The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 30



Sesampainya di London mereka masuk ke dalam sebuah rumah berukuran sedang dengan warna dinding yang dominan putih. Amber memeluk Earl sedikit kencang ketika udara dingin menerpa, "Sepertinya AC terlalu dingin," ucap Amber. Carl menganggukan setuju dan mengubah suhu ruangan.


"Cukup?" tanya Carl.


"Cukup, dimana letak kamar kita?" tanya Amber. Dia mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut ruangan yang begitu rapi dilengkapi dengan guci tinggi berbentuk unik.


"Disana, sepertinya jagoan kita sedang mengantuk," ucap Carl. Ia mengambil Earl dari pelukan Amber. "Ini adalah rumah milik Mr. Harry, saat tahu aku akan ke London, dia langsung menawari ku rumah ini alih-alih menawari hotel seperti yang lainnya," kekeh Carl.


Amber yang berjalan di samping Carl menoleh pelan, "Mengapa bisa seperti itu?" tanya Amber bingung, mengapa Carl begitu dibedakan?


"Karena aku memberitahu akan membawa kau dan juga Earl," jawab Carl santai.


"Kau memberitahu orang lain tentang Earl?" tanya Amber dengan cepat, ia sedikit terkejut dengan itu.


"Ya, tentu saja. Earl anak ku, untuk apa aku menyembunyikan nya," kekeh Carl.


Amber menghela nafasnya pelan. "Carl, bukannya kita sudah membahas ini," lirih Amber.


Carl tertawa kecil, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tenang sayang ku, aku hanya memberitahu beberapa teman ku, yang membahayakan adalah jika media tahu, Earl akan tetap aman sayang, percayalah."


Amber terdiam, ia tak banyak bicara kembali, yang menjadi khawatir Amber ketika semua orang tahu mengenai Amber dan Earl adalah jika saat mereka pergi beberapa fans Carl akan mengenali mereka, dan Amber sangat tidak ingin itu terjadi. Namun entahlah, Amber sendiri masih ragu untuk pergi dari Carl.


Mereka masuk ke dalam kamar, Amber memeriksa lemari dan kamar mandi yang ada disana. Semuanya tampak bersih dan terawat, yang Amber tahu jika rumah ini memang memiliki dua penjaga rumah yang selalu bergantian berjaga dan dua pelayan rumah. "Besok pagi kita akan bertemu dengan pengasuh Earl, malam ini kita akan menghabiskan waktu dimana?" tanya Carl.


Amber mengangkat bahunya pelan, ia tidak memiliki tujuan apapun kemari selain menemani Carl. "Aku tidak tahu banyak tempat menarik disini Carl," jawab Amber.


"Ma!" teriakan Earl yang cukup keras membuat Amber dan Carl terkejut, Earl seakan meronta ingin di bebaskan dari pelukan Carl.


"Hai, ada apa sayang? kau ingin bermain?" tanya Carl. Ia pun menyimpan Earl di atas ranjang.


Amber menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, dia selalu rewel jika sedang lapar, aku akan membuat kan makanannya terlebih dahulu," ucap Amber. Ia keluar dari dalam kamar, berjalan mencari dapur dan menemukan seorang wanita yang tadi menyambutnya tengah merapikan makanan yang ada di kulkas. Semuanya seakan dipersiapkan dengan sangat baik, buah, sayur dan juga daging terlihat begitu segar ditata rapi didalam kulkas.


"Selama sore Nyonya, kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan ramah


Amber tersenyum dengan lembut, "Ya, aku ingin membuatkan makanan untuk anak ku, boleh aku meminjam dapur ini?" kekeh Amber.


Pelayan tersebut menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Biar aku yang membuatkannya Nyonya, kau tunggu saja di kamar mu, aku akan mengantarkannya jika sudah selesai. Anak mu yang tampan menyukai apa? sayur atau daging?" tanyanya ramah.


"Sayur saja, kami akan makan malam diluar, aku takut Earl terlalu kenyang jika memakan daging," kekeh Amber. "Sebelumnya terima kasih," ucap Amber sebelum berlalu.


Getaran di ponselnya membuat Amber membuka sebuah pesan masuk. Keningnya sedikit berkerut melihat sebuah nomor tak dikenal masuk. Sebenarnya siapa yang menyebarkan nomor baru Amber? Nomor ini berbeda dengan nomor Sean tadi siang. [Amber, Daddy senang mendengar Earl sudah bisa keluar dari rumah sakit, maaf Dad dan Mom tidak bisa datang ke Los Angeles.]


Amber menghela nafasnya pelan, apalagi ini? ia mematikan ponselnya dan melanjutkan perjalanan menuju kamar. Ia sudah tidak perlu perhatian palsu seperti itu, sudah cukup masalalu yang hadir. Amber sudah cukup muak melihat sikap asli mereka, tidak perlu sikap manis untuk memperbaiki semuanya, karena semua itu sudah sangat terlambat. "Astaga Carl!" pekik Amber saat melihat kedua koper di buka, satu koper di tumpuki beberapa baju dan satu koper terlihat kosong hanya berisikan Earl didalamnya yang tengah tertawa dengan sebuah kacamata di tangannya. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Amber.


Carl menoleh dan hanya tersenyum, "Aku dan Earl bosan, aku sedang mengajarkan Earl menjadi model," kekeh Carl, ia kambali mengarahkan kamera ponselnya pada Earl yang tampak asik memainkan kacamata.


"Baru sebentar aku meninggalkan kalian sudah seperti ini, bagaimana jika aku meninggalkan kalian lama?" gumam Amber sambil menggelengkan kepalanya.


Carl tertawa kecil mendengar itu, "Oleh sebab itu jangan pernah meninggalkan kami berdua," jawab Carl yang tanpa sadar membuat Amber merasa tertampar.