
***
Untuk pertama kalinya, Amber melihat ruangan Earl dipenuhi oleh keluarga Carl. Mereka tampaknya sudah mulai menerima Amber dan Earl dalam keluarga mereka. Sedikit rasa canggung saat Ken masuk bersama Valerie, entah mengapa ia banyak melirik Carl dan ingin mengetahui apakah Carl masih mencuri pandang pada wanita yang pernah ia cintai itu. "Bagaimana Dok perkembangan Earl sekarang?" tanya Carl dengan begitu Antusias.
Amber menarik napasnya dalam, sedari tadi ia tak menemukan Carl melirik Valerie, Carl hanya menyambutnya pelan dan mulai fokus berbicara dengan Earl, menghibur Earl yang kini dengan duduk dengan selang bening di tanganya. Carl seakan benar-benar tulus dan Amber menjadi bingung dengan apa yang harus ia ambil. Di satu sisi ia ingin bersikap waspada dan tidak mengindahkan pernikahan ini, namun disisi lain ia ingin menikmati beberapa waktu sebelum pernikahan ini berakhir.
Amber menolehkan kepalanya pada Earl yang dengan tertawa dengan wajah pucatnya, Amber berharap semua rasa sakit yang Earl rasakan hilang begitu saja agar Earl bisa ceria dengan bebas. “Kau merindukan ku?” tanya Amber yang kini sudah berdiri di dekat Carl, ia mengulurkan tangannya pada Earl yang tampak senang.
“Perkembangan Earl cukup baik, mungkin beberapa bulan lagi Earl sudah bisa di bawa pulang tanpa infus lagi. Kalian hanya perlu beberapa kali datang untuk pemeriksaan. Operasi yang sebelumnya dilakukan cukup membuahkan hasil yang besar, hanya saja waktu pemulihan memang cukup lama untuk bayi usia 2 tahun.” Dokter itu mengalihkan perhatiannya dan menatap Amber sambil tersenyum, “Dia akan yang kuat,” lanjutnya.
Carl cukup puas dengan apa yang di ucapkan Dokter, ia sudah bisa mengajak Amber dan Earl berjalan-jalan mengikutinya syuting. Setelah Earl sembuh, ia akan mempublikasikan Earl pada media, ia sebenarnya tidak mengerti dengan alasan Amber yang harus menyembunyikan pernikahan juga anaknya sendiri, bagi Carl ia tidak akan malu mengakui ini semua, mungkin dulu memang iya namun kini ia membuang jauh-jauh pemikiran itu. Setelah berbincang kecil dengan Dokter, Dokter itu pun berpamit pergi, Carl mulai berfokus kembali pada Earl. “Hai sayang, kau sangat mirip dengan ku,” kekeh Carl.
“Ya sayang, hampir semua milik mu tercetak di wajah Earl,” kekeh Alicia. Amber yang mendengar itu mengangguk setuju. Entah dari mana Amber mendengar jika kita disakiti oleh ayah kandung dari bayi, sang bayi justru begitu mirip dengan ayahnya ketika lahir nanti.
“Tidak, Earl akan tampan saat dewasa nanti, tidak akan seperti Carl,” komentar Ken dengan nada menyindir, namun senyum usil membingkai di wajahnya. Bisa dibilang ini adalah canda pertama Ken untuk Carl setelah insiden baku hantan minggu lalu, makan malam yang berakhir dengan begitu kacau.
“Tidak kak, aku harap kau tidak iri dengan ketampanan ku saat ini,” jawab Carl sambil terkekeh membuat semuanya ikut tertawa kecil. Ken dan Valerie pun berdiri dari duduknya, mereka membawa satu hadiah kecil yang di simpan di meja dan menghampiri Earl.
Amber menatap wajah Valerie sekilas, memang cantik dan lembut, tak heran dua pria ini tergila-gila padanya. “Hai, aku tante mu,” ucap Valerie meniru suara anak kecil. Wajahnya benar-benar ceria dan ramah.
“Doakan aku ya, semoga saja aku cepat hamil dan Earl memiliki adik kecil untuk bermain,” jawab Valerie sambil mengusap bahu Amber. “Aku ingin menggendongnya boleh?” tanya Valerie meminta ijin. Amber dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Tentu saja, dia pasti senang,” jawab Amber. Ia membantu Valerie yang tampaknya baru menggendok seorang anak kecil.
“Apa kalian berencana menambah anak?” tanya Ken.
Jawaban Amber dan Carl sangat berbeda, disaat Carl menganggukkan kepalanya dengan semangat, justru Amber menggelengkan kepalanya dengan keras. “Untuk saat ini aku fokus terlebih dahulu pada Earl, mungkin jika Earl sudah sehat kita akan merencanakannya,” ucap Amber mengoreksi, ia pun tersenyum kaku pada Carl yang kini mulai tersenyum setuju. Mereka pun berbincang kembali dengan menyenangkan, pintu terbuka menampilkan Agatha yang baru masuk ke dalam kamar.
“Aku datang untuk menjenguk cucu ku,” ucap Agatha ceria. Namun Richard datang terlebih dahulu dan mencium pipi Agatha.
“Mom? Bukankah kau bilang akan pergi bersama teman-teman mu?” tanya Richard bingung. Pagi tadi saat Richard dan Alicia menawari berangkat bersama Agatha menolak bahkan sudah bersiap akan pergi bersama teman-temannya.
Agatha menggelengkan kepalanya. “Rencana itu aku undur, aku lebih merindukan cucu ku,” kekeh Agatha.
***