The Story Of Amber

The Story Of Amber
Perasaan Campur Aduk



"Jadi kau mendengar berita tentang kecelakaan ku?" Tanya Carl pelan, kini mereka sudah duduk didalam kereta, saling berhadapan dan Earl disamping Amber hanya fokus pada es krim nya.


Amber menganggukkan kepalanya pelan, ia tak berani menatap Carl yang begitu dekat. Tak ada penjelasan yang harus Amber ucapkan saat ini, semuanya sudah jelas salah Amber. "Ya. Aku mendengarnya, aku cukup terkejut dan—"


"Dan kau tidak kembali pada ku? Kau hanya terkejut dan berhasil melanjutkan hidup mu?" Tanya Carl pelan, tak ada nada menyindir sedikit pun dari suara Carl, suaranya terdengar tenang dan lembut.


"Bukan seperti itu Carl, aku tak berani untuk datang kembali, aku akan diusir oleh keluarga mu dan pastinya aku akan dituduh sebagai penyebab kau celaka," lirih Amber, kerutan di wajahnya menjelaskan jika ia bingung, ia merasa tersudut dan putus asa.


Carl tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Kau takut saat kau belum mencobanya? Kau sangat yakin dengan pikiran mu saat kau tidak tahu kenyataan sebenarnya yang akan terjadi?"


"Kau tidak akan mengerti Carl, aku bingung, aku tidak memiliki banyak pilihan, aku—"


"Ini hidup mu Amber, sampai kapan kau ingin dikendalikan orang lain? Setelah aku sembuh dari lumpuh ku, aku berusaha mecari tahu tentang diri mu lagi, aku membaca semua pesan yang sudah kau hapus bersama Amanda. Aku membayar mahal agar tahu apa sebenarnya motif mu selama ini. Tapi aku kesal tak bisa melacak diri mu—" Carl terdiam sesaat, ia mencoba untuk mengendalikan emosinya yang terpancing, ia menatap bola mata Amber yang tengah menatapnya penuh kesedihan. "Carilah kebahagian mu sendiri Amber, aku tahu kau berat meninggalkan ku saat itu, tapi kau mudah terpancing dan mudah di kendalikan oleh Amanda."


"Aku tidak bisa meninggalkan Amanda, tidak bisa! Dia penyelamat hidup ku, saat kau dan keluarga ku meninggalkan ku, saat semua orang tak berada dipihak ku, hanya Amanda yang mengulurkan tangannya pada ku, hanya Amanda yang memberikan ku harapan hidup. Kau tahu betapa menderitanya aku saat bertahan hidup seorang diri di kota yang sama sekali belum pernah aku datangi?" Amber menarik nafasnya dalam, ia menghapus air mata nya dengan cepat.


"Aku sangat menyesal Amber, sudah aku katakan aku sangat menyesal dan sangat bersyukur saat kau memberikan ku kesempatan saat itu! Memang aku tak bisa menyembuhkan rasa sakit mu di masa lalu, tapi aku berharap bisa membuat mu bahagia dan menebus kesalahan ku—"


"Cukup paman, kau membuat Mommy menangis, jangan pernah memarahi Mom lagi!" Pekik Earl yang sedari tadi kebingungan dengan arah pembicaraan keduanya, Earl memeluk tangan Amber dengan erat, pandangannya menatap Carl lalu mengulurkan es krim yang tinggal separuh didalam cup plastik itu. "Cobalah ini paman, kau akan tenang dengan sebuah es krim."


Carl mengatur nafasnya, ia tak berhasil mengendalikan emosinya. Ia ingin Amber dan Earl kembali, ia ingin membawa dua orang dihadapannya ke Los Angeles sekarang juga. "Aku tidak membentak Mommy sayang, aku hanya merindukan kalian. Dan aku mencintai mu, Earl," ucap Carl melembut sambil menerima cup es krim. Entah apa yang akan ia lakukan pada es krim ini, namun apapun pemberian Earl akan sangat berarti untuk saat ini.


Earl menolehkan pandangannya pada Amber, wajah tampan dengan raut wajah bingung itu membuat Amber tersenyum di antara tangisnya. "Kau baik-baik saja Mom?" Tanya Earl pelan.


"Aku baik-baik saja sayang, tidak apa-apa, dia orang baik," jawab Amber pelan.


