
Hari ini adalah hari terakhir syuting di sini, Carl duduk di kursi santai nya, beberapa aktor lain pun melakukan hal yang sama dengan Carl, mereka beristirahat dan memulihkan konsentrasi.
Namun Carl bukan untuk memulihkan konsentrasi, ia kini sedang berpikir keras, keningnya berkerut samar menatap notifikasi yang baru ia buka dari email. "Untuk apa Amber melakukan transfer berkali-kali pada rekening ini?" Gumam Carl.
Jujur saja Carl cukup terkejut dengan mutasi satu bulan kartu milik Amber. Dalam satu minggu Amber selalu mengirimkan $7000 pada rekening atas nama Amanda, dan dalam catatan ini Amber sudah melakukan empat kali transaksi.
Carl menarik nafasnya dalam, bukan masalah nominalnya bagi Carl, namun ada sedikit kecurigaan mengapa Amber tak pernah membicarakan tentang hal ini. Tak ada satupun transaksi yang menuliskan jika Amber berbelanja, Amber benar-benar cara menggunakan kartu untuk keperluan pribadinya seperti berbelanja tas, make up, atau keperluan Earl lainnya, hanya ada 4 transaksi transfer ini.
Dengan cepat Carl menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menaruh curiga pada istrinya sendiri, yang Carl takut kan hanyalah jika Amber memiliki masalah keuangan bersama orang lain. Seharusnya Amber mengatakan semua ini pada Carl agar mereka bisa menyelesaikan ini bersama-sama.
"Carl! Ayo kita selesaikan syuting ini, agar tidak ada kendala untuk kepergian kita besok. London we are coming!" Kayaknya dengan begitu bersemangat, terlihat jelas jika pria itu sangat menggebu-gebu.
Carl pun memberikan ponselnya pada asisten, ia pun mulai bersiap dan sedikit tidak fokus, Carl membaca ulang naskah dan dan dialog miliknya sekilas. "Ya, aku datang!" Teriak Carl.
~
Amber merapikan kembali bekas mainan yang dikeluarkan Earl, dirinya benar-benar tenang, ia tersenyum ke arah Earl yang sudah tertidur di atas ranjang kecilnya. Kini Amber merasa benar-benar seperti seorang ibu rumah tangga, ia hanya fokus mengurus Earl dan tidak memikirkan lagi masalah pekerjaan juga keuangan yang rumit.
Suara pintu terbuka membuat Amber dengan cepat bangkit dari duduknya, ia keluar dari kamar Earl dan menyambut kedatangan Carl dengan lembut. "Kau ingin langsung makan, atau mandi terlebih dahulu?" Tanya Amber.
"Sepertinya aku ingin mandi sayang, selesai aku mandi, bisa kita berbicara sebentar?" Tanya Carl dengan begitu hati-hati lengkap dengan senyuman kaku. Amber mengerutkan keningnya samar, namun ia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menyiapkan baju untuk mu dulu," jawab Amber.
Mereka pun masuk ke dalam kamar, Carl menuju kamar mandi, sedangkan Amber menyiapkan pakaian untuk Carl. Beberapa pertanyaan mulai muncul di pikiran Amber, entah mengapa perasaan nya menjadi tak enak.
Pintu kamar mandi pun terbuka, Carl hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang. Ia itu sudah terlihat segar kembali, dan Amber tidak bisa berbohong jika Carl terlihat begitu tampan. "Ini pakaian untuk mu," ucap Amber seraya memberikan pakaian yang sudah ia pilih.
"Terima kasih sayang." Carl menerima pakaian tersebut dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Amber pun duduk di tepi ranjang, ia menunggu Carl keluar dari dalam kamar mandi. Tak berapa lama, Carl pun keluar dan duduk di sebelah Amber. "Kau ingin membicarakan apa?" tanya Amber gugup.
Carl tersenyum lembut. "Jangan salah paham dengan pertanyaan ku sayang, aku hanya ingin tahu, dan aku harap kau menjawabnya dengan jujur, jangan ada yang ditutupi," ucap Carl. Ia mengusap pelan telapak tangan Amber yang ia genggam.
"Mengapa kau tidak pernah membelanjakan kartu untuk keperluan mu sendiri? Aku melihat ada 4 transaksi kau mengirimkan uang pada rekening atas nama Amanda?"
Amber menelan salivanya keras, jantungnya berdebar tak menentu, apakah Carl mulai mencurigai nya? Apa yang harus Amber katakan?
"Umm— itu Amanda, kau ingat aku tinggal bersama Amanda di Washington?" Tanya Amber berusaha tenang, Carl menganggukkan kepalanya pelan. "Hutang ku pada Amanda sudah terlalu banyak, aku selalu bergantung hidup padanya selama di sana, dan maaf jika aku tidak sopan memakai uang mu untuk mencicil hutang-hutang ku." Amber menggigit pelan bibir bawahnya. "Seharusnya aku mengatakan nya dulu pada mu," ucap Amber.
Carl yang mendengar itu pun terkekeh pelan. "Astaga sayang, aku pikir ada apa. Baiklah aku akan melunasi bertemu pada Amanda sekarang juga, berapa jumlah yang pernah kau pinjam?" Tanya Carl.
Dengan cepat Amber menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Carl, 2 tahun lebih aku tergantung hidup dengannya, jumlahnya tidak sedikit," protes Amber.
Lagi-lagi Carl hanya tersenyum, "Tidak apa-apa Amber. Apa $200.000 cukup? Aku akan mengirimkannya hadiah juga atas rasa berterima kasih ku telah menemani mu selama aku tak ada disisi mu." Kata-kata itu meluncur dengan sangat lancar dari mulut Carl, uang sebanyak itu seakan bukan masalah bagi Carl.
"Tidak Carl, itu jumlah yang sangat besar, aku tidak berhutang sebanyak itu," jawab Amber cepat. "Lebih baik aku membicarakannya nanti dengan Amanda, agar jumlah sisa hutang ku bisa terhitung," jawab Amber gugup. Ia semakin merasa bersalah sekarang, bukan ini yang ia inginkan, kini Amber merasa sebagai penipu, hatinya menjerit, sepertinya ia sudah gila.
"Apa saja bagaimana baiknya, yang jelas berikan Amanda uang lebih dan juga hadiah sayang. Sekarang aku sudah lega dan tak memikirkan apapun lagi. Dimana Earl? Aku merindukannya," ucap Carl dengan semangat.
"Dia baru saja tertidur," jawab Amber.
Seketika raut wajah Carl pun menjadi bersemangat, ia menatap Amber dengan penuh maksud. "Apa ini artinya Earl memberikan waktu untuk kita berdua?" Goda Carl.
"Waktu apa!" Pekik Amber dengan semu merah yang mulai terlihat di pipi.
"Ayolah sayang, kau sudah berjanji jika Earl sudah pulang," ucap Carl tak ingin kalah. Atau lebih tepatnya merajuk.
"Aku tidak pernah berjanji Carl!" Protes Amber.
"Baiklah, agar kita tidak canggung, aku akan memesan wine untuk kita berdua," bisik Carl. Dan benar saja Carl mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk membawakan sebuah wine terbaik.
"Bagaimana jika Earl bangun?" tanya Amber mulai panik, ia begitu berdebar namun layaknya seorang remaja yang tengah jatuh cinta. Kadang Amber berpikir, kemana rasa benci yang dulu ia tanamkan untuk Carl?