ini bukan, kita membuat Earl?" Tanya Carl dengan begitu santai dan tertawa kecil.
"Astaga Carl apa yang kau katakan!" Pekik Amber, ia menggelengkan kepalanya keras. "Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi, kembali ke masa lalu sama halnya membuka luka ku kembali," protes Amber.
Carl yang hanya berniat bercanda menjadi terdiam, ia pun menjadi ingat akan kesalahannya dulu. "Sebenarnya masih ada hal yang ingin ku pertanyakan saat itu, mengapa aku bisa menjadi yang pertama bagi mu? Mengapa kau menyerahkannya pada ku? Dan mengapa kau masih mau memaafkan ku?" tanya Carl pelan, ia menyesap wine lalu menatap Amber dengan fokus.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu, namun untuk pertanyaan terakhir–" Amber menelan salivanya keras. "Maaf jika ini terdengar egois, aku hanya lelah memikirkan kesehatan Earl yang tak kunjung membaik, bahkan kau tahu sendiri untuk biaya operasi Earl aku rela menjual diriku sendiri, aku berpikir hanya kau yang bisa membantu ku menyembuhkan Earl. Dan sekarang aku baru menyadari, kau sudah banyak berubah," jawab Amber. Bisa dikatakan Amber sudah gila, ia hampir menceritakan seluruh rencananya dengan Amanda. Entah mengapa Amber ingin menceritakan semuanya, ingin mengatakan semua ini akan berakhir sebentar lagi, ingin mengatakan dengan tegas pada Carl jika Amber sedang berada di posisi bingung.
Amber sudah lelah dengan perdebatan hatinya, ia butuh seseorang untuk berdiskusi. Namun Carl hanya tersenyum lembut, yang mengeluarkan tangannya sambil mengusap pelan punggung tangan Amber. "Itu tidak egois sayang, aku mengerti kamu masih ragu, tapi sekarang aku benar-benar berjanji akan bertanggung jawab penuh pada mu, aku sangat menyayangi mu dan juga Earl. Kalian bagian terpenting dalam hidup ku sekarang. Bahkan kau tahu? Aku sudah menerima jika kau hanya memanfaatkan aku untuk pengobatan Earl saat itu, aku tidak perduli dan aku bahagia bisa di berikan kesempatan untuk bertanggung jawab pada Earl."
Amber menggigit pelan bibir bawahnya, perkataan Carl seakan menampar nya, ia memang hanya memanfaatkan Carl. "Carl, tapi aku-"
"Sttt, tidak ada yang perlu kita jelaskan lagi karena aku sudah sangat senang saat kau mengatakan mencintai ku," ucap Carl pelan, sebelah tangannya terulur mengentuh ujung kepala Amber, mengusap helaian rambut panjang itu. "Sekarang adalah waktunya kita bersenang-senang, aku harap kita akan selalu mencintai dan bersama hingga akhir hayat."
Amber memejamkan matanya saat wajah Carl mendekat, merasakan kehangatan yang di ciptakan Carl. Lidah Carl mulai melesak masuk dan ragu Amber mulai membalasnya.
Cukup lama mereka saling memberikan percikan kecil dalam diri mereka. Amber membuka matanya, ia melampiaskan semua kegelisahannya dan mencium Carl dengan bersemangat, membuat Carl yang merindukan kehangatan Amber membalas dengan hal yang sama.
Carl membungkuk dan menaruh kedua tangannya di pinggang Amber, mengintruksikan wanita itu agar mengaitkan kedua kakinya pada pinggang Carl. "I love you," bisik Carl di sela helaan nafas yang berhasil ia hirup.
Carl berdiri dan membawa Amber menuju tempat tidur, menurunkan Amber dengan sangat hati-hati dan mulai melepaskan pakaian yang di kenakan Amber. Carl mendaratkan mulutnya pada bahu Amber yang terbuka, bermain kecil dan menghirup parfum yang Amber gunakan. "Carl," lirih Amber pelan dengan nafas yang memburu.
