
Alicia menatap kosong kearah Carl yang masih berbaring tak sadarkan diri diatas ranjang, Richard mengusap pelan punggung tangan Alicia. "Besok Carl akan pulih," ucap Richard menenangkan. Alicia terisak pelan, ia menggelengkan kepalanya.
Richard memeluk Alicia, jelas kata-kata itu hanyalah sebuah penenang disaat dokter sudah mengatakan ada pendarahan otak di kepala Carl juga patah tulang di kaki Carl yang terhimpit antara kursi dan bagian stir. 'Patah tulang yang di alami pasien cukup serius, kecil kemungkinan untuk bisa berjalan dengan normal.' Kata-kata itu mengiang dikepala Richard, sebagai seorang ayah ia cukup terpukul dengan kejadian ini, bisa dikatakan jika Carl akan lumpuh saat sadar nanti.
Richard menoleh kearah Ken yang duduk di sofa sambil memejamkan matanya sesekali, ia menahan kantuknya dan tetap ingin terjaga. "Pulanglah Ken, istri dan anak mu lebih membutuhkan mu, biar Mom dan Dad yang menjaga Carl," ucap Richard.
Ken menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia mengatur kembali posisi duduknya. "Tidak Dad, lebih baik Mom dan Dad makan malam terlebih dahulu, ini sudah sangat malam dan kalian terakhir makan pagi tadi, aku sedang menunggu kabar terbaru tentang Amber, saat Carl sadar nanti dia pasti akan menanyakan kabar Amber," jelas Ken.
Richard menghembuskan nafasnya pelan, ia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sofa, duduk disamping Ken sambil mengepalkan tangannya pelan. "Menurut mu Amber sengaja pergi?" Tanya Richard nyaris seperti bisikan.
"Aku tak bisa mengira akan hal itu Dad, yang aku lihat Amber sangat mencintai Carl, tapi sedikit bingung dengan CCTV yang menunjukkan Amber ikut bersama wanita itu, yang aku takutkan Amber dan Earl diculik karena wanita itu tahu siapa suami Amber—"
"Tidak Ken, yang aku takutkan ini adalah sebuah pembalasan dendam," gumam Richard, Ken yang mendengar itu sontak menoleh kearah Richard, memang terlintas dipikiran Ken akan hal itu, namun ia tak berani mengatakannya, rupanya Richard pun memikirkan hal yang sama. "Menurut Dad begini, dulu Carl pernah bercerita jika ia sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan dari Amber, dulu Carl pernah meninggalkan Amber apa itu benar?"
Ken menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, itu benar Dad, tapi aku tak pernah tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka," ucap Ken.
"Jadi menurut Dad bagaimana? Apa yang Dad rencana kan?" bisik Ken pelan, tak ingin Alicia mendengar percakapan mereka.
Richard menggelengkan kepalanya. "Hentikan saja pencariannya, hentikan pembalasan dendam ini, biarkan Amber memilih jalan hidupnya, Dad ingin melihat Carl bahagia dengan wanita yang tulus mencintainya," ucap Richard terdengar berat, namun Ken tahu ini adalah pilihan paling bijak seorang ayah untuk anaknya. Ken pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Sekarang kau pulang, Valerie masih harus banyak istirahat setelah melahirkan, kau harus berada disisinya setiap waktu," ucap Richard kemudian, ia kembali bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Alicia kembali.
_
Sementara disana, Amber menangis dalam diam, ia memeluk Earl yang sudah tertidur. Perkataan Sean masih terngiang di pikiran Amber, ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang. 'Jika kau kembali apa keluarga Carl masih akan menerima mu? Kau akan dibenci karena sudah membuat Carl kecelakaan Amber, diam saja disini, karena akan sia-sia jika kau kembali kesana.'
Isak tangis Amber mulai terdengar memilukan, ia terlalu pengecut untuk kembali ke Los Angeles, ia tidak bisa menampakkan dirinya kembali dihadapan keluarga Carl yang sudah sangat kecewa padanya.
Amber melepaskan pelukan pada tubuh mungil Earl, ia turun dari ranjang dan membuka pintu kamar yang terhubung pada balkon. Amber menghapus air matanya, suara deburan ombak di malam hari begitu terdengar dibalkon ini, menciptakan suasana yang mendukung untuk Amber mengeluarkan tangisnya.