
4 Tahun Kemudian,
Hari libur ini Amber tak mengajar dan mengisi waktu luangnya untuk membantu restoran di kota. Retoran milik Amanda dan Amber sudah banyak berubah dan bisa dibilang cukup ramai setiap harinya, kini mereka mempunyai 5 waiters, 3 chef, 1 barista dan 1 kasir.
"Earl." Amber mengambil sebuah permen yang baru diambil Earl dari toples kasir, jari telunjuknya bergerak pelan dihadapan wajah Earl. "Hari ini sudah berapa permen sayang? Kau ingin gigi mu sakit?" Tanya Amber sambil berjongkok.
Amber mengusap rambut Earl lembut, tak terasa kini Earl sudah berumur 7 tahun lebih, dan 3 bulan lagi Earl akan berulang tahun diusianya yang menginjak 8 tahun. "Tapi aku bosan Mom, aku ingin pulang," rengek Earl pelan. "Permen itu bukan untuk ku Mom, Angel akan pergi jauh lagi, aku ingin memberi permen ini," gumam Earl kemudian. Masih ingat dengan anak perempuan bernama Angel? Rupanya Angel akan mengunjungi desa setiap tahunnya selama seminggu, dan ini adalah hari terakhirnya.
"Kita harus menunggu paman Sean kembali sayang, ayo kembali duduk disana, Mom harus membantu Aunty memilih sofa baru, kau ingin ikut memilih?" Tawar Amber dengan semangat, namun Earl tetap cemberut, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagaimana jika aku tidak bertemu dengan Angel Mom? Satu tahun sangat lama untuk kami bertemu kembali, aku pasti merindukannya lagi," rengek Earl mulai kembali rewel. Amber menghela nafasnya dalam, ia berdiri dan merapikan rok sekilas.
"Astaga Earl, kau masih kecil untuk jatuh cinta," lirih Amber pelan.
Earl dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak Mom, aku sudah berjanji tidak akan berpacaran dengan Angel, kami hanya berteman. Boleh kita pulang sekarang?" Tanya Earl kembali, kali ini dengan senyuman yang penuh harap.
Gelak tawa Lussy pun terdengar, kasir yang sudah sangat akrab dengan mereka pun tak bisa menahan tawanya setelah mendengar ucapan Earl. "Sebastian Earl, kau sangat menggemaskan, boleh aku menjadi kekasih mu saat besar nanti?" Goda Lussy pada Earl.
"Sudahlah Lussy, jangan menambah kata yang akan ia ingat, aku saja tidak tahu dimana anak ku menemukan kata pacaran," ujar Amber sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf kak Lussy, aku sudah berjanji akan menjadi teman Angel sampai besar nanti dan kami akan menikah," ucap Earl dengan santai.
Amber menggelengkan kepalanya dengan panik, ia menangkup kedua pipi Earl. "Tidak ada kata menikah untuk saat ini sayang, yang harus kau tahu hanya sekolah dan bermain," ucap Amber seakan mengeja agar Earl terus mengingatnya.
"Dan membantu Aunty," tambah Earl.
Lagi-lagi Amber menarik nafasnya dalam, ia mengangguk. "Ya. Baiklah kita pulang sekarang, berpamitan dulu pada kak Lussy dan Aunty."
Terdengar sorakan gembira dari mulut Earl, ia terkekeh pelan dan berlari dengan penuh semangat kearah Amanda yang tengah duduk santai di sofa dekat jendela. "Aunty! Aku dan Mom akan pulang!" Pekik Earl, ia memeluk Amanda dengan tiba-tiba membuat Amanda yang belum siap menatap Amber bingung.
"Anak ku yang masih kecil ini harus menemui temannya, kami pulang, sampai bertemu di rumah," pamit Amber sambil mengambil tas dan jaketnya. Ia mengacak pelan rambut Earl dengan gemas lalu memeluk Amanda sekilas.
"Tapi ini masih terlalu siang, kau sudah memanggil Sean untuk menjemput?" Tanya Amanda.
Amber menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku dan Earl akan menggunakan kereta," jawab Amber.
Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam sebuah taxi yang akan mengantar mereka menuju stasiun, selama diperjalanan Amber hanya menatap Earl yang tengah sibuk dengan 5 permen ditangannya, ia menggerakkan permen tersebut dengan pelan. "Jadi tidak ada permen yang kau makan sejak tadi sayang?" Tanya Amber.
"Tidak Mom," jawab Earl.
"Bagus, jangan terlalu banyak makan yang manis, kau akan menangis lagi seperti tahun lalu dan kehilangan gigi mu," kekeh Amber.
"Mengapa tidak roti saja?" Tanya Amber.
"Roti tidak dingin," jawab Earl polos.
Amber tertawa kecil, ia mengusap rambut Earl pelan. "Kau memang pandai menjawab segala pertanyaan, tunggulah disini, mom akan membelikannya," ujar Amber.
