The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 34



Kabar kelahiran Valerie sudah terdengar, kini Amber dan Carl sudah berada di rumah sakit. Keluarga Valerie dan Ken sudah berkumpul dengan raut wajah ceria. Carl menaruh keranjang buahnya di sebuah meja dekat jendela lalu duduk di samping Amber. "Sekarang Earl memiliki teman kecil," bisik Carl.


Amber tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Lihat, sangat menggemaskan," ucap Amber sambil menunjuk kearah bayi mungil yang tengah menggerakkan kepalanya kaku seakan mencari ASI.


Carl mengalihkan pandangannya pada bayi mungil itu, senyumnya mengembang. Carl menggapai tangan Amber sambil berdiri, mereka berjalan kearah ranjang dan melihat jelas makhluk mungil tersebut. "Siapa nama anak tampan ini?" tanya Carl.


"Gerald Franz Alvaron," jawab Kenrich dengan bangganya. Amber tersenyum kearah Valerie yang tak melepaskan pandangannya dari Gerald, memeluk bayi itu dengan begitu berperasaan.


Jessy berjalan kearah mereka, menyentuh pelan tangan mungil yang tengah mengepal erat. Tak lama, Alicia datang sambil membawa Earl di gendongannya. "Lihat, kau memiliki teman sayang," ucap Alicia pada Earl.


"Sepertinya aku baru bertemu kembali dengan mu Earl, kau bertambah tampan saja," ucap Jessy sambil menyentuh hidung Earl pelan, membuat Earl tertawa renyah mendapatkan perlakuan manis tersebut dan Earl tiba-tiba saja menyembunyikan wajahnya di bahu Alicia.


Alicia tertawa melihat tingkah lucu Earl, ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kembali. "Waktu cepat sekali berlalu, aku tidak menyangka ada dua cucu dihadapan ku," komentar Alicia sambil tersenyum lembut. Richard dan Justin tampaknya sudah kembali dari ruangan rekan mereka yang sakit dirumah sakit ini pula.


"Hai kedua kakek menyebalkan, aku Gerald." Jessy bersuara tampak seperti anak kecil membuat Justin menghampiri bayi mungil itu, sedangkan Richard langsung mengambil alih Earl.


"Astaga tampan sekali cucu ku ini, kau akan tumbuh tampan dan gagah seperti kakek Justin mu ini sayang," ucapan Justin membuatnya seketika tertawa, hanya Richard yang tidak.


"Aku lebih tampan dari mu, lebih baik Gerald tumbuh seperti aku, lihat Earl, produk ku memang tidak pernah gagal, ia sangat mirip dengan Carl dan kini Gerald akan mirip dengan Ken," tolak Richard dengan tenang, mencium pipi Earl dan hendak mencium Gerald namun Justin mendorongnya dengan cepat.


Justin tersenyum senang saat Richard tidak bisa mencium Gerald, pria itu terlalu sombong saat menjadi kakek. "Lihat baik-baik anak ku Valerie, produk ku pun tidak gagal," balasnya sombong.


"Dad," gumam Ken dan Valerie bersamaan. Mereka tidak mengerti bagaimana bisa dalam suasana bahagia seperti ini mereka malah saling menyombongkan keturunan dengan kata produk?


"Astaga, kapan mereka akan berhenti bertengkar?" gumam Carl.


"Manis seperti aku?" goda Carl sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Tidak, kau tidak manis, kau tampan," goda Amber balik membuat senyum di wajah Carl semakin mengembang.


Sedangkan Alex, Agatha, Anna dan Jeremy pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak menantu mereka yang tidak pernah akur, mereka tampak seperti bersaing namun tetap bersahabat sedari dulu. Benar-benar hari yang bahagia dan semuanya pun bahagia.


Semuanya? mungkin tidak bagi Amber, karena tak lama kemudian ia mendapatkan pesan masuk dari Amanda, sebuah pesan yang tak bisa Amber abaikan begitu saja, membuat harinya semakin gelisah. [Aku memberi mu waktu 1 minggu lagi Amber, pikirkan baik-baik kau akan memilih siapa. Jangan sampai kau menyesal telah memilih pria tidak bertanggung jawab itu.]


Amber hanya bisa menghela nafasnya pelan, memasukkan ponselnya kembali dan berpura-pura ceria kembali seperti yang lainnya.


-


Hari-hari Amber semakin tak tenang, kali ini Amanda mengirim pesan jika besok ia akan menjemput Amber dan tak memberikan kesempatan lebih lama lagi disini, jemari Amber mengepal pelan saat melihat Carl yang tengah memeluk Earl di samping jendela, menunjuk pemandangan malam yang indah pada Earl.


"Sayang, ada apa? Kau sepertinya memikirkan banyak hal akhir-akhir ini," ucap Carl pelan, Amber hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan pada Carl yang kini berjalan kearahnya, duduk di samping Amber dan menatap Amber dengan sedikit panik.


Amber tersenyum kecil, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Bisakah malam ini kita tidur bersama?" Tanya Amber. Carl sedikit mengerutkan keningnya dalam, lalu menganggukkan kepalanya pelan.


"Tentu saja. Kau ingin bercerita sesuatu?" Tanya Carl pelan. "Aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja? Oh apa kau sakit?" Tanya Carl mulai panik.


"Tidak sayang, aku hanya ingin kita bersama malam ini, bukankah kita belum pernah tidur bersama?"