Lagi-lagi Carl mendarat di bibir Amber, ia menyukai bagian paling manis itu. Amber kini membebaskan dirinya, membiarkan dirinya merasakan sensasi yang tak ia rasakan bertahun-tahun lamanya. Lupakan saat malam lelang itu, Amber tak menikmatinya sama sekali, pikirannya saat itu hanyalah untuk Earl dan kini Amber merindukan Carl yang berhasil mengambil hatinya kembali.
Amber menelan salivanya keras, ia menatap Carl yang mulai melepaskan semua pekaian yang ada di tubuhnya, kembali berada di atas Amber dan sentuhan kulit terasa lebih seperti sengatan aliran listrik. Keduanya sudah membendung terlalu lama. Carl kembali menyerang bibir Amber. "Carl," ucap Amber parau saat ia menyadari Carl mulai menyatukan tubuh mereka, Amber mengeratkan jemarinya pada bahu Carl saat ia mulai bergerak, diawali dengan irama yang pelan dan semakin lama menambah ritme kecepatannya.
"Amber," bisik Carl dengan deru nafas yang semakin memburu, ia sudah tidak bisa menahannya lagi dan melihat Amber yang sudah mencampai puncak membuat Carl dengan dorongan tinggi menggeluarkan semuanya didalam Amber.
~
Keesokan harinya, Carl terbangun dengan rasa risih yang cukup membuatnya kesal, cahaya matahari begitu menyilaukan matanya. "Ayo bangun Carl, satu jam lagi keberangkatan kita ke London bukan?" suara Amber membuat mata Carl terbuka dengan cepat, senyumnya muncul begitu saja.
"Selamat pagi sayang, kemari lah aku ingin memeluk mu," gumam Carl sambil terkekeh.
Dengan cepat Amber menggelengkan kepalanya, ia menghampiri Carl dan membangunkan tubuh Carl dengan paksa. "Cepat mandi, aku sudah menyiapkan pakaian mu, jangan sampai kita ketinggalan pesawat Carl."
"Tidak sayang, kali ini kita menggunakan jet pribadi ku, jadi kita masih memiliki banyak waktu. Aku masih merindukan mu," ucap Carl, ia hampir saja mendekatkan wajahnya pada Amber namun dengan cepat Amber menahannya.
"Hentikan Carl, disini ada Earl, jangan memberikannya contoh tidak baik!" pekik Amber membuat tawa Carl pecah, ia pun dengan semangat bangun dari tidurnya dan menghampiri Earl yang tengah asik memainkan sebuah robot di atas tikar berbulu tebal itu.
"Hai jagoan ku, aku ingin menjadi super hero untuk ibu mu saat besar nanti?" tanya Carl sambil mengangkat tubuh Earl tinggi. Earl tertawa renyah saat Carl menyajaknya berbicara dengan bahasa bayi. Sungguh pemandangan indah bagi Amber. "Oh ya sayang, di London aku sudah menyiapkan pengasuh untuk Earl, kita akan mendatangi beberapa acara disana nanti," jelas Carl.
Amber hanya mengangguk pelan, ia mengambil alih Earl dan menyuruh Carl untuk bersiap denga cepat. Semalam Amber tak dapat tidur dengan tenang, suara tangisan Earl membuat Amber harus sigap menenangkan anak kecil menggemaskan itu. Tak lupa juga Amber langsung meminum pill pencegah kehamilan yang di berikan Amanda sebelum ia pergi bersama Carl. Amber hanya ingin mencegah sesuatu hal yang belum siap ia terima, dan menambah seorang anak bukan dari bagian rencananya. Bagi Amber Earl saja sudah cukup menjadi penerangnya. "Apa kau senang disini sayang?" tanya Amber pada Earl yang tengah asik memainkan rambut Amber. "Kau senang bersama ayah mu?" tanya Amber lagi yang kini di jawab tawa kecil oleh Earl. Amber tertawa dan mencubit pelan hidung Earl dengan gemas. "Kau mengerti apa yang aku ucapkan sayang?" kekeh Amber pelan.