
Acara pernikahan itu pun selesai, kini Ben, Lily dan Sabrina pulang menuju kediaman Alvaron untuk makan malam bersama dan sedikit berbincang mengenai kabar. Sedangkan Carl dan Amber langsung menuju Apartemen Carl, dan si kecil Earl kembali di bawa ke rumah sakit untuk di berikan perawatan kembali.
Amber baru keluar dari kamar mandi, hanya berdua dengan Carl membuat Amber menjadi gugup seketika, ia tidak nyaman dan ingin pergi sekarang juga. “Aku sudah menyiapkan makan malam untuk mu, walaupun kita mengundang hanya orang dekat rupa sedikit melelahkan,” kekeh Carl lembut, “Aku mandi dulu,” lanjut Carl sambil mendekatkan dirinya, ia mencium kening Amber dengan begitu tulus.
“Jika kau merasa ada yang kurang dengan masakannya, kau bisa menambahkan bumbunya di dapur,” ucap Carl.
Amber mengerutkan keningnya dalam, menatap Carl dengan bingung. “Kau memasaknya sendiri?” tanya Amber.
“Tentu saja, aku sering di undang dalam acara memasak dan semenjak itu aku rasa memasak adalah hal yang mudah,” kekeh Carl memuat suasana menghangat. Amber pun tak ingin memperpanjang perbincangan mereka, ia mengangguk dan masuk kedalam kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya dengan sebuah baju tidur malam yang entah mengapa semua isi lemarinya benda tipis itu. Amber memejamkan matanya pelan, ia menarik napasnya dalam dan mengambil baju yang paling mendekati kata sopan, tidak terlalu terbuka dan memiliki jubah luaran.
Setelah di rasa cukup pas dengan tubuhnya, Amber berjalan menuju meja makan yang di maksud, ia melihat ada 2 buah lauk di atas piring, keduanya cukup menggoda perutnya, harum makanan tercium dengan lezat. Amber pun mengambil sebuah piring dan menyicipinya. “Tunggu aku sebentar,” teriak Carl dari belakang, disana Amber melihat Carl hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggang. “Sepertinya aku ingin makan malam bersama,” kekeh Carl dengan menunjukkan deretan gigi yang rapi. Rasa nya Carl tak merasa canggung sama sekali, ia lebih kearah bahagia dan santai.
“Tidak, sudah pas, kau pandai memasak,” jawab Amber dengan cepat, mereka pun makan malam dalam hening, Carl lagi-lagi yang harus membuat topik pembicaraan mereka agar lebih hidup. Setelah selesai makan, mereka pun masuk kedalam kamar, Amber masuk kedalam selimut dan tidur membelakangi Carl. Dengan erat Amber menggenggam ujung selimutnya, ia tidak ingin kembali melakukan hal itu dengan Carl, ia harus mencari alasan yang tepat.
Jantung Amber lagi-lagi berdebar saat tangan Carl melingkar dari belakang menuju perutnya, tubuh Carl begitu sangat dekat dan memeluknya erat, bahkan Amber bisa merasakan napas Carl berhembus di rambutnya. “Carl,” desis Amber pelan.
Pelukan Carl semakin erat saat mendengar suara Amber. “Tidurlah, aku tahu kau lelah, aku hanya ingin memeluk mu seperti ini,” bisik Carl. Amber terdiam, entah mengapa ia nyaman, nada suara Carl begitu tulus dan Amber merasa yakin jika Carl sudah berubah. “Aku mencintai mu,” bisik Carl sangat pelan namun Amber masih bisa mendengarnya, mata Amber berkaca, ia menginginkan ini sedari dulu, ada seseorang yang membuatnya tenang, namun mengapa semuanya seakan terlambat? Amber sudah menutup pintu hatinya, ia tidak boleh mencintai Carl kembali, hati Carl terlalu labil bagi Amber, malam itu pun seperti ini bukan? Carl membuatnya luluh dan saat wanita yang ia cintai kembali Carl tanpa rasa kasihan meninggalkannya.
Dengan perlahan Amber memejamkan matanya, ia butuh mengistirahatkan pikiran dan juga tubuhnya, Amber sudah di takdirkan tak pernah bahagia, ia tidak berhak membayangkan hal-hal tulus dari seseorang. Untuk saat ini Amanda yang masih menjadi pemenang di hidupnya, ia mencintai Earl dan juga Amanda, tidak ada seseorang lagi yang dapat ia cintai sekarang. Sean pun baik, hanya saja ia tidak ingin mengusik urusan cinta seseorang dan mendapatkan teror, setidaknya ia harus hidup tenang jika hal bahagia tak bisa ia dapatkan.