Carl mengepalkan tangannya pelan, ia ingin memeluk Earl dan mengatakan jika dirinya adalah ayah kandungnya. Namun tak bisa, Carl seakan tak siap dengan reaksi Earl yang akan menolaknya. Ia akui jika dirinya adalah ayah yang buruk bagi Earl. "Aku seorang aktor seperti Daddy mu," ucap Carl pelan membuat Amber menolehkan kepalanya, ia tampak terkejut dengan ucapan Carl tak langsung mengatakan jika dirinya lah ayah kandung Earl. "Dia sangat merindukan mu dan ingin memeluk mu," lanjut Carl.


"Benarkah? Kau pernah bertemu dengannya? Tolong katakan padanya paman, datanglah kerumah dan aku akan memeluknya, katakan juga jangan terus mencari uang untuk ku, aku tidak membutuhkan uang, aku membutuhkannya ada bersama kami," ucap Earl dengan begitu lancar, Earl benar-benar pandai berbicara, ia tampak lebih dewasa dari umurnya yang masih kecil.


Amber dengan mata yang masih berkaca pun tak mampu menahan tawanya, ia tertawa kecil dan memeluk Earl. "Astaga Earl," ucap Amber.


Carl yang melihat reaksi Amber pun semakin luluh, ia tersenyum sambil mengusap rambut Earl pelan. "Kau yakin tak membutuhkan uang? Kalau begitu aku akan mengatakan padanya untuk mulai fokus pada mu, apakah ada lagi yang ingin kau sampaikan?"


"Satu lagi paman, katakan pada Daddy jika Mom sangat merindukannya, seperti aku merindukan Angel," jawab Earl berhasil membuat Amber membulatkan matanya.


"Earl hentikan!" Pekik Amber syok.


"Mom sudah pasti merindukan Daddy mu sayang, siapa Angel?" Tanya Carl pelan.


Amber melirik pelan kearah Carl yang tampak fokus pada Earl, rasanya seperti mimpi dan semuanya kembali membaik seperti semula. "Angel adalah teman ku paman, dia selalu pergi dan akan kembali setiap tahun, aku selalu merindukannya," jawab Earl.


Carl terkekeh pelan, lalu suara pengumuman pemberhentian kereta mulai terdengar, Carl sudah sampai di stasiun tujuannya. Dengan berat hati Carl menarik nafasnya dalam, kini mereka harus terpisah kembali dan entah kapan bertemu kembali, Amber tampaknya sudah bahagia dengan pilihannya, apakah Carl bisa semudah itu kembali masuk dalam kehidupan Amber? "Aku harus bersiap turun, sampai bertemu kembali di lain waktu," ucap Carl berat, ia terlebih hambar pada Amber, tak adakah kesempatan untuk bersama yang nyata?


"Kau tinggal dikota ini?" Tanya Amber dengan cepat saat Carl mulai berdiri mengambil kopernya.


"Hanya seminggu, menemui keluarga Kakak ku," jawab Carl.


"Kenrich dan Valerie?"


"Ya, sekarang mereka mempunyai 2 anak."


Keheningan pun kembali tercipta, Carl mulai menggenggam pegangan kopernya dengan kuat, ia berbalik hendak membuka pintu ruangan kecil itu namun Carl menggigit dengan keras bibirnya sendiri, ia kembali berbalik dan membuka paper bagnya, ia ingat membelikan sebuah robot untuk Gerald. "Ini robot yang sedang ramai di America, semoga kau menyukainya Earl," ucap Carl. Raut wajah Earl pun tampak begitu senang dan menerima kotak berisikan robot itu dengan cepat.


"Waw! Terima kasih paman, aku sangat menyukainya," ucap Earl.


Baru saja Carl hendak membuka pintu dan menurunkan topinya lebih dalam, Amber memanggilnya. "Kau memiliki kartu nama?" Tanya Amber. Carl menolehkan pandangannya pada Amber, ia sedikit bingung dan tak percaya, namun Carl mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu nama miliknya.


~


Ken berjalan-jalan kecil ditrotoar jalan, banyak pula orang-orang yang melewatinya menyapa Gerald dan Sabrina padahal Ken yakin yang ingin mereka sapa adalah Daddynya, Ken. Pesona Ken memang tidak pernah pudar, bahkan ia merasa dirinya semakin tampan setiap tahunnya.