Ia berjalan memesan sebuah es krim vanila berukuran sedang lalu membayarnya. Kakinya sedikit merapat saat panggilan alam mulai ia rasakan. Dengan cepat Amber berjalan kearah Earl, "Sayang, ini es krim mu, jangan pergi kemana-mana, mom ke toilet sebentar oke?"
"Oke Mom, aku akan mengunggu disini."
"Jika nomor ini dipanggil, kau kesana, dan berikan uang ini, beli 2 tiket." Earl hanya menganggukkan kepalanya saat Amber memberikan sebuah kertas bertuliskan angka.
~
Dengan pakaian yang sangat tertutup dan topi serta kacamata yang Carl kenakan, membuatnya lebih leluasa kemanapun sendirian, tanpa takut satu orangpun mengenalinya. Dan kini, ia sedang menginjakkan kakinya di sebuah stasiun kereta bawah tanah, atau lebih dikenal London Underground. "Hallo kak, aku merindukan Gerald dan Sabrina," ujar Carl dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam saku celana dan satu tangan lagi memegang ponselnya. Terdengar suara Kenrich yang mulai berdebat saat mengetahui Carl sudah berada di London tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Setelah percakapan singkat itu selesai, mata Carl tidak bisa teralihkan pada seorang anak yang memiliki wajah begitu tampan, pakaian yang tampak kekinian membuat anak itu tampak seperti model. "Hai anak kecil, mengapa kau sendirian? Dimana ibu mu?" anak laki-laki itu tampak tersenyum menatap Carl, sedangkan tangannya memegang sebuah eskrim yang sekali-kali ia jilat diruangan ber AC ini.
"Mommy sedang ke toilet, dan aku harus mengunggu disini agar antrian kami tidak terlewat," jawaban yang cukup sopan dari seorang anak berumur sekitar 7-8 tahun yang lagi-lagi menjilat es krimnya. "Paman mengapa sendirian?" Tanya anak kecil itu balik, membuat Carl terkekeh pelan.
"Aku sudah dewasa, aku bebas kemanapun sendirian. Oh ya, Mommy mu tidak takut meninggalkan mu sendirian disini? Bagaimana jika kau diculik?"
Anak itu tampak tenang dan menaikan alisnya, "Tenang saja paman, Mom ku mengatakan jika aku adalah anak yang mahal, pengeluaran untuk ku sangat special, bahkan ayahku saja sedang pergi bekerja mencari uang yang banyak. Kau tahu? Dia seorang aktor," bisik anak itu pelan diakhir kalimatnya. "Jadi, tidak akan ada yang berani menculik ku, mereka semua akan memikir dua kali untuk itu."
Tawa Carl meledak, anak itu rupanya pintar bercanda. "Waw, kau anak seorang aktor rupanya? Siapa nama ayah mu? Siapa tahu aku mengenalnya."
Bukannya menjawab, anak itu tampak terdiam dan mengangkat bahunya, kembali asik dengan es krim yang ia pegang. "Mom tidak pernah memberitahu ku, Mom takut aku mengganggu ayah bekerja, bahkan aku selalu dibatasi setiap menonton televisi, selalu kartun yang boleh aku lihat," jawaban itu membuat Carl bingung. Namun, saat seorang wanita menghampiri mereka, semuanya terjawab, jantungnya seakan berhenti danĀ amarah yang ingin meledak membuatnya sesak seketika.
"Earl, apakah nomor kita sudah dipanggil?" suara itu! Wanita yang selama ini ia cari ada dihadapannya, seorang istri yang tiba-tiba saja pergi membawa anak mereka yang saat itu baru sembuh dari penyakitnya. Kebocoran jantung. Ya, pantas saja anak ini menyebut dirinya anak mahal, Carl sekarang mengerti.
"Dua lagi Mom," Earl tampak tersenyum pada Amber, mereka begitu saling menyayangi, memeluk satu sama lain dan Carl baru menyadari sesuatu, warna rambut Amber berubah menjadi coklat, lebih cantik dan dewasa seperti dulu.
"Amber, kau masih mengenal ku?" tanya Carl dengan suara berat, menahan diri untuk tidak menarik wanita itu dan meminta penjelasan dengan keputusan gila yang selama ini menyiksanya. Amber tampak belum menyadari, ia menatap bingung pada Carl. Dengan mengeraskan rahang, Carl membuka topi dan kaca matanya, tidak memperdulikan banyaknya orang ditempat ini yang akan mengenalinya.
Wajah Amber seketika memucat. "Kau-" Amber menarik Earl dengan cepat, merapatkan Earl pada Amber, ini tidak mungkin! Ia sudah menjauhi Los Angeles bahkan keluar dari Amerika! Untuk apa seorang aktor terkenal seperti Carl di stasiun seperti ini? Bagaimana keadaannya sejak berita kecelakaan itu?
~
Cerita bagian ini kan yang kalian tunggu?