The Story Of Amber

The Story Of Amber
Masih Mencintai



Jemari Amber bergerak pelan, matanya menatap langit-langit kamar, suara jam terdengar bersahutan dengan suara ombak yang tenang. Dengan perlahan Amber bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkon, angin malam terasa begitu dingin dan berhembus dengan kasar. "Huft." Helaan nafas Amber tertelan oleh suara pantai yang lebih berisik, ia mengeluarkan kartu nama Carl, sebuah nomor yang menentukan pertemuannya kembali.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Amber pelan, ia tak berani sama sekali untuk menghubungi Carl, rasa takut melingkupinya saat mengingat jika Amanda akan menentang keras hubungannya kembali dengan Carl. Namun Amber tak bisa menahan perasaannya sendiri, rasa itu tak pernah hilang, ia masih mencintai Carl. Bahkan rasanya seperti mimpi saat Carl tak semarah yang ia kira, pria itu masih Carl yang dulu, ucapan Carl seakan memberikan kesempatan untuk Amber kembali.


Amber menggelengkan kepalanya, "Jangan banyak berfikir Amber, kau hanya perlu menyapanya," gumam Amber, ia kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan pelan. Amber duduk di samping ranjang, tangannya terulur mengambil ponsel dan mulai menyalin nomor yang tertera di kertas. [Hai Carl, ini aku. Amber.]


Dengan cepat Amber kembali menyimpan ponselnya, ia berbaring dan menarik nafasnya dalam. Lebih baik ia tidur dan melihat jawaban Carl besok pagi. Namun baru saja Amber akan memejamkan matanya, sebuah pesan masuk berbunyi. Amber pun meraih ponselnya dan perasaannya menjadi tak menentu. [Hai Amber.]


[Boleh aku menelfon mu?]


Amber terdiam sesaat, ia melirik kearah pintu dan bangun dari tidurnya, lagi-lagi Amber keluar dari kamarnya dan diam di balkon yang ditemani angin malam, tanpa membalas pesan tersebut, Amber menelfon Carl terlebih dahulu. Kata-kata yang masih Amber ingat tadi siang adalah saat Carl mengatakan tentang kebahagiaannya, Amber ingin memilih kebahagiaannya sendiri, ia butuh kebebasan atas dirinya. "Hai," sapaan Carl membuat Amber tersadar.


"Hai, maaf mengganggu malam mu, aku fikir kau sudah tidur," ucap Amber gugup.


"Tidak, aku selalu sulit tidur, aku fikir kau tidak akan menghubungi ku," jawab Carl. Hening mulai tercipta beberapa detik, jujur saja Amber sendiri bingung harus bertanya apa lagi.


"Aku sebenarnya ingin menjelaskan semuanya, tapi aku—"


"Aku rasa tak perlu ada yang dijelaskan Amber, ini semua kesalahan ku pada awalnya, dan kau hanya membalasnya."


"Aku tidak bermaksud membalasnya Carl," lirih Amber.


Amber menarik nafasnya lama, ia menganggukkan kepalanya walau tahu Carl tak akan pernah melihatnya. "Ya, aku tinggal di dekat pantai, sangat membantu ku untuk menenangkan pikiran," kekeh Amber pelan.


"Benarkah? Boleh aku bermain disana bersama Earl? Atau jika kau mengijinkan ku." Amber tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa, rasanya masih seperti mimpi dan apa itu artinya mereka akan bertemu kembali? "Aku ingin menghabiskan waktu liburan ku dengan penuh kenangan," lanjut Carl.


"Kapan liburan mu berakhir?" Tanya Amber dengan cepat.


"Aku hanya satu minggu disini, 2 hari sebelum aku pulang aku akan mengabiskan waktu bersama 2 keluarga Ken."


Beberapa detik mungkin terdengar begitu hening, namun jawaban yang di ucapkan Amber cukup membuat malam mereka begitu menyenangkan. "Baiklah, besok kau boleh kemari setelah Amanda pergi ke Restoran, aku harus mengajar 2 jam dan kau bisa bermain bersama Earl. Aku akan langsung mengirimkan lakosi di pesan."


"Baiklah, aku akan bersiap dan membawa banyak mainan besok," jawab Carl antusias.


"Umm- tapi kau harus berjanji untuk tidak menculik Earl, aku hanya memberi ijin untuk bermain selama aku mengajar," ucap Amber pelan.


"Ya, aku berjanji, jika pun aku berniat menculik, aku akan menculik kalian berdua," kekeh Carl. "Tidurlah, ini sudah sangat malam, terima kasih sudah menghubungi ku terlebih dahulu," lanjut Carl.


"Ya, selamat malam Carl," ucap Amber pelan. Ia mematikan ponselnya terlebih dahulu, tanpa sadar Amber tersenyum, ia memeluk ponselnya dengan erat dan kembali masuk kedalam kamar. "Ah ya, lokasi," gumam Amber, ia pun mengirimkan lokasi rumah Amber melalui pesan.


~