"Hai, astaga lucu sekali anak mu." Seorang pria yang seumuran dengan Richard menyapanya, membuat Ken berhenti dan tersenyum menjawab. Mereka beberapa kali saling melontarkan pertanyaan, hingga akhirnya ia mulai menyadari sesuatu. "Sebentar, aku sepertinya mengenal mu, kau Kenrich?" tanyanya dengan begitu antusias.


Ken menganggukkan kepalanya, ai tersenyum lebar. "Wah aku tidak menyangka bisa dikenal sampai Inggris," kekeh Ken pelan membuat mereka saling tertawa satu sama lain. Pria itu pernah melihat Ken di majalah bisnis beberapa kali.


"Maaf aku lama." Valerie muncul dari belakang Ken, mengambil Sabrina kembali.


"Pantas saja kedua anak ini begitu menarik perhatian ku. Ternyata orangtuanya begitu hebat, tampan dan cantik," pujinya. Valerie tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan lembut.


Beberapa menit kemudia, Gerald menarik tangan Ken. "Paman Carl!" pekiknya cepat, ia berlari pada Carl, setertutup apapun Carl ia akan mengetahuinya, semenjak Carl memerankan sebuah film superhero ia menyukai Carl dan ingin selalu di dekat Carl.


"Dia bertemu dengan idolanya," gumam Valerie kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Carl berjalan kearah mereka, tersenyum kecil sambil menarik koper yang diatasnya ada Gerald. "Kau membawa mainan ku?" tanyanya dengan ceria.


"Tentu saja. Tapi aku gagal mendapatkan robot yang kau mau, sebagai gantinya bagaimana jika kau bebas membeli mainan apapun yang kau mau di mall?" Tawar Carl. Gerald tak terlalu rewel akan hal itu, ia tampak setuju dan tetap memasang wajah cerianya.


Ken mengerutkan keningnya, wajah Carl tampak letih dan tidak terlalu bersemangat. "Ku kira kau merindukan kami semua," ejek Ken.


"Aku memang merindukan kalian kak," jawab Carl sambil memeluk semuanya satu-satu.


"Apa kau lelah diperjalanan?" tanya Valerie pelan.


Mereka berjalan bersama dengan santai, "Aku menemukan wanita cantik dikereta, tapi dia menolak ku." Carl mulai tersenyum kecil, membuat mereka menggelengkan kepalanya. Semenjak kecelakaan itu Carl menjadi seperti Ken, fokus pada pekerjaan dan tidak melirik wanita lain, namun sekarang, Carl mengatakan ditolak adalah suatu lelucon yang lucu. Adakah wanita yang berani menolak seorang aktor tampan seperti Carl?


"Semua akan menjauhi mu jika penampilan mu seperti buronan kabur seperti ini." Ken berkata dengan sangat jujur, bahkan terlalu jujur.


"Sayang, dukung adik mu," gumam Valerie pelan.


"Sudahlah, aku akan menunggu Sabrina tumbuh dewasa saja," kekeh Carl.


"Jaga ucapan mu atau aku akan mengembalikan mu ke LA." Ken menatap Carl dengan datar.


Carl tertawa, sedikit lega karena bisa menemukan kembali kebahagiaannya disini. Carl berjalan dengan pikiran yang mulai melayang kembali pada Amber dan Earl, untuk apa Amber meminta kartu namanya? Apakah Amber akan menghubunginya terlebih dahulu?


"Aku pun sangat, sangat, sangat mencintai mu." Kata-kata itu membuat Carl melirik kearah pasangan suami istri yang tengah bahagia, saling mengungkapkan cinta.


"Kau selalu melihat mereka seperti itu?" tanya Carl pada Gerald yang tengah asik didorong diatas koper.


"Ya, mereka selalu seperti itu," Jawabnya acuh, menikmati rasa bahagia seperti terbang diatas trotoar.


"Bersiaplah, pegang yang erat." Gerald yang langsung mengerti memeluk erat besi yang menjadi pegangan Carl, hingga saat Carl berlari, Gerald teriak dengan riang.


Mata Ken langsung membola. "Carl! Jangan sampai membuat anak ku lecet sedikit pun!" teriakannya menarik perhatian beberapa orang, mereka tersenyum dengan keseruan keluarga kecil itu.


——


Guys jangan lupa vote komen lagi ya🙌🏻 nanti ada penjelasan Amanda kenapa ngelarang Amber sama Earl.